SD Muhammadiyah 18 Surabaya (SDM 18) memasuki usia ke-56 tahun. Beragam kegiatan digelar sebagai wujud rasa syukur, dengan pengajian akbar sebagai puncak peringatan milad yang menghadirkan Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA. Kegiatan bertema Transformasi Pendidikan untuk Generasi Emas ini berlangsung di Graha Sepuluh Nopember dan dihadiri seluruh siswa, wali murid, serta guru.
Selain pengajian, acara milad juga dimeriahkan berbagai penampilan seni siswa, bazar UMKM, serta lomba majalah dinding tiga dimensi karya siswa. Karya-karya tersebut dipajang di sepanjang area gedung, mulai pintu masuk hingga mendekati panggung utama.
Kepala SD Muhammadiyah 18 Surabaya, Ach. Barizi, M.Pd., yang tengah menjalankan ibadah umrah, menyampaikan pesan melalui video singkat. Program kegiatan dan capaian sekolah disampaikan dalam sambutan panitia yang diperkuat dengan berbagai prestasi nyata yang telah diraih sekolah.
Ketua PCM Mulyorejo, Najib Sulhan, dalam sambutannya menegaskan keberhasilan SD Muhammadiyah 18 dalam beberapa tahun terakhir. Ia menyebutkan bahwa setiap jenjang kelas kini telah paralel empat kelas, bahkan untuk tahun ajaran mendatang telah dibuka inden pendaftaran.
“Sebagai sekolah plus, SD Muhammadiyah 18 tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam penguatan adab dan nilai keagamaan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PDM Kota Surabaya, Dr. Moh. Ridwan, M.Pd., berpesan agar SD Muhammadiyah 18 terus memberi perhatian kepada masyarakat sekitar, khususnya dhuafa dan anak yatim. Menurutnya, mereka perlu mendapatkan layanan pendidikan berkualitas sebagai bagian dari misi dakwah dan sosial Muhammadiyah.
Dalam tausiyahnya, Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA mengapresiasi usia SD Muhammadiyah 18 yang telah mencapai 56 tahun dengan perkembangan yang semakin baik. Ia menyebut capaian tersebut sebagai nikmat Allah yang patut disyukuri. Ia kemudian mengutip Surah Adh-Dhuha ayat 11, “Wa amma bini’mati rabbika fahaddits.”
Menurut Mudir Pondok Dea Malela tersebut, kata fahaddits memiliki dua makna.
“Pertama, memberitakan atau mengabarkan. Kedua, pembaruan dan pengembangan. Artinya, capaian SD Muhammadiyah 18 perlu disampaikan kepada masyarakat, sekaligus terus dilakukan peningkatan kualitas dan inovasi pendidikan,” paparnya.
Kepada para wali murid, Din Syamsuddin mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam mendidik anak di tengah tantangan zaman. Gawai dan arus informasi yang tidak terkontrol, menurutnya, berpotensi merusak moral generasi muda.
“Ada rekayasa sistematis untuk merusak generasi, bukan dengan senjata, tetapi melalui kerusakan moral. Salah satunya lewat benda kecil bernama ponsel,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Namun, lingkungan dan pola asuh orang tua sangat menentukan arah perkembangan anak. Oleh karena itu, peran keluarga sebagai madrasatul ula tidak boleh hilang.
“Jika orang tua merasa memiliki keterbatasan, carilah sekolah yang tepat untuk mendampingi proses pendidikan anak. SD Muhammadiyah 18 adalah salah satu pilihan yang baik,” tambahnya.
Menjelang akhir tausiyah, Din Syamsuddin memperkenalkan Pondok Dea Malela di Nusa Tenggara Barat yang dipimpinnya. Meski baru berdiri sembilan tahun, pondok tersebut telah mengantarkan puluhan santri melanjutkan studi ke luar negeri, seperti Mesir, Arab Saudi, Turki, Rusia, hingga Amerika Serikat.
Sebagai penutup, ia mengajak para siswa meneriakkan yel-yel penuh motivasi, “Why not the best!”, sebagai semangat untuk menjadi pelajar unggul, berkarakter, dan berdaya saing global.





0 Tanggapan
Empty Comments