Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ziarah Masjid Putih

Iklan Landscape Smamda
Ziarah Masjid Putih
Sumber Samatar, 2022
Oleh : Dr. Anwar Hariyono, SE, M. Si, CIAP Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik
pwmu.co -

Ketika membaca judul The White Mosque (Samatar, 2022), imajenasi langsung terbang ke sebuah bangunan bercat putih yang berdiri anggun di tengah lanskap Asia Tengah.

Di sekelilingnya terbentang gurun, jalan berdebu, dan sejarah panjang tentang pertemuan antarbangsa yang jarang dibicarakan.

Sofia Samatar dalam memoar nya tidak sekedar menulis tentang sebuah bangunan, melainkan menyingkap lapisan narasi sejarah, identitas, dan spiritualitas yang saling bertaut di tempat yang disebut masyarakat setempat sebagai Ak Metchet.

Bangunan ini dulunya gereja komunitas Mennonite dari Eropa yang menetap tegas di dataran Uzbekistan pada akhir abad ke-19, yang menjadi unik adalah bentuknya yang menyerupai masjid dan cat putihnya membuat orang Khiva menyebutnya sebagai masjid putih. Di sinilah awal, sejarah lokal dan perjalanan global berkelindan menjadi satu.

Memoar Samatar adalah hasil dari perjalanan panjangnya ke Uzbekistan, sebuah perjalanan yang ia lakukan bukan karena dorongan ritual agama yang di wariskan melainkan karena dorongan untuk memahami kisah orang lain yang pada akhirnya bersentuhan dengan dirinya sendiri.

Perjalanan ini dapat disebut sebagai ziarah sekuler, sebuah upaya memasuki ruang dan waktu yang memiliki daya resonansi emosional meski tidak terkait langsung dengan tempat ibadah.

Samatar mendekati kisah ini dengan kesabaran seorang peneliti dan kepekaan seorang penyair, memadukan arsip, wawancara, dan pengamatan pribadi menjadi mozaik narasi yang hidup.

Di sepanjang buku, masjid putih berfungsi sebagai simbol ruang pertemuan budaya tempat identitas menjadi cair. Komunitas Mennonite yang membangunnya berada dalam posisi unik.

Mereka terikat warisan iman Protestan dari Jerman dan Rusia, tetapi harus bernegosiasi dengan budaya mayoritas Muslim di lingkungan mereka.

Dalam proses ini, mereka tidak kehilangan seluruh ciri uniknya, namun juga tidak menutup diri dari pengaruh sekitar.

Samatar melihat dinamika ini bukan sebagai benturan frontal, melainkan sebagai percakapan panjang yang berlangsung melalui generasi. Inilah yang membuat memoar ini sangat relevan bagi siapa saja yang pernah hidup di persimpangan identitas.

Kekuatan The White Mosque tidak hanya terletak pada tema besarnya yang diangkat, tetapi juga pada detail kecil yang memberi napas pada cerita.

Samatar menulis tentang cahaya pagi yang jatuh pada dinding putih, tentang suara langkah di jalan batu, atau tentang senyum rasa malu minder seorang penduduk desa yang bercerita.

Detail ini mengubah sejarah menjadi pengalaman yang dapat dirasakan, bukan hanya dihafalkan. Melalui fragmen-fragmen itu, pembaca dipanggil untuk menyadari bahwa sejarah bukan sekedar catatan peristiwa, tetapi juga kumpulan rasa, warna dan bunyi yang menyertai kehidupan sehari-hari.

Buku ini mampu menjadi refleksi atas konsep rumah. Bagi komunitas Mennonite yang bermigrasi, rumah bukanlah satu titik tetap di peta, tetapi sebuah ide yang dibangun di mana pun mereka bisa mempertahankan iman dan kebiasaan.

Namun, seperti yang diperlihatkan Samatar, rumah juga selalu dipengaruhi oleh tempat baru yang mereka tinggali. Arsitektur masjid putih, yang dalam beberapa hal menyerupai masjid lokal, adalah bukti adaptasi ini.

Pada saat yang sama, perubahan ini menunjukkan bahwa interaksi dengan budaya lain tidak selalu menghapus identitas awal, tetapi justru bisa memperluas pemahamannya.

Sebagai pembaca yang menulis dengan cara saya, saya merasakan bahwa memoar ini berlapis. Di permukaan, Samatar adalah kisah perjalanan penulis ke situs sejarah.

Di kisah berikutnya, Samatar adalah upaya memahami perjalanan komunitas religius dalam konteks global. Namun lebih dalam lagi, ini adalah cerita tentang diri Samatar sendiri, tentang warisan yang ia bawa sebagai anak dari ayah Somalia dan ibu Amerika, serta warna warisan itu membuatnya peka terhadap kompleksitas lintas budaya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Dengan demikian, membaca buku ini seperti mengikuti dua perjalanan sekaligus. Satu perjalanan fisik menuju Uzbekistan, dan satu lagi perjalanan batin yang menelusuri identitas pribadi Samatar.

Selain itu, The White Mosque mengajak pembaca untuk mempertimbangkan kembali gagasan tentang Ziarah. Selama ini, banyak orang menganggap ziarah sebagai aktivitas yang sepenuhnya religius.

Namun, pengalaman Samatar memperlihatkan bahwa kunjungan ke tempat-tempat dengan makna historis dan emosional juga dapat mengubah cara pandang seseorang.

Ziarah sekuler yang Samatar lakukan mengandung unsur kontemplasi, penghormatan, dan pencarian makna yang tidak kalah dalamnya dari ziarah religius.

Dalam konteks dunia modern, konsep ini menjadi relevan, karena banyak orang merasakan keterikatan pada tempat atau peristiwa tertentu di luar kerangka agama.

Nilai penting lain dari buku Samatar ini adalah kemampuannya untuk menghadirkan kisah sejarah minoritas yang jarang mendapat sorotan.

Komunitas Mennonite di Asia Tengah bukanlah tokoh utama dalam sejarah, tetapi kisah mereka menyimpan pelajaran tentang keberanian, adaptasi, dan ketahanan.

Dengan menelusuri jejak Mennonite, Samatar sekaligus mengingatkan bahwa sejarah penuh dengan simpul kecil yang bila di tarik bisa membuka prespektif baru tentang dunia.

Kisah ini juga memberi contoh bagaimana interaksi antara kelompok dengan latar belakang berbeda dapat membentuk indentis bersama tanpa menghapus perbedaan.

Di akhir buku, masjid putih tidak lagi hanya sebuah bangunan dalam benak pembaca, Masjid ini menjadi simbol pertemuan, adaptasi, dan memoar lintas generasi.

Masjid putih mengajarkan bahwa rumah dapat di bangun di tanah asing, bahwa iman dapat hidup berdampingan dengan budaya lain, dan bahwa ziarah tidak selalu harus dilakukan di tempat ibadah.

Pesan yang jelas terasa kuat karena disampaikan melalui pengalaman pribadi yang autentik dan pengamatan yang tajam.

The White Mosque bukan hanya dokumentasi perjalanan, tetapi juga jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara individu dan komunitas, antara lokal dan global.

Membacanya membuat kita bertanya pada diri sendiri mengenai tempat-tempat yang telah membentuk kita dan tentang kisah-kisah yang kita bawa dalam perjalanan hidup.

Dan pada akhirnya, seperti Samatar, kita mungkin akan menyadari bahwa di balik setiap perjalanan ada peluang untuk pulang dengan pandangan yang lebih luas dan hati yang lebih terbuka. (*)

Referensi: Samatar, S. (2022). The White Mosque: A Memoir. Catapult.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu