Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Waktu Terus Berjalan, Amalan Terus Ditanya

Iklan Landscape Smamda
Waktu Terus Berjalan, Amalan Terus Ditanya
Ilustrasi: OpenAI
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Saudaraku dan sahabatku, 365 hari sepanjang tahun 2025 telah Allah izinkan kita lalui dengan beragam rasa—ada tawa, air mata, keberhasilan, kegagalan, pertemuan, dan perpisahan.

Semua itu kini telah menjadi catatan masa lalu. Dan hari ini, kita telah melangkah di hari ketiga tahun 2026, sebuah lembaran baru yang belum terisi apa pun, kecuali niat dan pilihan kita sendiri.

Salah satu nikmat terbesar yang sering luput dari rasa syukur kita adalah waktu. Ia datang tanpa suara, berjalan tanpa bisa dihentikan, dan pergi tanpa pernah menoleh kembali. Detik yang berlalu tak mungkin diulang, sekuat apa pun penyesalan yang kita rasakan.

Bayangkan seorang pedagang yang diberi modal besar, tetapi ia habiskan untuk hal sia-sia. Ketika waktu tutup toko tiba, ia baru tersadar bahwa modalnya telah habis tanpa keuntungan.

Begitulah waktu dalam hidup kita. Ia adalah modal utama kehidupan, yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini menegaskan bahwa usia bukan sekadar angka, melainkan amanah. Bukan tentang panjang atau pendeknya umur, tetapi tentang bagaimana ia diisi.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala juga berfirman: “Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian.” (QS. Al-‘Ashr: 1–2)

Kerugian itu nyata. Lihatlah betapa banyak orang yang sehat tetapi lalai, punya waktu luang namun habis untuk hiburan tanpa arah, atau sibuk seharian namun tidak mendekatkan diri kepada Allah.

Waktu subuh berlalu tanpa shalat berjamaah, pagi habis untuk gawai, sore lelah tanpa zikir, malam tertutup oleh tontonan yang menjauhkan hati dari akhirat.

Namun Allah memberi pengecualian. Tidak semua manusia rugi. Mereka yang selamat adalah orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.

Lalu, bagaimana seharusnya kita mengisi waktu?

Pertama, isi waktu dengan ibadah. Salatlah tepat waktu sebelum kesibukan menguasai jiwa. Sisihkan waktu untuk membaca Al-Qur’an, meski hanya beberapa ayat, karena Al-Qur’an bukan untuk ditunggu lapang, tetapi dilapangkan untuknya. Biasakan lisan berdzikir, karena hati yang hidup adalah hati yang mengingat Allah.

Kedua, isi waktu dengan ibrah dan kebaikan. Gunakan hari-hari kita untuk belajar, mengajar, membantu sesama, menebar senyum, dan menguatkan orang lain. Ilmu dan amal saleh adalah investasi yang tidak pernah rugi, bahkan nilainya terus bertambah setelah kita wafat.

Ketiga, jauhi maksiat dan hal yang tidak bermanfaat. Banyak dosa tidak terasa berat karena dilakukan sambil rebahan: ghibah dalam obrolan, iri dalam hati, lalai dalam tontonan, dan maksiat yang dibungkus hiburan. Padahal, waktu yang hilang dalam kemaksiatan adalah kerugian ganda: hilang dunia dan terancam akhirat.

Rasulullah saw bersabda: “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)

Hidup ini singkat. Kematian tidak menunggu tua, tidak menunggu siap, dan tidak menunggu kita berubah. Hari ini kita masih diberi waktu, besok belum tentu.

Maka, sebelum datang penyesalan yang tak lagi berguna, mari manfaatkan waktu sebaik-baiknya. Isi dengan ibadah, ambil pelajaran dari setiap peristiwa, dan jaga diri dari maksiat. Semoga ketika waktu kita habis, ia habis dalam keadaan diridhai Allah. Aamiin. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu