Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ustadz Bangun Samudra Ajak Umat Islam Hijrah untuk Gunakan Kalender Islam

Iklan Landscape Smamda
pwmu.co -
Ustadz Bangun Samudra dalam Pengajian Ahad Pagi di Masjid At Taqwa WSI Menganti Gresik. (Foto MN/PWMU.CO)

PWMU.CO – Mubaligh Bangun Samudra mengajak umat Islam untuk menggunakan penanggalan Hijriyah sebagai kalender dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu, menurutnya sebagai bagian dari hijrah. “Hijrah itu bukan berarti pindah tempat. Oh Muharam, hijrah pindah rumah. Tidak. Hijrah dalam Islam lebih memiliki makna perubahan. Perubahan sikap, perilaku, termasuk perubahan dalam rumah tangga,” jelasnya.

Ada 3 alasan yang dikemukakan mantan pastor yang punya nama asli Cristian itu, mengapa umat Islam harus menggunakan kelander Hijriyah. Pertama, nama-nama bulan dalam penanggalan hijriyah telah ditetapkan Allah bersamaan dengan penciptaan langit dan bumi. “Ada 4 bulan yang dimuliakan Allah. Maka Rasul tercinta Muhammad saw menguraikan dalam hadist rawahu Bukhari dalam Kitab Musnad Ahmad, Tirmidzi, dan Nasai. Empat bulan itu adalah tiga berurutan yaitu Dzulqadah, Dzulhijjah, dan Muharam serta Rajab yang diapit Jumadil Akhir dan Syaban,” ujarnya di hadapan 200 lebih jamaah Pengajian Ahad Pagi Masjid At Taqwa WSI Menganti Gresik, (8/10/17).

(BACA: Joke-Joke Seputar Muallaf Ini Bikin Jamaah Pengajian Bangun Samudra Gerr-gerran)

Hal itu, kata dia, didasarkan pada firman Allah dalam surat Attaubah ayat 36, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Menurutnya, meski telah ditetapkan Allah bersamaan dengan penciptaan alam semesta, tetapi nama bulan-bulan Hijriyah kalah populer dengan nama-nama bulan Masehi dan Jawa. “Memang Muharam kalah ngetop. Ngetopan Suro. Ada filmnya lagi: Malam 1 Suro, sing main Suzanna. Isuk dadi manten malam dadi sundelbolong,” ujarnya disambut geerrr hadirin. Gara-gara itu, lanjutnya, orang Islam takut punya gawe. “Manten takut, mantu takut, pindah rumah takut, nyunatno anak takut. Gara-gara apa? Malam 1 Suro,” kata mubaligh yang pernah menjadi pemeluk Nasrani selama 32 tahun ini.

Ustadz Bangun Samudra di depan jamaah pengajian. (Foto MN/PWMU.CO)

Padahal, menurutnya, pada bulan Muharam ini para nabi mendapatkan kesuksesan dan kemuliaan. “Contoh Nabi Adam yang dipertemukan kembali dengan Hawa di Jabal Rahmah, Muharam,” kata dia.

Selain itu, diselamatkannya Bani Israil dari kejaran Firaun dengan dibelahnya Laut Merah. “Dikembalikannya Nabi Nuh setelah air bah surut, (juga di bulan) Muharam. Nabi Yunus dikeluarkan kembali dari perut ikan paus, Muharam. Dan Nabi Isa diselematkan dari penyaliban dan digantikan Yudas, Muharam,” terang Mubalig yang pernah mempelajari berbagai kitab agama yaitu Tripitaka, Weda, Thalmut, Alkitab, dan Alquran itu.

(BACA JUGA: Kisah Pak AR Ajari Mahasiswa Cara Hadapi Kristenisasi dengan Jurus Cerdas)

Iklan Landscape UM SURABAYA

Bangun Samudra menjelaskan, kalender itu dari dulu milik kita. “Semua tidak bisa mengelak, karena sejak dulu memakainya,” ujarnya. Menurut dia, penyelewengan penggunaan kalender itu dilakukan oleh Yahudi dan Nasrani. “Setelah Nabi Muhammad saw diutus, maka Allah minta dikembalikan,” papar Ustadz Bangun.

Sayangnya, papar dia, umat Islam sendiri justru tidak akrab dengan kalender Hijriyah. Hari Minggu misalnya lebih dikenal dari pada hari Ahad. “Pada kalender kita penanggalan Masehi hurufnya besar-besar. Sementara penanggalan hijriyahnya kecil-kecil dan untuk melihatnya harus pakai suryokonto (kaca pembesar, Red),” ungkapnya.

(BACA JUGA: Hijrah Mengajarkan, Tidak Ada Jalan Buntu dalam Kehidupan Ini)

Alasan kedua, kalender Hijriyah, kata Bangun Samudra, adalah untuk penanggalan ibadah. Kewajiban puasa bagi umat Islam misalnya, jatuh pada bulan Ramadhan. Demikian juga haji yang ditetapkan bulannya pada Syawal, Dzulqadah, dan Dzulhijjah. Dua hari raya: Idul Fitri dan Idul Adha juga menggunakan bulan Hijriyah. “Puasa sunah ayyamul bidh tanggal 13,14,15 atau puasa sunah 6 hari di bulan Syawal juga menggunakan kalender Hijriyah,” jelasnya. Intinya, semua ibadah dalam Islam menggunakan penanggalan Hijriyah.

Ketiga, menurutnya, dengan menggunakan kalender Hijriyah, maka umat Islam terhindar dari upaya menyerupai (tashabbuh) dengan tradisi agama Nasrani yang menggunakan kalender Masehi.

Pengajian yang berlangsung satu jam lebih terasa singkat karena Ustdaz Bangun Samudra menyampaikan materi dengan joke-joke yang membuat ketawa hadirin. Misalnya, ketika dia mengatakan bahwa dia masuk Islam bukan karena ingin menikah. “Sorry Bro, saya menikah dulu baru 2 tahun masuk Islam. Tapi jangan ditanya kapan saya disunat,” ungkapnya disambut gerrr hadirin. (MN)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu