
Oleh: Dr Piet Hizbullah Khaidir SAg MA – Ketua STIQSI Sendangagung Lamongan, Sekretaris PDM Lamongan, Ketua Divisi Kaderisasi dan Publikasi MTT PWM Jawa Timur.
PWMU.CO – Menjelang Ramadan, sore itu udara tidak begitu terik. Meski langit diselimuti awan gelap tipis, air hujan, walau rintik pun, tak bersedia turun. Alhamdulillah, suasana cuaca seperti ini terasa sedikit lebih sejuk dari biasanya, yang seringkali menyengat.
Sementara itu, angin semilir berhembus syahdu, seakan mengiringi adzan Ashar yang sebentar lagi berkumandang dari masjid di sebuah kampung yang dikenal sebagai kota religius, terpelajar, dan menjadi basis perjuangan rakyat Indonesia pada masa meraih kemerdekaan.
Menurut kisah, masjid ini dahulu menjadi basis perjuangan rakyat, tempat pelatihan bela diri, serta penggemblengan ilmu lahir dan batin bagi masyarakat, terutama kaum muda. Para kiai, asatidz, dan seluruh pejuang berjuang tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Karena itulah, masjid ini kemudian diberi nama Masjid Al-Ikhlash.
“Untuk mengenang keikhlasan para sesepuh masjid ini,” ujar salah seorang jamaah yang terdengar menjelaskan kepada orang yang bertanya padanya.
Jam sudah menunjukkan sekitar pukul tiga sore. Sekitar lima hingga tujuh menit lagi, adzan Ashar akan berkumandang. Benar saja, tak lama setelah aku selesai mengambil air wudhu di kamar mandi kantor, suara adzan mulai terdengar dari masjid di seberang.
Belum selesai lantunan adzan berselancar di udara, aku dan teman sekantor biasanya langsung bergegas menuju masjid. Di tengah perjalanan, kami berpapasan dengan seorang ustadz muda yang bekerja di kantor sebelah. Kami pun bersama-sama bergegas menuju masjid yang tak jauh dari kantor.
Di hari yang cuacanya cukup bersahabat itu, sang ustadz muda tampak mengenakan seragam dinas kantornya. Kemeja lengan pendek dengan perpaduan warna yang apik, dilengkapi logo kantornya di bagian dada. Seakan menyesuaikan diri dengan pakaian yang dikenakannya, ia tampil sederhana, tanpa kopiah haji di kepala, juga tanpa sorban yang biasanya ia gunakan saat shalat di masjid.
Seperti biasa, usai shalat berjamaah, sang ustadz muda berdzikir. Di tengah dzikir itulah, seorang jamaah yang biasa mendengarkan ceramah-ceramahnya tampak memperhatikan sosok tersebut. Raut wajah jamaah itu seolah sedang menyelidiki siapa orang yang sedang berdzikir. Terlihat familiar, tetapi ia tidak begitu mengenalnya dengan baik. Maklum, sang jamaah hanya melihatnya dari belakang.
Hingga setelah selesai berdoa, sang ustadz muda berdiri. Saat itulah sang jamaah segera menghampirinya dengan ekspresi sedikit terkejut.
“Masyaallah, Ustadz! Ane kira siapa! Mana kopiah dan sorbannya? Tumben berpakaian anak muda banget.”
Begitulah celoteh Sulaiman, nama jamaah itu, yang disambut sang ustadz hanya dengan senyuman tanpa sepatah kata pun. Mengikuti sikap ustadz, seperti anak ayam membuntuti induknya, kami pun ikut tersenyum tanpa berkata apa-apa.





0 Tanggapan
Empty Comments