
PWMU.CO – Majelis Guru SMA Muhammadiyah 3 (Smamuga) Tulangan Sidoarjo menggelar workshop pembelajaran mendalam (deep learning) yang menghadirkan Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Jawa Timur, Sutris SPd, Selasa (14/7/2025). Kegiatan berlangsung di ruang meeting lantai 2 Smamuga.
Kepala Smamuga, Hartatik SPd, dalam sambutannya menekankan pentingnya transformasi digital dan implementasi deep learning sebagai strategi menghadapi tantangan pendidikan modern.
“Teknologi harus menjadi alat bantu yang mempermudah dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Melalui pelatihan ini, kita diharapkan lebih siap mengadopsi inovasi demi kemajuan pendidikan di Smamuga,” ungkapnya.
Menurutnya, workshop ini merupakan bagian dari komitmen sekolah untuk terus meningkatkan kapasitas guru sesuai dengan dinamika pembelajaran abad ke-21.
“Dengan semangat belajar, Smamuga mendorong transformasi pembelajaran yang adaptif, mendalam, dan relevan. Workshop ini menjadi langkah strategis dalam mewujudkan pendidikan yang memerdekakan dan memanusiakan,” imbuhnya.
Ia juga mengimbau seluruh guru untuk mengikuti kegiatan dengan serius dan penuh tanggung jawab.
“Penting bagi guru untuk terus beradaptasi dan berinovasi, agar mampu melahirkan generasi yang kreatif, kritis, dan mandiri sesuai semangat Kurikulum Merdeka,” ujarnya.
Sementara itu, Sutris, dalam pemaparannya menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam merupakan pengembangan dari model pembelajaran berdiferensiasi, yang menyesuaikan proses belajar dengan keragaman karakter siswa.
“Setiap anak itu unik, berbeda, dan beragam. Seperti yang dikatakan John Locke, anak lahir seperti kertas putih yang dapat dibentuk melalui pengalaman. Sementara menurut Ki Hajar Dewantara, anak sudah membawa kodrat watak turunan berupa bakat dan minat, yang perlu dituntun untuk tumbuh,” jelas Sutris, yang juga merupakan mantan guru Smamuga.
Ia menambahkan, landasan filosofis deep learning tidak lepas dari pemikiran dua tokoh besar pendidikan Indonesia yakni KH Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara.
KH Ahmad Dahlan, lanjut Sutris, menekankan pendidikan sebagai alat perubahan sosial menuju masyarakat berkemajuan, yang menumbuhkan semangat belajar gigih, berpikir benar, dan berbuat baik bagi sesama.
Sementara itu, Ki Hajar Dewantara memandang pendidikan sebagai pranata pelestarian budaya yang membahagiakan, memerdekakan, serta menjunjung sistem among dan prinsip trikon yaitu kontinuitas (berkelanjutan), konvergensi (penyatuan arah), dan konsentrisitas (fokus pada tujuan utama).
“Prinsip pendidikan juga mencakup asah, asih, dan asuh, yang berarti menumbuhkan pengetahuan, kasih sayang, dan pembinaan karakter,” imbuh Sutris.
Kerangka Deep Learning
Mengakhiri pemaparannya, Sutris menjelaskan bahwa kerangka deep learning terdiri atas pembelajaran yang bermakna, berkesadaran, menggembirakan, serta mengandung unsur aplikasi, refleksi, dan pemahaman.
Tak hanya itu, ia menyebut pembelajaran mendalam perlu mencakup praktik pedagogis, pemanfaatan lingkungan belajar yang kondusif, penggunaan teknologi digital, dan kemitraan dalam pembelajaran.
“Guru harus berfokus pada pengalaman belajar siswa yang autentik, memprioritaskan praktik nyata, serta mendorong keterampilan berpikir tingkat tinggi dan kolaborasi,” pungkasnya. (*)
Penulis Zulkifli Editor Ni’matul Faizah


0 Tanggapan
Empty Comments