Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Wajah Baru Pendidikan Indonesia

Iklan Landscape Smamda
Wajah Baru Pendidikan Indonesia
Alfain Jalaluddin Ramadlan. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Alfain Jalaluddin Ramadlan Guru MTs Muhammadiyah 15 Al Mizan Lamongan, Wakil Sekretaris LSBO PDM Lamongan, dan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya
pwmu.co -

Pendidikan Indonesia memasuki fase baru yang penuh optimisme pada tahun 2024 sampai sekarang. Di bawah kepemimpinan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti M.Ed, sejumlah langkah strategis telah dilakukan untuk memperkuat fondasi pendidikan nasional.

Transformasi ini terlihat bukan hanya pada level kebijakan, tetapi juga pada realitas lapangan yang menunjukkan perubahan perlahan namun nyata. Ketika banyak wacana sering berfokus pada kekurangan pendidikan, tulisan ini mencoba menyoroti sisi positif yang tengah berkembang; apa yang telah berubah, apa yang sedang diperbaiki, dan bagaimana semua itu membentuk wajah pendidikan Indonesia yang lebih cerah.

Salah satu kabar baik yang layak diapresiasi adalah meningkatnya akses pendidikan secara signifikan. Data Kemendikdasmen menunjukkan bahwa pada September 2024, Indonesia memiliki 439.784 sekolah dari PAUD hingga SLB. Angka ini menandai perluasan layanan pendidikan yang terus berkembang setiap tahun.

Pada jenjang PAUD misalnya, terdapat penambahan 967 satuan pendidikan. Sementara itu, SMP bertambah 407 sekolah, disusul PKBM dan SKB yang bertambah 336 lembaga. Jenjang SMA mengalami pertumbuhan 163 sekolah, dan SD bertambah 130 satuan pendidikan.

Peningkatan jumlah sekolah tersebut menunjukkan perhatian serius negara dalam memperluas layanan pendidikan, terutama untuk menjangkau masyarakat di wilayah pinggiran yang sebelumnya kesulitan mengakses pendidikan yang layak.

Tidak hanya jumlah sekolah yang bertambah, angka partisipasi siswa juga menunjukkan tren yang menggembirakan. Pada tahun 2024, angka partisipasi pendidikan usia 7–12 tahun mencapai 99,19 persen, sedangkan partisipasi usia 13–15 tahun mencapai 96,17 persen. Ini berarti hampir seluruh anak Indonesia pada usia wajib belajar telah masuk sekolah.

Kondisi tersebut sekaligus membuktikan bahwa Indonesia semakin dekat mewujudkan wajib belajar yang benar-benar inklusif dan merata. Jika dikaitkan dengan meningkatnya fasilitas pendidikan, maka keduanya menjadi indikator kuat bahwa akses masyarakat terhadap pendidikan semakin terbuka dan mudah dijangkau.

Transformasi positif lainnya tampak dari kebijakan berbasis data yang mulai diterapkan secara lebih serius. Peluncuran Rapor Pendidikan 2025 menjadi tonggak penting yang menunjukkan bahwa pemerintah kini bergerak menuju sistem pendidikan berbasis bukti. Rapor Pendidikan tidak hanya sekadar alat evaluasi, tetapi menjadi sistem komprehensif yang menggabungkan hasil Asesmen Nasional 2024, Survei Lingkungan Belajar, serta data terkait mutu pendidikan lainnya.

Dengan hadirnya sistem ini, setiap sekolah dan pemerintah daerah dapat melihat secara jelas aspek mana yang sudah baik dan mana yang perlu ditingkatkan. Ini menghasilkan perencanaan pendidikan yang lebih terukur, tidak lagi berbasis asumsi, tetapi didukung oleh data yang kuat. Kebijakan berbasis data juga memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan pendidikan, dari pusat hingga daerah, sehingga setiap langkah perbaikan menjadi lebih efektif.

