Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa Program Revitalisasi Sekolah tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat melalui pelibatan aktif warga lokal dalam proses swakelola.
Pernyataan tersebut disampaikan saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis Pendampingan Percepatan Pelaksanaan Bantuan Pemerintah Program Revitalisasi SMA Tahun 2025 Tahap XIII dan XIV yang digelar Direktorat Sekolah Menengah Atas (SMA) di Tangerang dan Cibinong, Selasa-Kamis (11-13/11/2025).
Kegiatan tersebut digelar dalam rangka Pendampingan Pelaksanaan Inpres Nomor 7 Tahun 2025 yang berfokus pada percepatan pelaksanaan program revitalisasi satuan pendidikan menengah atas dan telah tersalurkannya Bantuan Pemerintah Program Revitalisasi SMA Tahun 2025,
Dalam sambutannya, ia juga mengatakan bahwa Program Revitalisasi SMA merupakan bagian dari upaya nasional untuk meningkatkan mutu pendidikan menengah sekaligus mengurangi kesenjangan antarwilayah. Melalui pendekatan padat karya, kegiatan pembangunan sekolah telah menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar.
“Berdasarkan temuan di lapangan, program ini telah memberdayakan masyarakat dan membuka lapangan kerja bagi sekitar 300 hingga 350 ribu tenaga di seluruh Indonesia,” jelasnya.
Selain memperkuat ekonomi lokal, Wamen Fajar menekankan bahwa revitalisasi juga bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan berkualitas. Ia menambahkan bahwa revitalisasi sekolah tidak hanya membangun tembok, tetapi juga membangun harapan dan masa depan.
“Sekolah harus menjadi ruang tumbuh yang sehat, baik secara fisik, psikis, sosial, maupun spiritual,” tegasnya.
Wamen Fajar juga memaparkan kemajuan digitalisasi pembelajaran sebagai bagian dari revitalisasi sekolah. Ia menambahkan bahwa hingga 10 November 2025, sudah terdistribusi 150.000 Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia, dengan target 288.000 unit pada akhir tahun.
Bahkan, lanjutnya, sekolah di Pulau Sembilan, Kalimantan Selatan yang harus ditempuh 10 jam perjalanan kapal sudah terhubung dengan Starlink dan akan menerima Papan Interaktif Digital agar anak-anak di sana mendapat akses pembelajaran setara dengan sekolah di kota besar.
Sementara itu, Direktur Sekolah Menengah Atas Kemendikdasmen, Winner Jihad Akbar, menyampaikan bahwa kegiatan pendampingan ini diikuti oleh 561 sekolah penerima Program Revitalisasi SMA Tahun 2025 dari berbagai provinsi.
Kegiatan di Tangerang ini dihadiri oleh 280 sekolah dari Kepulauan Riau, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua, sementara di Cibinong diikuti 281 sekolah dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
“Sinergi lintas pihak mulai dari sekolah, perguruan tinggi, dinas pendidikan, hingga balai penjaminan mutu menjadi kunci percepatan pembangunan dan akuntabilitas program,” kata Winner.
Kegiatan ini turut dihadiri Ketua BAN PAUD Dikdasmen,Toto Supriyatno, Widyaprada Ahli Utama, Purwadi Sutanto, bersama perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota serta Balai Penjaminan Mutu Pendidikan.
Untuk tahun 2025, Program Revitalisasi Sekolah mengalokasikan Rp16,9 triliun bagi lebih dari 16.000 sekolah di seluruh Indonesia. Pemerintah juga telah menyiapkan Rp14 triliun untuk keberlanjutan program di tahun 2026 sebagai komitmen dalam meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan dasar dan menengah.
Dukungan dan kebijakan ini mendapatkan respons positif dari masyarakat. Berdasarkan hasil survei, dari 38,5 persen masyarakat yang mengetahui Program Revitalisasi Sekolah, sebanyak 79 persen menyatakan puas atau sangat puas. Capaian ini menempatkan program tersebut sebagai salah satu Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden dengan tingkat kepuasan tertinggi.
Beberapa peserta kegiatan menyampaikan apresiasi terhadap manfaat program ini.
Kepala SMAN Binino, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, Imelda Nenad, menyampaikan apresiasinya diundang kegiatan Bimtek ini.
“Setelah mendengar sambutan Pak Wamen, saya semakin memahami makna program ini. Bagi kami di daerah tertinggal, revitalisasi sekolah adalah rahmat besar. Progres kami sudah mencapai lebih dari 50 persen dan kami optimistis selesai tepat waktu pada 15 Desember 2025,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala SMA YPPK Santo Yohanes Paulus Kepi Papua Selatan, Emanuel Paulus Metubun menjelaskan bahwa program revitalisasi dengan sistem swakelola sangat bermanfaat.
“Di sekolah kami, empat marga bergantian bekerja, masing-masing mengirim tujuh orang setiap minggu. Dampak ekonominya nyata bagi masyarakat sekitar,” tandasnya.
Kegiatan pendampingan ini diharapkan mempercepat penyelesaian revitalisasi SMA sesuai target pertengahan Desember 2025 sekaligus memastikan pelaksanaan program berjalan efektif, akuntabel, dan tepat sasaran sebagaimana amanat Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments