
PWMU.CO – Dalam hiruk-pikuk kehidupan, kita kerap memaknai zikir secara sempit — sekadar lantunan lisan berupa tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir. Zikir seolah terbatas pada ritual verbal yang diucapkan usai salat atau di sela waktu senggang. Padahal, hakikat zikir jauh lebih luas, lebih mendalam, dan lebih menyeluruh: ia adalah kesadaran terus-menerus akan kehadiran Tuhan dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam pikiran, perasaan, ucapan, maupun tindakan.
Zikir, secara bahasa, berarti mengingat. Jadi siapapun yang senantiasa berkesadaran akan hadirnya Allah dalam hati, pasti mengingat-Nya dalam setiap gerak langkah. Maka sesungguhnya kesadaran dan kemudian mengingat selalu hadirnya Allah itulah berdzikir. Saat seseorang melakukan kebaikan dengan ikhlas, tanpa pamrih selain mengharap ridha Allah, maka perbuatannya itu pun bisa berkategori zikir. Zikir yang hidup tidak hanya melalui lisan, tetapi juga menyatu dalam jiwa serta mewujud dalam amal.
Dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring…” (QS. Ali ‘Imran: 191)
Ayat ini menegaskan bahwa zikir tidak terbatas hanya pada keadaan tertentu saja. Zikir bisa hadir dalam setiap posisi tubuh, dalam setiap suasana hati, dan dalam setiap waktu. Artinya, setiap amal yang dilakukan dengan penuh kesadaran kepada Allah, dengan niat yang lurus karena-Nya, adalah bagian dari zikir itu sendiri.
Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam menjelaskan cakupan zikir dalam sebuah hadis yang agung. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Rasulullah bersabda:
إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ: رَجُلٌ رَزَقَهُ ٱللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا، فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهٰذَا بِأَفْضَلِ ٱلْمَنَازِلِ
“Sesungguhnya dunia ini (keutamaannya) bagi empat golongan: seseorang yang Allah beri rezeki berupa harta dan ilmu, lalu ia bertakwa kepada Rabb-nya, menyambung tali silaturahmi, dan mengetahui hak Allah dalam hartanya, maka orang seperti ini berada pada derajat terbaik.” (HR. Tirmidzi, no. 2325)
Jika kita perhatikan hadis tersebut, Rasulullah tidak menyebut orang tersebut sebagai ahli zikir secara eksplisit, tapi semua perilakunya adalah bentuk zikir yang hidup. Ia bertakwa, ia menjaga silaturahmi, dan ia menunaikan hak Allah semuanya berangkat dari hati yang senantiasa ingat kepada Allah.
Zikir bukanlah semata aktivitas ritual, tapi merupakan state of being keadaan spiritual yang membingkai seluruh hidup seorang mukmin. Inilah yang dimaksud oleh Ibnul Qayyim rahimahullah saat beliau mengatakan:
الذِّكْرُ لِلْقَلْبِ كَالْمَاءِ لِلسَّمَكِ، فَكَيْفَ يَكُونُ حَالُ السَّمَكِ إِذَا فَارَقَ الْمَاءَ؟
“Zikir bagi hati ibarat air bagi ikan. Maka, bagaimana keadaan ikan jika ia terpisah dari air?”
Tanpa zikir, hati akan kering dan mati. Tapi zikir yang sejati bukan hanya mengucap subhanallah, alhamdulillah, atau allahu akbar berulang kali tanpa kesadaran. Zikir sejati adalah ketika langkah kita terasa selalu dalam pengawasan Allah. Kala tangan kita menolong kebaikan karena Allah, atau ketika lisan kita menahan diri dari dusta karena takut kepada Allah, maka itulah sesungguhnya zikir yang bernyawa.
Marilah kita perhatikan bagaimana para sahabat dalam memahami zikir. Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu pernah berkata:
أفضلُ الذكرِ العملُ بالطاعةِ، وأفضلُ الشكرِ اجتنابُ المعاصي
“Zikir yang paling utama adalah amal dalam ketaatan, dan syukur yang paling utama adalah menjauhi maksiat.”
Bagi para sahabat Rasulullah, amal perbuatan bukan sekedar kerja, tapi juga bentuk zikir yang konkret. Setiap langkah menuju masjid, setiap senyum kepada saudara, setiap sedekah kecil, setiap menahan marah, semuanya adalah zikir selama hati terhubung dengan Allah.
Allah melalui firman-Nya mengingatkan kita agar dalam kehidupan ini tidak lalai dari zikir.
وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلَّذِينَ نَسُواْ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمۡ أَنفُسَهُمۡۚ أُوْلَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19)
Lalai dari zikir tidak sekedar lalai dalam mengucap tasbih, tapi lebih dari itu adalah lalai mengingat Allah dalam setiap tindakan. Ketika seseorang itu berdusta, menipu, menzalimi, atau berbuat dosa lainnya tanpa merasa dalam pengawasan Allah, saat itulah dia meninggalkan zikir. Hidupnya menjadi tanpa kesadaran ruhani, hidup dengan jiwa yang tertidur.
Sesungguhnya mereka yang melakukan berdagang secara jujur karena takut kepada Allah, suami istri yang sabar dalam mencari pahala dengan mendidik anak dengan cinta dan doa, yang menunaikan amanah apapun walau tak dilihat manusia, sesungguhnya mereka sedang menjadi ahli zikir sejati.
Zikir sejati adalah yang menghadirkan hati di hadapan Allah dalam segala keadaan. Lisan mungkin diam, tapi hati tetap bergetar karena takut kepada-Nya, penuh harap kepada rahmat-Nya. Sabda Rasulullah:
سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ
Para sahabat bertanya: “Siapakah al-mufarridun itu, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ
“Orang-orang yang banyak mengingat Allah, baik laki-laki maupun perempuan.” (HR. Muslim, no. 2676)
Mereka disebut al-mufarridun karena mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia, dan sibuk dalam kesadaran kepada Allah — baik melalui lisan, hati, maupun amal. Maka, jangan meremehkan zikir yang melalui tindakan amal. Senyuman yang ikhlas, ringannya kaki langkah ke majelis ilmu, atau menjalankan pekerjaan dengan penuh amanah. Jika semua itu dalam rangka menggapai ridha Allah, maka itulah zikir.
Karena itulah, mari kita luaskan pemahaman kita tentang zikir. Zikir tidak sekedar untaian kata yang kita lafazkan. Marilah kita jadikan zikir sebagai bagian dari hidup. Tidak pula sekedar suara, tapi juga rasa sadar secara spiritual yang membimbing setiap dalam setiap tarikan nafas. Dengan zikir yang demikian, hidup sebagai ibadah, kerja menjadi amal saleh, dan dunia pun menjadi ladang akhirat.Editor Notonegoro






0 Tanggapan
Empty Comments