Sebanyak 186 lulusan baru Program Studi Ilmu Komunikasi resmi dilepas melalui prosesi yudisium pada Selasa (12/8/2025). Jumlah ini menjadi yang terbanyak dibandingkan empat program studi lain di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang secara keseluruhan melepas 381 calon sarjana.
Dekan FISIP, Prof Dr Muslimin Machmud menyatakan semua lulusannya adalah produk dari prodi-prodi yang sudah memiliki rekognisi secara internasional.
“Saudara-saudara saat ini telah lulus dari program studi di FISIP yang seluruhnya telah terakreditasi secara internasional,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa seluruh lulusan harus lebih percaya diri dalam menghadapi masa depan dan siap bersaing di dunia kerja.
“Momen ini adalah saat kami mengembalikan saudara-saudara kepada keluarga. Maka, segeralah melangkah dengan keyakinan dan percaya diri,” lanjutnya.
Dalam kesempatan tersebut, diumumkan tiga lulusan terbaik dari prodi Ilmu Komunikasi. Mereka adalah Athilah Ramadhani, Farhan Ryffi Raditya Sidauruk, dan Triami, masing-masing sebagai lulusan terbaik pertama, kedua, dan ketiga.
Menariknya, ketiganya meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna, yakni 3,86 dan 3,85, dengan masa studi hanya 3,5 tahun.
Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi, Nasrullah, menyampaikan harapannya agar banyaknya lulusan tahun ini membawa dampak positif bagi dunia komunikasi. Ia menekankan bahwa dunia kerja di bidang ini sangat luas, sehingga kehadiran lulusan-lulusan baru Ilmu Komunikasi UMM diharapkan dapat semakin mewarnai profesi komunikasi, khususnya dalam ranah creative digital communication.
“Kekuatan alumni Komunikasi UMM ada pada keuletan dan kreativitas mereka. Ini merupakan modal yang sangat penting,” tuturnya.
Sementara itu, pelaksanaan yudisium FISIP UMM juga diwarnai dengan orasi ilmiah yang disampaikan oleh dosen Ilmu Komunikasi, Dr. Nurudin. Dalam orasinya, penulis produktif tersebut mengangkat topik seputar budaya pop Korea yang menjadi pusat perhatiannya.
“Hampir semua negara di Asia Timur pernah mengalami penjajahan, tetapi masing-masing memiliki cara tersendiri untuk bangkit kembali,” kata Nurudin membuka orasinya.
Ia mencontohkan Korea Selatan sebagai negara yang memilih jalur unik, yaitu dengan memperkuat sektor budaya, melindungi produk dalam negeri, dan secara aktif mendorong ekspor budaya ke berbagai negara.
“Ekspor paling murah adalah dengan mengirimkan pengaruh budaya ke negara lain. Itulah yang dilakukan Korea Selatan,” tambahnya.
Ia menjelaskan bahwa drama Korea, musik K-Pop, dan berbagai aspek budaya lainnya telah berhasil menembus pasar global. Dampaknya, demam K-Pop menjadi fenomena yang digemari di banyak negara, termasuk Indonesia. Efek lanjutan dari hal ini adalah semakin mudahnya produk-produk Korea, seperti elektronik, otomotif, hingga kosmetik, masuk dan diterima oleh pasar Indonesia.
Menurut Nurudin, kesuksesan Korea Selatan ini seharusnya bisa menjadi inspirasi bagi Indonesia. “Kita perlu memperkuat budaya bangsa agar dapat menjadi kekuatan ekonomi di masa depan,” tegasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments