Zaman sekarang, lapangan pekerjaan untuk kaum perempuan relatif sangat banyak dan beragam.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada Februari 2024 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan Indonesia mencapai 54,41%.
Prosentase tersebut tentu cukup besar, meski rentang ketimpangan partisipasi antara pekerja laki – laki dan pekerja perempuan masih cukup lebar.
Padahal, jika memakai perspektif Islam, sesungguhnya tidak ada larangan bagi kaum perempuan untuk bekerja.
Pada masa Nabi Muhammad SAW, banyak perempuan yang bekerja dan memiliki harta.
Perempuan-perempuan itu juga menafkahkan hartanya untuk keluarga (suami dan anak – anak). Termasuk juga untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas.
Tentu saja kaum perempuan yang bekerja harus cerdas mengatur waktu. Urusan rumah tangga dan urusan kerja tidak boleh berbenturan.
Kodrat utama perempuan adalah mengandung, melahirkan, dan menyusui, serta memiliki peran sosial sebagai ibu dan istri.
Jika perempuan memilih peran sebagai pencari nafkah — untuk memenuhi kebutuhan keluarga —, penting untuk menguasai prinsip work-life balance, yaitu kemampuan menyeimbangkan antara tanggung jawab pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Keseimbangan ini terwujud ketika perempuan dapat memenuhi empat komponen utama dalam hidupnya.
Pertama, kesehatan mental. Komponen ini diperoleh dari aktivitas sehari-hari yang produktif dan istirahat yang berkualitas.
Produktivitas tidak sekadar berarti sibuk, tetapi lebih pada kemampuan menyelesaikan pekerjaan sesuai target tanpa menunda-nunda.
Dengan demikian dapat menghindari waktu lembur sehingga perempuan bisa mendapatkan waktu tidur yang cukup dan berkualitas.
Kedua, kesehatan fisik. Ini didapat melalui asupan makanan bergizi dan olahraga yang teratur.
Seringkali perempuan terlalu fokus mengurus keluarga hingga mengabaikan kesehatan diri sendiri.
Padahal, tubuh yang bugar adalah kunci untuk bisa bekerja secara produktif.
Ketiga, kesehatan sosial. Keseimbangan ini tumbuh dari lingkungan sekitar, seperti interaksi positif dengan teman, keluarga, dan kolega.
Memilih bacaan yang inspiratif juga dapat mengisi pikiran dengan energi positif.
Keempat, spiritualitas. Aspek ini menjadi fondasi hidup dan panduan dalam mengambil setiap keputusan.
Dengan melibatkan Allah SWT dalam setiap langkah, perempuan memiliki pegangan yang kuat untuk menjalani peran ganda dengan lebih tenang dan bijaksana.
Pencapaian keseimbangan kerja dan hidup (work-life balance) bergantung pada kemampuan perempuan dalam mengelola keempat pilar kehidupan yang telah disebutkan.
Dengan menginternalisasi prinsip ini, perempuan akan memiliki waktu, energi, dan kesadaran diri (self-awareness) mengenai pentingnya keseimbangan tersebut.
Penerapan work-life balance secara konsisten dapat meminimalkan risiko gangguan kesehatan mental dan burnout di tempat kerja.
Perempuan yang bekerja cenderung lebih rentan mengalami gangguan kesehatan mental, seperti depresi, stres, dan kecemasan.
Hal ini dipicu oleh peran ganda yang mereka jalani sebagai pekerja dan ibu rumah tangga, serta minimnya dukungan dari lingkungan keluarga.
Oleh karena itu, kemampuan manajemen waktu menjadi sangat krusial agar peran ganda ini dapat dijalankan secara seimbang dan sehat.
Idealnya, fokus penuh diberikan pada pekerjaan saat berada di kantor dan beralih sepenuhnya ke keluarga saat berada di rumah.
Secara psikologis, beban stres kerja yang dialami oleh istri yang bekerja cenderung lebih besar dibandingkan suami.
Salah satu faktor utamanya adalah terbatasnya partisipasi suami dalam pengasuhan anak dan urusan rumah tangga.
Dalam hal ini, peran suami sangat penting untuk bersinergi dalam pembagian tugas rumah tangga guna meminimalkan risiko gangguan kesehatan mental pada perempuan.
Pengalaman pribadi sebagai ibu dengan peran ganda selama beberapa tahun terakhir menunjukkan betapa beratnya beban yang terkadang dirasakan.
Pertanyaan tentang ketepatan jalan yang dipilih pun sering kali muncul. Namun, pemahaman tentang work-life balance pada akhirnya membantu saya mengelola stres pekerjaan, menjadi lebih efektif, dan menyeimbangkan waktu.
Empat indikator yang saya terapkan antara lain rutin berolahraga setidaknya tiga kali seminggu, membaca buku setiap malam, membangun relasi positif dengan orang-orang suportif, dan yang terpenting adalah senantiasa berkomunikasi dan memperkuat hubungan dengan Allah.
Kebahagiaan seorang perempuan, terutama seorang ibu, memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mental seluruh anggota keluarga. Oleh sebab itu, sangat penting bagi perempuan untuk memahami dan mengupayakan keseimbangan antara pekerjaan dan kebahagiaan diri. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarga adalah hal yang mulia, dan idealnya, hal tersebut dilakukan tanpa mengabaikan kewajiban sebagai seorang ibu dan istri.






0 Tanggapan
Empty Comments