Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Wakil Ketua PDM Lamongan: Sinergi Majelis dan Ortom Kunci Kekuatan Perkaderan Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Wakil Ketua PDM Lamongan: Sinergi Majelis dan Ortom Kunci Kekuatan Perkaderan Muhammadiyah
Suasana materi Sinergitas Ortom dan Lembaga dalam acara TOT MPKSDI PDM Lamongan. (Maftuhah/PWMU.CO)
pwmu.co -

Suasana malam di Graha Umsida Trawas terasa sejuk dan penuh semangat. Para peserta Training of Trainers (TOT) Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan berkumpul menjalani sesi sesi materi ke-tigq. Di tengah kehangatan diskusi itu, hadir sosok yang dinanti; Fathurrahim Syuhadi, Wakil Ketua PDM Lamongan sekaligus Instruktur Nasional Muhammadiyah.

Dengan gaya khasnya yang santai namun bernas, Fathurrahim membuka sesi dengan satu kata kunci yang menjadi ruh materi malam itu: sinergi. Ia menegaskan bahwa keberhasilan perkaderan Muhammadiyah sangat bergantung pada kemampuan majelis, lembaga, dan ortom untuk bekerja bersama dalam satu visi.

“Kadang kita jalan sendiri-sendiri. Ada kegiatan pengkaderan, tapi tak saling tersambung. Malam ini, kita ingin menyinergikan semuanya agar semua kegiatan kaderisasi bermuara pada Persyarikatan,” ujarnya, menatap para peserta yang menyimak penuh perhatian.

Ia lalu menggambarkan perjalanan sejarah lembaga kaderisasi Muhammadiyah yang terus berevolusi. Dahulu dikenal sebagai Badan Pembinaan Angkatan Muda Muhammadiyah (BPAMM), kemudian menjadi Badan Pendidikan Kader (BPK), lalu bertransformasi menjadi Majelis Pembinaan Kader (MPK) hingga akhirnya menjadi MPKSDI seperti saat ini.

“Nama boleh berubah, tapi semangatnya tetap sama: membina manusia Muhammadiyah agar berjiwa dakwah, beramal, dan berilmu,” tegasnya.

Ketua Kwarwil HW Jatim ini juga mengingatkan bahwa setiap ortom di Muhammadiyah memiliki model perkaderan masing-masing; IPM dengan Latihan Taruna Melati, IMM dengan Darul Arqam, Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul Aisyiyah dengan Baitul Arqam dan Upgrading. Namun semua itu, ujarnya, seharusnya tidak berjalan terpisah.

“Walaupun kader IPM atau IMM sudah matang dalam pengkaderan ortom, tetap perlu melalui proses perkaderan Muhammadiyah. Ini yang sering luput. Kita harus satukan arah agar ideologi dan pemahaman gerakan tetap sejalur dengan Persyarikatan,” jelasnya.

Dalam dua tahun ke depan, Fathurrahim menegaskan, MPKSDI PDM Lamongan harus benar-benar eksis dan aktif. Sinergi, katanya, bukan sekadar jargon, tapi kerja nyata. Ia mendorong agar setiap lembaga dan majelis ikut berperan dalam pelaksanaan kegiatan kaderisasi.

 “Dulu kita mulai dengan ediopolitor, pelatihan Ideopolitor organisasi untuk guru-guru TK. Waktu itu hampir lima ribu guru sudah kita latih. Setelah itu ada upgrading untuk cabang. Sekarang waktunya kita lanjutkan lagi,” katanya penuh optimisme.

Ia pun mengajak peserta TOT untuk bergerak bersama membangkitkan kembali tradisi Baitul Arqam di tingkat ranting dan cabang. Menurutnya, sudah lama tidak ada pelatihan khusus bagi pimpinan di tingkat bawah, padahal merekalah garda terdepan Persyarikatan.

UM SURABAYA

Iklan Landscape UM SURABAYA

Penulis Produktif ini menjelaskan bahwa ke depan, MPKSDI PDM Lamongan akan berkolaborasi dengan LPCRPM dalam menyelenggarakan berbagai pelatihan kader. Ia juga menyinggung pentingnya pendataan kader sebagai langkah awal pembinaan yang lebih sistematis.

“Lamongan punya banyak tempat untuk pelatihan, ada kampus Umla, Masjid Asy-Syifa, ITB AD, dan lainnya. Kalau kita mau bergerak, semuanya bisa. Narasumbernya juga tidak perlu jauh-jauh, cukup dari bapak-bapak PDM yang kita miliki,” ungkapnya disambut tawa ringan peserta.

Fathurrahim kemudian mengajak agar pelatihan tak hanya menyasar guru dan pimpinan, tetapi juga lembaga-lembaga besar di bawah Muhammadiyah, termasuk rumah sakit dan pondok pesantren. Ia mengingat masa ketika seluruh karyawan rumah sakit Muhammadiyah di Lamongan sudah pernah mengikuti upgrading.

“Sekarang mari kita hidupkan lagi. Rumah sakit, klinik, bahkan pondok-pondok besar seperti Al Mizan, Al Islah, Modern, Karangasem, dan Sedayulawas, semuanya perlu kita garap dengan pelatihan Baitul Arqam. Kalau tidak bisa, bisa dimulai dengan upgrading untuk penyegaran,” ujarnya penuh semangat.

Menurutnya, sinergi yang ideal akan terjadi jika semua pihak memiliki kesadaran bersama bahwa kaderisasi adalah tanggung jawab kolektif. Setelah ini, ia berharap para trainer TOT bisa membentuk wilayah kerja (wilker) seperti di Aisyiyah, agar program pembinaan bisa menjangkau ranting dan cabang secara lebih merata.

Menutup materinya, Fathurrahim mengingatkan kembali makna dari kegiatan TOT itu sendiri. “TOT ini bukan hanya pelatihan instruktur, tapi momentum untuk menyatukan gerak. Jika majelis, lembaga, dan ortom bersinergi, maka sistem perkaderan Muhammadiyah akan semakin kokoh dan berdaya guna,” tutupnya dengan suara mantap, disambut tepuk tangan panjang dari para peserta.

Malam itu, semangat para kader terasa menyala. Bukan hanya karena kata-kata yang membakar motivasi, tapi karena mereka merasakan satu hal yang sama: kekuatan Persyarikatan akan tumbuh ketika setiap elemen bersatu dalam satu langkah, satu arah, dan satu cita membangun kader Muhammadiyah yang tangguh, berilmu, dan beramal untuk umat dan bangsa. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu