
Butuh Proses
Afi menyampaikan, untuk mengubah anak, butuh waktu dan proses. Dia menceritakan ketika selama enam tahun membersamai salah satu siswanya dengan karakteristik spesial. “Sosialisasi yang jelek, pelajaran nggak bisa, mencuri,” paparnya.
Hampir enam tahun dia berpikir bagaimana mengondisikan siswa itu. “Kenapa nggak dikeluarkan saja dari sekolah?” Protes wali siswa lainnya selama hampir enam tahun juga.
Dalam hati, Afi menangis dan membatin mendengar protes itu, “Ya Allah, siapa yang mau diberi anak seperti itu?” Orangtuanya pun mengeluhkan anaknya dicap nakal sehingga Afi meminta mereka bersabar.
Setelah Afi mencari tahu, ternyata, ada sesuatu yang terjadi dalam keluarganya. Ketika anak melakukan salah, sang ayah langsung memukulnya. Ini terbawa sampai di sekolah. Ketika siswa tersebut ingin mengingatkan temannya yang salah, dia justru bertindak impulsif hingga kepala temannya bocor.
Pada suatu kesempatan, Afi bertemu dengan sang ayah dan menceritakan perilaku anaknya di sekolah hari itu. Lalu, dia meminta ayahnya untuk bertanya saja apa yang terjadi di sekolah. Dengan catatan, tanpa memarahi anaknya.
Keesokan harinya ketika sang anak datang, Afi mengonfirmasi apakah siswa sudah bercerita ke ayahnya. “Dipukul ayah?” tanya dia. Muridnya menjawab tidak. Afi lega dan bersyukur wali siswanya mampu menahan emosi dan mengikuti anjurannya. Hal ini terus dia upayakan sebagai proses mengondisikan siswa dan orangtua.
Temukan Kekuatan dan Minat Anak
Kisah lain, ada siswanya yang ketika tidak suka menyimak pelajaran tertentu, langsung keluar kelas begitu saja. Kemampuan bahasanya juga terbatas. Tapi beberapa tahun kemudian, Afi tahu kalau dia suka membongkar-pasang alat elektronik. Remot AC selalu jadi sasaran ‘kreativitasnya’.
Memahami minat sang anak, Afi meminta si ibu membelikan komputer bekas untuk memfasilitasi minat anak dalam merakit alat elektronik. Tepat, sang anak bisa merakit komputer bekas itu. Meski dengan kemampuan berbahasa yang cukup terbatas, kata Afi, kini dia mampu bersekolah di SMK ternama dengan keterampilan merakitnya yang luar biasa itu.
Akhirnya, ketika sampai di sesi diskusi, para walas berebut curhat sekaligus membedah kasus-kasus spesial di kelasnya maupun di kelas lain yang pernah mereka temui. Salah satunya, Agnes Yulita Sari SPd. Dia menceritakan kasus serupa, yaitu pernah menemui siswa yang pandai dalam bidang tertentu, namun selalu enggan mengikuti pelajaran lainnya.
Setelah ditelusuri, ternyata sang wali kelas telah menemukan kekuatan siswanya, yaitu dalam bidang visual. Maka, Afi menyarankan agar Agnes dan guru pengajar lainnya fokus mendayagunakan kekuatan visual siswa tersebut dalam proses pembelajaran.
Wali kelas lainnya, Zaitun Nailiyah SPd mengaku lega setelah ikut curhat di sesi diskusi itu. Senyum lebar tergambar di wajahnya. Dia berharap, kegiatan serupa lebih sering diselenggarakan. “Biar kita bisa saling sharing kayak tadi,” ungkapnya. (*)
Editor Mohammad Nurfatoni






0 Tanggapan
Empty Comments