Sisi positif pendidikan Indonesia juga tampak pada alokasi anggaran yang semakin besar. Pada tahun anggaran 2025, pemerintah mengalokasikan Rp 724,3 triliun untuk sektor pendidikan nasional, dengan Kemendikdasmen memperoleh sekitar Rp 33,5 triliun. Anggaran tersebut ditujukan untuk memperluas akses pendidikan, meningkatkan mutu, memperbaiki sarana prasarana, memperkuat layanan pendidikan inklusif, hingga mendukung peningkatan kapasitas guru.

Besarnya anggaran ini menunjukkan keseriusan negara menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama pembangunan. Selain itu, proporsi anggaran yang disalurkan langsung ke daerah mencapai hampir setengah dari total anggaran. Ini mengindikasikan bahwa pemerataan pendidikan benar-benar menjadi fokus utama dan bukan sekadar janji politik.

Revitalisasi sekolah menjadi program penting lain yang memberikan dampak positif secara langsung kepada peserta didik. Meski tantangan infrastruktur masih besar, pemerintah menunjukkan komitmen untuk melakukan perbaikan secara bertahap namun konsisten.

Pada tahun 2025, Kemendikdasmen mulai melakukan pemetaan menyeluruh terhadap sekolah yang membutuhkan renovasi. Perbaikan ruang kelas, pengadaan perpustakaan yang layak, pembangunan sanitasi yang memadai, serta peningkatan kualitas laboratorium perlahan mulai dirasakan di berbagai daerah.

Banyak sekolah yang sebelumnya tidak layak kini bertransformasi menjadi tempat belajar yang lebih nyaman bagi siswa dan guru. Lingkungan belajar yang baik seperti ini memberikan dampak langsung pada motivasi belajar siswa dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara keseluruhan.

Selain itu, pemerataan guru juga menjadi salah satu kebijakan positif yang memberi dampak besar. Dengan pendekatan berbasis data, Kemendikdasmen dapat mengidentifikasi daerah-daerah yang kekurangan guru dan melakukan redistribusi secara lebih tepat sasaran.

Ketika mutu guru merata, maka pembelajaran di seluruh daerah, termasuk di wilayah terpencil, dapat meningkat secara signifikan. Upaya peningkatan kapasitas guru melalui pelatihan yang lebih terstruktur dan program pengembangan profesional berkelanjutan juga semakin digencarkan. Ini memastikan bahwa tenaga pendidik tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Gerakan positif tidak hanya terjadi dari sisi kebijakan, tetapi juga terlihat nyata di lapangan melalui inisiatif guru, sekolah, dan masyarakat. Banyak sekolah yang menjalankan program penguatan literasi dan numerasi sebagai bagian dari upaya bersama meningkatkan hasil belajar siswa.

Komunitas belajar guru seperti KKG dan MGMP semakin aktif berbagi praktik baik dalam pembelajaran. Sekolah-sekolah memanfaatkan modul digital dan perangkat pembelajaran berbasis teknologi secara kreatif. Di beberapa daerah, masyarakat turut terlibat melalui kegiatan gotong royong memperbaiki sarana sekolah, membangun perpustakaan kecil, hingga membuat lingkungan belajar yang lebih ramah dan nyaman. Kegiatan penguatan karakter seperti pembiasaan keagamaan, kedisiplinan, dan kerja bakti juga menjadi bagian dari wajah positif pendidikan kita hari ini.

Melihat berbagai perkembangan tersebut, wajar jika kita semakin optimistis bahwa pendidikan Indonesia sedang menuju arah yang lebih baik. Transformasi yang dilakukan pemerintah pusat melalui kebijakan berbasis data, peningkatan anggaran, pemerataan guru, serta perbaikan sarana prasarana, berpadu dengan gerakan positif dari masyarakat dan sekolah, telah membentuk wajah pendidikan yang lebih cerah, merata, dan memajukan.

Dengan momentum positif ini, pendidikan Indonesia memiliki potensi besar untuk semakin kuat di masa depan. Apabila kolaborasi antara pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat terus terjaga, maka cita-cita besar untuk memajukan kesejahteraan bangsa melalui pendidikan bukanlah sesuatu yang jauh, tetapi semakin dekat untuk diwujudkan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu