
PWMU.CO – Setelah viral di media sosial dunia berkat aksi menarinya yang memukau di atas perahu pacu jalur, Rayyan Arkan Dikha, bocah asal Desa Pintu Gobang Kari, Kecamatan Kuantan Tengah, akhirnya bertemu langsung dengan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, di Jakarta, Rabu (9/7/2025)
Dalam pertemuan yang berlangsung penuh kehangatan itu, Dikha tampil mengenakan busana adat Melayu Kuansing. Ia didampingi langsung oleh Bupati Kuantan Singingi (Kuansing), Dr H Suhardiman Amby MM, serta Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kuansing, Drs Azhar MM.
Kehadiran Dikha di Jakarta bukan sekadar selebrasi, melainkan simbol kuatnya daya tarik tradisi lokal Indonesia yang mampu menembus batas dunia. Aksi tari jalur yang ia lakukan, menjadi viral dengan tagar #AuraFarming, dan menyita perhatian warganet global.
Apresiasi dari Menteri Kebudayaan
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan apresiasi mendalam terhadap Dikha yang telah mengangkat budaya Kuansing ke panggung internasional, Fadli Zon juga memberikan beasiswa Rp20 juta kepada Rayyan.
Ia juga menyoroti keunikan tradisi pacu jalur yang telah berusia lebih dari satu abad. “Ini warisan budaya luar biasa. Saya akan mengusulkan tradisi pacu jalur ke UNESCO agar diakui sebagai warisan budaya tak benda dunia,” ujar Fadli Zon dalam pertemuan tersebut.
Pacu jalur merupakan tradisi lomba perahu panjang khas Kuansing yang penuh semangat kebersamaan, kerja tim, dan nilai-nilai luhur masyarakat Melayu Riau. Tradisi ini bukan sekadar olahraga, tetapi juga perayaan budaya dan spiritualitas.
Pertemuan ini menjadi momen penting, tidak hanya bagi Rayyan Arkan Dikha dan masyarakat Kuansing, tetapi juga bagi Indonesia secara keseluruhan. Viralitas yang berawal dari aksi lugu seorang anak di atas perahu telah menjadi jalan pembuka bagi diplomasi kebudayaan.
“Kami sangat bangga. Semoga ini menjadi pemicu semangat generasi muda untuk terus mencintai dan melestarikan budaya daerah,” ungkap Bupati Suhardiman.
Dengan dukungan pemerintah pusat, harapan agar pacu jalur mendunia bukan lagi angan. Semua bermula dari seorang anak yang menari dengan ceria—dan dari sana, dunia mulai menoleh ke Kuansing.
Penulis Alfain Jalaluddin Ramadlan Editor Azrohal Hasan






0 Tanggapan
Empty Comments