Kuliah tamu mata kuliah Kewirausahaan Program Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Umsida pada Sabtu (6/12/2025) menghadirkan Prof Dr Harsono, M.Si dari Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Melalui pertemuan daring itu, suasana perkuliahan terasa hidup dan inspiratif sejak menit pertama. Dengan latar pengalaman mengajar sejak tahun 1984, Prof Harsono mengajak mahasiswa meninjau ulang cara sekolah memahami dan mengelola kewirausahaan.
Ia membuka sesi dengan menegaskan bahwa kewirausahaan tidak bisa tumbuh hanya dari membaca teori. “Ia harus dipraktikkan,” ujarnya. Sepanjang perkuliahan, ia berulang kali menekankan bahwa wirausaha adalah proses: dicoba, diamati, diperbaiki, lalu dicoba lagi.
Dalam paparan utamanya, Prof Harsono menjelaskan bahwa studi kelayakan untuk unit usaha sekolah tidak boleh dipahami secara sempit sebagai hitungan laba. Lebih dalam dari itu, sekolah harus menilai apakah usaha tersebut memiliki kelayakan bagi diri kita sebagai pengelola, bagi anak-anak kita sebagai peserta didik, bagi masyarakat dan lingkungan sekitar kita, dan yang paling penting: bagi masa depan.
“Ini bagian dari rasa kasih sayang yang ikhlas kepada anak didik. Kita ingin mereka punya masa depan yang lebih cerah,” ungkapnya.
Ia kemudian memaparkan filosofi kewirausahaan pendidikan secara runtut namun penuh contoh yang membumi. Ia mengingatkan bahwa integritas misi harus menjadi fondasi; usaha sekolah tidak boleh melenceng dari tujuan pendidikannya.
Contoh sebuah sekolah dasar yang ingin membuka café modern membuat peserta tertawa ringan—bukan karena idenya buruk, tetapi karena sangat tidak selaras dengan dunia anak.
Sebaliknya, ia memuji sekolah yang membuka studio multimedia yang melibatkan siswa sebagai kreator konten, atau koperasi snack sehat yang dikelola sebagai proyek pembelajaran. Menurutnya, usaha seperti itu bukan hanya mendatangkan pemasukan, tetapi sekaligus menjadi laboratorium pembelajaran yang menumbuhkan karakter.
Pentingnya Keberlanjutan Wirausaha Sekolah
Prof Harsono menyampaikan bahwa usaha sekolah harus dikelola dengan amanah dan transparan, karena dana yang diolah adalah dana publik yang menyangkut reputasi lembaga. Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan serta kemitraan yang memperkuat pendidikan, bukan membebani sekolah atau mengalihkan perhatian dari tugas utamanya.
Dalam penjelasan tentang pembelajaran kewirausahaan, ia menyatakan bahwa kurikulum yang baik harus terdiri dari 40 persen teori dan 60 persen praktik.
“Tanpa praktik, siswa tidak akan memahami makna risiko, pengambilan keputusan, dan bangkit dari kesalahan,” jelasnya. Penjelasan itu membuat banyak peserta mengangguk.
Sesi diskusi berlangsung interaktif. Para mahasiswa bertanya bagaimana memulai usaha kecil yang realistis, bagaimana melibatkan siswa secara aman, dan bagaimana meyakinkan yayasan bahwa unit usaha bukan beban, melainkan investasi pendidikan. Prof Harsono menjawab dengan sabar, lengkap dengan kisah sukses dan juga kisah kegagalan yang menurutnya justru lebih banyak memberikan pelajaran.
Menjelang akhir kuliah, suasana Zoom kembali hening ketika Prof Harsono menekankan tiga hal penting yang harus dijaga oleh setiap pengelola yang ingin membangun usaha di lembaga pendidikan. Dengan nada tegas namun penuh kebijaksanaan, ia berkata:
“Dalam usaha pendidikan, jangan sampai pedagogik menjadi nomor dua. Jangan sampai keuangan sekolah terganggu. Dan jangan sampai kinerja guru menurun karena beban usaha,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan adalah inti dari keberadaan sekolah. Karena itu, usaha apa pun harus berada di luar jalur utama operasional pendidikan, bukan malah menyita energi guru atau mengambil anggaran yang seharusnya digunakan untuk proses belajar mengajar. Unit usaha harus tumbuh sebagai penopang, bukan sebagai pengganggu.
Penutup perkuliahan hadir dengan pesan yang menyentuh sisi praktis dan moral. “Kalau gaji kita sama selama lima tahun, itu artinya gaji kita turun,” ujarnya, mengingatkan pimpinan sekolah agar inovatif dan tidak terlalu nyaman dengan rutinitas.
Ia mendorong agar unit usaha dirancang dengan kelayakan yang matang sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan guru dan mutu pendidikan sekaligus. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments