Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Zuhud di Tengah Budaya Flexing

Iklan Landscape Smamda
Zuhud di Tengah Budaya Flexing
Oleh : Abdullah Azzam Ati’illah Sekretaris Bidang PIP PD IPM Lamongan, Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
pwmu.co -

Di era digital ini, kehidupan kerap terasa bagai perlombaan tanpa garis finis.

Kita berlomba menampilkan kemapanan, kesibukan, dan eksistensi diri.

Ponsel terbaru, secangkir kopi di kafe estetik, atau liburan ke tempat yang viral —semua menjadi simbol status bahwa kita berhasil.

Namun, di balik fasad (layar), tak sedikit yang diam-diam merasa lelah: lelah mengejar standar, lelah merasa kurang.

Di tengah dominasi budaya pamer dan gaya hidup konsumtif, Islam menghadirkan konsep zuhud sebagai penawar yang sering kali disalahartikan.

Zuhud tidak berarti harus hidup melarat, menjauh dari dunia, atau menolak kenikmatan.

Inti dari zuhud bukan pada apa yang kita miliki, melainkan pada apa yang mendominasi hati kita.

Dunia boleh saja di tangan, asalkan tidak menetap di hati.

Merujuk definisi Imam Ahmad bin Hanbal, zuhud adalah kondisi saat kita tidak memandang harta di tangan lebih bernilai daripada jaminan di sisi Allah.

Singkatnya, zuhud adalah seni menata skala prioritas dan orientasi hidup: menjadikan Allah sebagai pusat tujuan, sementara dunia dipandang sebagai instrumen pendukung.

Harta Hanya Tujuan Semu

Al-Qur’an tidak menolak kekayaan. Bahkan Al-Qur’an menyatakan bahwa harta itu merupakan sebagai rizq, anugerah Ilahi.

Namun, Al-Qur’an juga murka ketika harta yang awalnya sebagai sarana ibadah, kini menjelma menjadi berhala tujuan hidup.

Celakalah setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira hartanya itu dapat mengekalkannya.” (QS. al-Humazah: 1–3)

Masalahnya bukan pada memiliki, tapi pada hasrat menghitungnya dengan rakus, merasa aman karenanya, dan lupa akan kefanaan hidup.

Ironisnya, fenomena ini sangat dekat dengan keseharian kita.

Saat harga diri diukur dari saldo, jabatan, atau outfit, kita jatuh dalam tipuan: seolah ‘cukup’ itu pasti menenangkan hati.

Padahal, ‘cukup’ itu cuma fatamorgana yang terus menjauh.

Al-Qur’an menampar halus kesadaran kita: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. at-Takatsur: 1–2).

Sebuah pengingat pedih: kesibukan mengejar dunia bisa membuat kita lupa esensi kepulangan kita.

Uniknya, kegelisahan yang sama juga bergema dalam tradisi agama samawi lainnya, seperti juga termaktub dalam alkitab;

…Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi… karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada….” (Matius 6:19–21).

Narasi ini sangat sejalan dengan pesan zuhud: harta selalu berujung pada soal hati.

Kitab Pengkhotbah bahkan menyebut cinta terhadap materi sebagai kesia-siaan: semakin dikejar, semakin hampa perasaan yang dirasakan.

Tampaknya, dua tradisi besar ini bersepakat bahwa problematika mendasar manusia bukanlah kekurangan, melainkan ketidakmampuan untuk merasa cukup (qana’ah).

Di titik inilah, zuhud dapat dimaknai melampaui sekat ajaran Islam, yakni sebagai nilai universal: menjaga hati agar tidak diperbudak oleh apa yang fana.

Teladan Mulia Rasulullah dan Para Sahabah Salafussalih

Rasulullah saw. adalah contoh paling hidup dari zuhud. Padahal, jika beliau mau, pintu kekayaan terbuka lebar. Namun beliau memilih hidup sederhana. Aisyah ra. meriwayatkan bahwa pernah berlalu satu atau dua bulan tanpa api menyala di rumah Nabi; mereka hidup dari kurma dan air. Namun, Nabi tidak mengharamkan kekayaan. Di antara sahabatnya ada yang sangat kaya, seperti Abdurrahman bin Auf. Bedanya, harta ada di tangannya, bukan di hatinya. Ia gunakan untuk menolong, bukan untuk menimbun.

Rasulullah SAW merupakan teladan hidup dalam praktik zuhud.

Meski memiliki akses luas terhadap kekayaan, beliau memilih gaya hidup yang sederhana.

Aisyah ra. meriwayatkan bahwa betapa Nabi hidup dalam kesahajaan, di mana selama dua bulan berturut-turut keluarga beliau tanpa menyalakan api di rumah dan juga hanya mengonsumsi kurma dan air.

Namun, perlu dicatat bahwa Islam tidak mengharamkan kekayaan.

