Kondisi lingkungan di Kabupaten Gresik yang semakin memprihatinkan menjadi sorotan utama dalam Diskusi Publik bertema “Gresik Zero Emission: Tindak Tegas Korporasi Perusak Lingkungan” yang digelar Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Gresik pada Jumat (10/1/2026) di Joglo Mie Arjuna, Kedanyang, Gresik.
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang berbeda, yakni Yuyun Wahyudi (Anggota DPRD Kabupaten Gresik), Nur Akhlisun Nisa’ (Dosen Universitas Sunan Gresik), dan Azhar Romadhon (Pegiat Lingkungan Gresik). Ketiganya membedah kondisi lingkungan hidup Gresik yang dinilai telah berada pada titik krisis akibat masifnya aktivitas industri serta lemahnya pengawasan lingkungan.
Diskusi publik ini terselenggara melalui kerja sama IMM Gresik dengan kabarbaru.co. CEO Kabarbaru, Edi Junaidi, hadir langsung bersama timnya. Dalam sambutannya, ia menegaskan komitmen kabarbaru.co terhadap isu lingkungan melalui pengembangan jurnalisme hijau. Menurutnya, kepedulian tersebut tidak hanya diwujudkan dalam bentuk pemberitaan, tetapi juga melalui program dan aksi nyata di lapangan.
Sebagai kawasan industri strategis, Gresik menyimpan potensi ekonomi besar, namun juga menghadapi persoalan ekologis yang semakin mengkhawatirkan.
Di tengah pertumbuhan industri yang terus digadang sebagai motor ekonomi, masyarakat justru merasakan dampak pencemaran yang perlahan menggerus kualitas lingkungan. Situasi inilah yang melatarbelakangi terselenggaranya diskusi publik untuk membuka ruang dialog mengenai pentingnya keadilan lingkungan.
Perlindungan Lingkungan
Dalam pemaparannya, Yuyun Wahyudi menegaskan bahwa pertumbuhan industri di Gresik harus diimbangi komitmen kuat terhadap perlindungan lingkungan. Ia menilai penguatan regulasi dan pengawasan terhadap korporasi menjadi hal mendesak.
“Konsep zero emission tidak akan tercapai tanpa keberanian pemerintah menindak pelanggaran yang dilakukan industri,” ujarnya.
Sementara itu, Nur Akhlisun Nisa’ menjelaskan bahwa pencemaran udara, air, dan tanah di Gresik telah memberi dampak langsung terhadap kesehatan masyarakat. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam merumuskan kebijakan lingkungan yang berbasis data ilmiah.
Di sisi lain, Azhar Romadhon menyoroti industri berat sebagai penyumbang mayoritas polusi. “Industri semen dan petrokimia menjadi biang terbesar polusi di Gresik. Jika korporasi perusak lingkungan dibiarkan, ekosistem rusak dan kesehatan warga terancam. Tindakan tegas dan restorasi bukan pilihan, tapi keharusan,” tegasnya.
Diskusi ini juga membuka ruang dialog interaktif antara narasumber dan peserta. Berbagai kritik, aspirasi, dan harapan mengemuka sebagai bentuk kepedulian bersama terhadap masa depan lingkungan Gresik. Para peserta sepakat bahwa kondisi lingkungan yang kritis membutuhkan langkah konkret dan keberpihakan pada kelestarian alam.
Melalui diskusi publik ini, IMM Gresik berharap tercipta kesadaran kolektif dan komitmen bersama untuk mewujudkan Gresik yang berkelanjutan. Tema Gresik Zero Emission menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak boleh mengorbankan hak masyarakat atas lingkungan yang sehat dan lestari. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments