Sangat penting untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin dalam hidup, karena kehidupan di dunia ini adalah bekal untuk hidup selamanya di akhirat.
Harapannya dapat meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Dalam tasawuf, waktu dipandang sebagai momen berharga —yaitu saat ini— yang harus diisi penuh dengan kesadaran akan Allah (makrifatullah) dan amal saleh, bukan sekadar urutan kronologis masa lalu dan masa depan.
Beberapa pandangan sufistik bahkan menganggap ‘waktu adalah Allah’, dalam artian waktu sepenuhnya berada di bawah kendali-Nya serta merupakan manifestasi dari kehendak ilahi.
Al-Qur’an maupun as-Sunnah, ungkapan syair-syair dan lagu sering mengingatkan kita bahwa begitu berharganya waktu kita di alam dunia ini.
Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
“Demi masa, sesungguhnya manusia benar benar berada dalam kerugian, kecuali orang orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasehati dalam hal kebajikan dan kesabaran” (QS. Al ‘Ashr 1-3).
Sumpah Allah dengan “masa” (Al’ashr), menunjukkan betapa agungnya waktu tersebut.
Allah menciptakan manusia dengan suatu tujuan yang jelas, bukan tanpa arah.
Tujuan utama tersebut mencakup beribadah kepada-Nya, berbuat baik di dunia, serta menjaga dan melestarikan bumi dengan baik, menjauhi segala tingkah laku yang merusak.
Meskipun manusia tercipta dari tanah, justru manusialah yang diangkat Allah sebagai pemimpin (khalifah) di bumi.
Posisi ini tidak diberikan kepada malaikat, makhluk yang tercipta dari cahaya dengan ketaatan yang monoton, dan bukan pula kepada jin, makhluk yang lebih tua dari manusia yang tercipta dari api.
Sayangnya, hiruk pikuk dan kesibukan dunia kerap membuat manusia lupa akan tujuan utamanya.
Kumandang azan bahkan seringkali hanya dianggap gema suara yang berlalu begitu saja, tanpa diindahkan, hingga waktu salat habis terlewat.
Padahal, Allah dengan tegas berfirman di dalam Surat An-Nisa’ ayat 103: “Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.
Manusia sibuk dengan dunianya masing-masing: pekerja kantoran dikejar tenggat waktu (deadline), petani dikejar masa panen, pedagang sibuk melayani pelanggan (customer), dan ibu rumah tangga dikejar tumpukan pekerjaan rumah yang terasa tiada habisnya.
Padahal sesungguhnya Allah menciptakan waktu —siang dan malam— agar manusia dapat memanfaatkannya untuk beribadah, bekerja dan bersyukur.
وَمِنْ رَّحْمَتِهٖ جَعَلَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوْا فِيْهِ وَلِتَبْتَغُوْا مِنْ فَضْلِهٖ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, agar kamu beristirahat pada malam hari dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (QS. Al-Qashash:73).
Waktu adalah amanah
Dari Ibnu Abbas RA., Rasulullah SAW bersabda :
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua nikmat yang banyak manusia lalai darinya, yaitu kesehatan dan waktu luang” (HR. Bukhari, No. 6412).
Hadis ini mengingatkan manusia agar tidak menyia-nyiakan waktu luang yang sudah diberikan oleh Allah.
Kesehatan dan waktu luang adalah amanah Allah yang wajib kita jaga dan manfaatkan dengan baik, selaras dengan esensi penciptaan manusia.
Kita diciptakan bukan sekadar untuk meramaikan dunia lalu mengabaikan urusan akhirat.
Terlebih lagi, bukan untuk menuruti eksistensi media sosial yang tiada habisnya, membuat konten yang berpotensi menciptakan dosa jariyah dan menjerumuskan diri sebagai penghuni neraka.
Di era digitalisasi ini, daripada mengeksplorasi konten yang tidak bermakna atau ‘konten sampah’, akan lebih baik jika kita menjadikan media sosial sebagai sarana untuk berdakwah secara lisan maupun tulisan.
Analogi sederhananya, seperti tanaman yang membutuhkan air untuk penyegaran, manusia juga membutuhkan siraman rohani sebagai penenang jiwa yang tandus.
Konsep waktu hanya relevan bagi manusia yang masih menginjakkan kaki di alam dunia.
Saat malaikat maut (Izrail) mencabut nyawa, berakhirlah waktu dan kesempatan berbuat baik, menyebabkan terputusnya seluruh catatan amalan dunia.
Sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Ibnu Abbas RA, penting untuk memanfaatkan lima perkara sebelum datangnya lima perkara:
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
Artinya: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara, waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan hidupmu sebelum datang matimu.” (HR Al Hakim dalam Al Mustadrak-nya).
Lihatlah mereka yang sudah habis waktunya
Matanya pancarkan penyesalan selamanya
Atas apa yang di perbuat di dunia
Tanpa bisa menoleh memperbaikinya
Ketika masih muda dan gagah
Semua bisa di lakukan seolah dunia dalam genggamannya
Saat masa tua menjelma, kekuatan tak lagi sama
Dunia ini fana, akhiratlah yang baqa
Menapaki waktu tanpa bekal
Yang ada hanya rasa sesal
Semua akan nyata
Saat maut memghampirinya
Namun tak ada daya, tak ada kuasa
Menggerakkan waktu walau semilidetik
Waktu itu unik, dia tidak hidup
Namun mengendalikan yang hidup
Waktu seperti bilah pedang
Apabila tak bisa menebas, dia akan ketebas
Allahlah penggenggam waktu
Penguasa alam semesta
Hanya kepadaNya makhluk menyembah
Selagi manusia masih bernyawa kesempatan sehat dan waktu luang masih ada perbanyaklah berbuat makruf, ciptakan amal baik sebagai bekal di alam keabadian agar tidak ada penyesalan.***






0 Tanggapan
Empty Comments