Di antara sahabatnya, sosok Abdurrahman bin Auf yang kaya raya adalah bukti bahwa kesalehan dapat beriringan dengan kemakmuran.

Bedanya, hartanya diposisikan sebagai sarana sosial (menolong sesama) dan bukan tujuan menimbun.

Juga tentang pengorbanan Abu Bakar ra. yang menyerahkan seluruh asetnya serta gaya hidup minimalis.

Atau Umar bin Khattab ra. yang saat menjabat sebagai khalifah, menunjukkan bahwa zuhud adalah sebuah latihan otonomi diri terhadap dunia.

Sejalan dengan pemikiran Al-Ghazali, zuhud adalah proses purifikasi hati dari keterikatan duniawi.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Fokus utamanya bukan pada penolakan terhadap materi, melainkan pada desakralisasi dunia agar tidak menjadi otoritas absolut (tuhan kecil) dalam kehidupan manusia.

Zuhud di Era Konsumerisme

Kita sedang hidup di zaman yang membangun identitas lewat konsumsi.

Iklan dan media sosial terus membisiki: “Kamu belum cukup, kamu butuh ini, kamu masih perlu beli itu…

Akibatnya, kita mudah cemas, iri, dan bahkan sulit bersyukur.

Maka kini zuhud menjadi hal yang sangat relevan dan dekat dengan keseharian kita.

Melalui zuhud, kita bertanya lebih jauh dari relung hati kita; “Apakah semua yang kita kejar, benar-benar kita butuhkan? Ataukah hanya agar diakui dan tidak tertinggal?

Zuhud bukan berarti menolak kenyamanan, melainkan menolak untuk diperbudak olehnya.

Kita dianjurkan bekerja keras, memiliki aspirasi tinggi, dan menikmati kehidupan yang layak.

Namun, kesadaran hati harus tetap teguh: semua pencapaian ini hanyalah titipan.

Dalam esensi yang paling sederhana, zuhud adalah hidup dalam kecukupan, memberi dengan optimal, dan berharap penuh hanya kepada Allah Swt.

Spirit zuhud tidak berhenti pada aspek personal; ia bermanifestasi menjadi kepedulian sosial yang konkret.

Islam mewajibkan zakat untuk memastikan sirkulasi harta tidak hanya berputar di kalangan elit tertentu.

Sedekah dianjurkan sebagai mekanisme purifikasi jiwa dan pemerataan ekonomi. Artinya, kesahajaan pribadi bukan hanya demi ketenangan batin, tetapi demi menegakkan pilar keadilan sosial.

Ketika kita menahan diri dari gaya hidup berlebih-lebihan, secara otomatis tercipta ruang alokasi untuk berbagi dengan sesama.

Ketika kita tidak sibuk menimbun, kita lebih peka pada yang kekurangan.

Pesan serupa termaktub dalam Alkitab: “Berikanlah kepada setiap orang yang meminta kepadamu” (Matius 5:42).

Semangat ini beririsan dengan napas Islam: bahwa harta menemukan makna hakikinya ketika ditasaruflan kepada mereka yang berhak.

Zuhud, dalam konteks ini, merupakan bentuk perlawanan elegan terhadap budaya egoisme.

Ia menegaskan bahwa martabat manusia tidak diukur dari akumulasi materi, melainkan dari besarnya kontribusi dan dedikasi bagi sesama.

Budaya konsumsi berlebih tidak hanya mengotori kesehatan jiwa, tetapi juga merusak tatanan ekosistem bumi.

Kerusakan lingkungan bersumber dari gaya hidup yang mengabaikan batasan.

Al-Qur’an mengingatkan secara lugas: “Sesungguhnya orang-orang yang berlebih-lebihan adalah saudara-saudara setan” (QS. al-Isra’: 27).

Pesan ini sangat kontekstual di tengah krisis iklim global saat ini.

Zuhud mengajarkan seni hidup dengan kesadaran akan ambang batas (limit).

Yakni mengambil secukupnya, mengonsumsi seperlunya, dan merawat amanah bumi sebagai ciptaan Allah.

Dalam kesahajaan, terkandung etika ekologis: bahwa dunia bukanlah milik pribadi yang bebas dieksploitasi, melainkan titipan yang harus dijaga keberlangsungannya.

Dengan demikian, sesungguhnya zuhud bukan tentang kehilangan, tapi tentang pembebasan.

Bebas dari kecemasan karena kurang, dan bebas dari iri pada yang lebih.

Selain itu, juga bebas dari ketakutan kehilangan.

Orang yang zuhud tidak mudah goyah dari segala dinamika dunia, karena sandarannya bukan di situ.

Jalaluddin Rumi, seorang pujangga sufi, menulis: “Ada ratusan cara untuk berlutut dan mencium tanah.”

Zuhud adalah salah satu caranya: mencintai Allah dengan menata keinginan.

Dalam kesederhanaan, kita menemukan ruang untuk bersyukur, untuk tenang, dan untuk dekat.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu