PWMU.CO — Suasana pagi di SD Muhammadiyah 1 Ngadiluwih terasa berbeda dari biasanya. Sejumlah siswa tampak membawa buku catatan dan alat perekam.
Namun bukan untuk mencatat materi pelajaran, melainkan untuk meliput layaknya wartawan profesional. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pembelajaran mendalam yang memadukan teori di kelas dengan praktik langsung di lapangan.
Dalam program ini, siswa berperan sebagai wartawan cilik yang berkesempatan mewawancarai dua sosok penting di sekolah. Mereka adalah Kepala SD Muhammadiyah 1 Ngadiluwih, Moch Safi’i, dan salah satu guru inspiratif yang telah lama mengabdi di sekolah tersebut, Dina.
Kepemimpinan untuk Prestasi
Dalam sesi wawancara, Moch Safi’i memaparkan filosofi kepemimpinannya yang berorientasi pada kolaborasi, keteladanan, dan pembinaan berkelanjutan.
“Kepemimpinan di sekolah bukan hanya soal mengatur, tetapi membangun budaya positif yang membuat semua unsur—guru, siswa, dan orang tua—merasa terlibat dalam kemajuan sekolah” ujarnya.
Ia juga mengungkap berbagai capaian sekolah, mulai dari keberhasilan siswa meraih prestasi di ajang lomba tingkat kabupaten hingga inovasi dalam program literasi dan lingkungan.
“Keberhasilan ini adalah hasil kerja keras bersama seluruh warga sekolah, bukan hanya peran individu” tambahnya.
Mengajar dengan Hati
Sementara itu, Bu Dina berbagi kisah motivasinya menjadi guru. “Bagi saya, menjadi guru bukan hanya profesi, tetapi panggilan hati. Di sini saya bisa membentuk karakter, memberi inspirasi, dan melihat siswa berkembang menjadi pribadi yang lebih baik” ungkapnya sembari tersenyum.
Ia menambahkan bahwa lingkungan kerja yang nyaman, budaya sekolah yang religius, serta kebersamaan antar-guru menjadi alasan kuat dirinya bertahan dan terus bersemangat mengajar. “Kebersamaan ini membuat setiap hari di sekolah terasa bermakna” imbuhnya.
Program wawancara ini tidak hanya terancang untuk melatih keterampilan komunikasi siswa. Tetapi juga untuk mengajarkan etika jurnalistik, keberanian berbicara di depan umum, dan kemampuan menyusun informasi.
Siswa belajar bagaimana menggali data, mengajukan pertanyaan tepat, dan menyampaikan hasil liputan dengan runtut.
Dengan metode ini, pembelajaran tidak berhenti di ruang kelas, tetapi langsung teraplikasikan dalam konteks dunia nyata.
Harapannya, program wartawan cilik ini menjadi awal tradisi liputan dan publikasi siswa yang dapat memperkaya budaya literasi sekolah serta menumbuhkan rasa percaya diri generasi muda SD Muhammadiyah 1 Ngadiluwih.






0 Tanggapan
Empty Comments