Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Warna Keberanian di Balik Merah Putih

Iklan Landscape Smamda
Warna Keberanian di Balik Merah Putih
pwmu.co -

Oleh: Nashrul Mu’minin,
Content Writer Yogyakarta

Setiap dalam bulan Agustus, bendera Negara Republik Indonesia “Merah Putih” terlihat berkibar dengan gagahnya di langit Nusantara, seolah menyapa pagi dengan warna yang menggetarkan hati.

Dalam bulan itu pula, anak-anak riang gembirar berlarian di lapangan, ibu-ibu pun larut dalam kesibukan mempersiapkan perlombaan, dan bapak-bapak tanpa lelah kerja bakti membersihkan lingkungan sekitar.

Suasana itu selalu mengingatkan kepada saya bahwa sesungguhnya kemerdekaan bukan sekadar perayaan tahunan. Kemerdekaan adalah nafas kehidupan bersama oleh seluruh rakyat Indonesia.

Kita sering terlena oleh keriuhan lomba-lomba ‘agustusan’ dengan tawa ceria. Di sisi lain melupakan makna sesungguhnya di balik bendera dwi warna itu.

Dari balik sorak-sorai dan semangat lomba tarik tambang, tersimpan sejarah panjang perjuangan penuh darah, air mata, dan pengorbanan yang tak terhitung.

Sosok-sosok besar seperti Soekarno, Hatta, Cut Nyak Dien, Ki Hajar Dewantara, hingga Tan Malaka pernah berdiri teguh di garis depan, menantang penjajah demi mewujudkan bangsa yang merdeka dan bermartabat.

Bung Karno pernah menyatakan, bahwa “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.” Menghargai pahlawan tidak sekadar mengibarkan bendera setiap 17 Agustus atau memasang foto para pahlawan di ruang-ruang kelas.

Tetapi harus juga dengan merawat nilai-nilai luhur yang mereka perjuangkan dan wariskan. Jika dulu mereka berjuang melawan penjajahan dengan menggunakan persenjataan tempur, kini tantangannya berupa penjajahan pikiran, teknologi, dan moral.

Di era digital ini, media sosial, globalisasi, dan teknologi kecerdasan buatan telah mengubah cara kita berinteraksi dan memperoleh informasi.

Dalam dunia yang seakan tanpa batas, kebebasan informasi justru membawa ujian besar. Apakah kita mampu memilah mana informasi yang membangun dan mana yang justru merusak?

Apakah generasi muda dapat menjaga diri dari pengaruh negatif dan tetap konsisten menjunjung nilai persatuan dan keberagaman?

Saya selalu terharu menyaksikan masyarakat yang merayakan kemerdekaan dengan semangat gotong royong yang tulus. Mereka melakukan kerja bakti membersihkan jalan kampung, mengecat gapura, dan memasang lampu hias di sepanjang jalan.

Semangat kebersamaan ini mengingatkan pada filosofi Ki Hajar Dewantara yang sangat mendalam: “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” — pemimpin harus menjadi teladan di depan, membangun semangat di tengah, dan memberi dorongan di belakang.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Berbagai perlombaan bertema “Agustusan” bukan ajang hiburan sesaat, melainkan sarana penting untuk menanamkan nilai sportivitas, kerjasama, dan solidaritas antar warga.

Karena itu, kemerdekaan tidak boleh berhenti hanya pada euforia bulan Agustus saja. Tantangan terbesar generasi sekarang adalah menjaga dan memaknai kemerdekaan secara konsisten sepanjang tahun, dalam kehidupan sehari-hari

Menurut data BPS 2023, 60,24% penduduk Indonesia masuk golongan generasi milenial dan Gen Z. Artinya, masa depan bangsa ada di pundak kita semua.

Sayangnya, literasi digital kita masih berada pada angka 3,54 dari skala 5, dan indeks membaca siswa Indonesia masih di bawah rata-rata negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Kondisi ini menjadi peringatan bahwa kebebasan yang kita miliki harus diimbangi dengan tanggung jawab untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Bagi saya, kemerdekaan di era modern ini harus bermakna kebebasan untuk belajar tanpa batas, berinovasi tanpa takut gagal, menjaga identitas dan nilai-nilai luhur bangsa, serta memberi kontribusi nyata bagi masyarakat luas.

Kebebasan yang sejati, selain soal kebebasan berbicara atau berekspresi, juga terbebaskan dari kebodohan, kemalasan, dan apatisme. Kita tidak cukup hanya bangga menjadi bangsa Indonesia, tetapi harus mampu membuktikan kepada dunia bahwa kita layak dihormati dan diperhitungkan.

Para pendahulu telah memberikan kita panggung untuk menunjukkan jati diri bangsa. Kini, giliran kita mengisinya dengan karya nyata, inovasi yang berdampak, serta sikap yang menjunjung tinggi persatuan dan kebhinekaan.

Kemerdekaan bukan sekadar Merah Putih yang berkibar di langit, melainkan merahnya keberanian dan putihnya ketulusan yang kita bawa dalam hati.

Jika setiap langkah dan keputusan diwarnai semangat itu, Indonesia unggul bukan lagi sekadar mimpi, melainkan kenyataan yang kita bangun bersama—dari gang sempit di kampung hingga panggung dunia—mewujudkan negeri yang lebih baik dan sejahtera bagi generasi mendatang.

Menjaga dan mengisi kemerdekaan dengan semangat kebersamaan, inovasi, dan integritas menjadi kunci utama membangun masa depan bangsa yang lebih maju dan berdaya saing.

Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, selain tidak hanya melestarikan warisan para pahlawan, juga menciptakan fondasi yang kokoh bagi kemajuan Indonesia.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu