Aula Lantai 4 SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) menjadi pusat pembelajaran bagi seluruh guru dan pegawai pada Rabu (10/12/2025).
Kegiatan Upgrading Guru dan Pegawai SDMM kali ini mengusung tema “Profesionalisme Kerja dan Manajemen Keluarga,” menghadirkan narasumber Drs. Najib Sulhan, MA., seorang pendidik berpengalaman yang telah lama berkecimpung dalam pengembangan mutu sekolah dan guru.
Kepala sekolah SDMM, Athiq Amiliyah, dalam sambutannya menegaskan pentingnya keseimbangan peran sebagai pendidik dan sebagai anggota keluarga.
“Tema ini sangat relevan dengan tantangan kita sebagai pendidik. Di satu sisi, kita dituntut untuk bekerja secara profesional, memberikan layanan terbaik, menghadirkan pembelajaran yang bermutu, dan menjaga marwah sekolah sebagai lembaga pendidikan unggulan. Di sisi lain, kita memiliki amanah keluarga yang juga menuntut perhatian, kasih sayang, dan kepemimpinan yang baik,” ujarnya.
Acara upgrading dibuka dengan pemahaman tentang pentingnya rasa syukur dan jujur sebagai pondasi menjalani kehidupan. Najib menegaskan bahwa kunci profesionalisme dimulai dari motivasi dan cara pandang seseorang terhadap pekerjaannya.
Ia menyebut profesi guru sebagai pekerjaan paling menguntungkan karena memungkinkan seseorang meraih tiga amal jariyah sekaligus: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang sholeh.
“Dengan investasi abadi ini, guru sebenarnya sedang memudahkan jalannya menuju akhirat,” ungkapnya.
Pekerjaan Mulia
Peraih penghargaan guru berprestasi tingkat nasional tahun 2015 itu juga mengingatkan bahwa profesi guru adalah pekerjaan mulia yang derajatnya ditinggikan oleh Allah. Banyak ayat Al-Qur’an, ujarnya, yang menggambarkan betapa terhormatnya kedudukan seorang guru.
Mantan Kepala SD Al Azhar Kelapa Gading Surabaya itu menegaskan bahwa guru harus selalu mendahulukan adab atas ilmu, mengingat tugas mereka mencakup peran sebagai murobbi, muaddib, muallim, mudarris, hingga muballigh—peran yang tidak dapat digantikan oleh siapa pun.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, Najib menekankan bahwa pekerjaan guru tetap tak tergantikan.
“Di zaman modern yang serba canggih, semua pekerjaan bisa digantikan AI, kecuali guru. Pendidikan akhlak tidak bisa diberikan oleh teknologi, tetapi oleh guru yang memberi teladan,” jelasnya.
Pendidikan Abad 21
Dalam materinya, Najib turut memaparkan kerangka pendidikan abad 21 yang sejalan dengan ajaran Rasulullah, yakni karakter, literasi, dan kompetensi. Guru profesional, menurutnya, adalah mereka yang meneladani karakter Rasulullah yang mencakup dimensi ketahanan, kemanusiaan, keilmuan, dan lingkungan.
Bila keempat dimensi ini terpenuhi, sekolah akan semakin mudah melahirkan generasi berakhlak mulia dan meraih predikat sekolah unggulan.
Selain itu, guru profesional ditandai dengan kemampuan beradaptasi—baik terhadap perubahan zaman maupun kebijakan seperti kurikulum. Guru hebat bukan hanya menerima tantangan, tetapi juga mampu menjadi pengusung perubahan.
Menutup pelatihan, alumnus Universitas Muhammadiyah Surabaya itu menyampaikan pesan tentang konsep kebahagiaan yang lahir dari pola pikir positif.
“Indahnya ketika kita respon segala sesuatu secara positif. Ketika kita berpikir positif, Allah akan menangkap pikiran positif kita dan mendatangkan sinyal-sinyal yang memudahkan jalan kita,” pesannya.
Ia juga mendorong guru dan pegawai untuk gemar menulis, karena kemampuan besar sering lahir dari apa yang tertulis.
Kegiatan upgrading ini menjadi ruang refleksi dan penguatan bagi pendidik SDMM, bukan hanya untuk meningkatkan profesionalisme, tetapi juga untuk mengokohkan peran mereka sebagai teladan dalam keluarga dan masyarakat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments