Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ustaz Mulyogiato Tegaskan Perbedaan sebagai Rahmat pada Tarawih Perdana di Masjid Al-Hidayah PRM Jatikalang

Iklan Landscape Smamda
Ustaz Mulyogiato Tegaskan Perbedaan sebagai Rahmat pada Tarawih Perdana di Masjid Al-Hidayah PRM Jatikalang
Warga Muhammadiyah dan simpatisan Pimpinan Ranting Muhammadiyah Jatikalang, Krian, Sidoarjo, menyimak kultum Tarawih perdana di Masjid Al-Hidayah Jatikalang. Foto: Basirun/PWMU.CO.
pwmu.co -

Mengawali pelaksanaan salat Tarawih di Masjid Al-Hidayah Jatikalang yang berada di lingkungan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Jatikalang, Sidoarjo, Ustaz Mulyogiato menyampaikan kultum perdana pada Selasa (17/2/2026).

Dalam tausiyahnya, ia menegaskan bahwa perbedaan pendapat merupakan rahmat yang harus disikapi dengan bijak. Menurutnya, perbedaan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan, termasuk dalam memahami persoalan keagamaan.

Masjid yang dikelola PRM Jatikalang, dengan kapasitas sekitar 200 jemaah itu dipenuhi oleh warga yang antusias mengikuti salat Tarawih perdana. Sementara itu, pemerintah saat bersamaan masih dalam proses penentuan 1 Ramadan 1447 H melalui sidang isbat.

Imam dan khatib salat Tarawih, Ustaz Mulyogiato, menyampaikan bahwa Masjid Al-Hidayah telah memastikan bahwa Rabu (18/2/2026), sebagai 1 Ramadan 1447 H.

“Alhamdulillah, Masjid Al-Hidayah telah memastikan bahwa besok sudah memasuki 1 Ramadan 1447 H,” tuturnya.

Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa perbedaan merupakan rahmat. Dalam ranah pemikiran maupun ijtihad, perbedaan sering dipahami sebagai ruang kemudahan dan fleksibilitas, selama tetap berorientasi pada pencarian kebenaran.

Rasulullah SAW tidak menyalahkan salah satu pihak dalam perbedaan yang terjadi. Di situlah letak rahmat, adanya pilihan solusi untuk berbagai situasi tanpa harus merasa berdosa.

“Hasil ijtihad para mujtahid boleh diikuti dan sah hukumnya,” imbuhnya.

Dalam ceramah dia menyitir sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad.

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌمُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلًّ فَيْهَ الشَّيَاطَيْنُ فَيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ ألْفِ شَهْرٍ

Artinya: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan para setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan.” (HR. Ahmad)

Iklan Landscape UM SURABAYA

Ustaz Mulyogiato menjelaskan bahwa apabila bulan Ramadan telah tiba, seluruh umat Islam wajib menunaikan ibadah puasa, karena Ramadan merupakan bulan yang penuh berkah.

Ia juga menambahkan bahwa pada bulan ini, Allah SWT melipatgandakan pahala setiap amal ibadah, pintu-pintu neraka ditutup rapat, dan para setan dibelenggu.

“Dan yang istimewa, terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qadar,” tegasnya.

Ustaz Mulyogiato menyampaikan bahwa ibadah puasa Ramadan diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman. Artinya, tidak semua orang Islam mampu menunaikannya dengan sempurna. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 183:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَععَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ia menegaskan bahwa panggilan dalam ayat tersebut ditujukan khusus kepada orang-orang yang beriman. Allah SWT tidak memanggil seluruh manusia, melainkan secara khusus menyapa mereka yang beriman. Bahkan, kewajiban berpuasa juga telah ditetapkan kepada umat-umat sebelum Rasulullah SAW.

“Tujuan dari puasa Ramadan ini adalah membentuk insan yang bertakwa,” ujarnya menutup kultum pada salat Tarawih perdana. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu