Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

10 Hari Terakhir Ramadan: I’tikaf, Nuzulul Quran, dan Perburuan Lailatul Qadar

Iklan Landscape Smamda
10 Hari Terakhir Ramadan: I’tikaf, Nuzulul Quran, dan Perburuan Lailatul Qadar
Prof. Didin Fatihudin, Foto: Umsura
Oleh : Prof. Dr. Didin Fatihudin, SE, M.Si Guru Besar Bidang Ekonomi Manajemen Keuangan dan Bisnis Umsura
pwmu.co -

Ramadan selalu memiliki fase puncak yang dinanti umat Islam. Tak terkecuali pada 10 hari terakhir Ramadan. Pada fase inilah banyak orang berlomba memperbanyak ibadah.

Dua momen penting yang sering dibicarakan adalah i’tikaf dan Nuzulul Quran. Keduanya menjadi kesempatan emas untuk memperkuat hubungan dengan Allah sekaligus memperbanyak amal.

I’tikaf: Menepi Sejenak untuk Mendekat kepada Allah

I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah (taqarub). Ibadah ini bisa dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan, terutama pada 10 hari terakhir Ramadan.

Rasulullah saw memberikan teladan yang jelas tentang ibadah ini. Dalam sebuah hadis disebutkan:

“Rasulullah saw melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan hingga Allah mewafatkannya. Setelah beliau wafat, istri-istri beliau melanjutkan i’tikaf tersebut.” (HR. Bukhari No. 2026 dan Muslim No. 1172)

Di Indonesia, waktu mulai i’tikaf bisa sedikit berbeda mengikuti awal Ramadan. Jika mengikuti keputusan pemerintah, i’tikaf dimulai sekitar 10 Maret 2026, sedangkan jika mengikuti keputusan Muhammadiyah dimulai 9 Maret 2026.

Tidak ada batasan jam khusus untuk i’tikaf. Banyak orang memulainya selepas salat Isya, sebagian lagi memilih waktu menjelang sahur, sekitar pukul 01.00–03.00. Selama berada di masjid, waktu biasanya diisi dengan memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, berdoa, serta salat sunah.

Suasana i’tikaf idealnya tenang dan khusyuk. Karena itu, jamaah dianjurkan menghindari obrolan yang berlebihan agar tidak mengganggu orang lain yang sedang beribadah.

Banyak masjid juga menyediakan sahur bersama bagi jamaah i’tikaf, terutama bagi mereka yang rumahnya jauh. Bahkan sebagian orang memilih masjid tertentu karena lebih nyaman, aman, atau memiliki fasilitas yang baik.

Namun tujuan utama tetap harus dijaga: taqarub, mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar mencari kenyamanan atau makanan.

I’tikaf juga mengingatkan manusia tentang keterbatasan hidup. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2025), usia harapan hidup masyarakat Indonesia berkisar 60–71 tahun.  Jika seseorang diberi umur lebih panjang, itu adalah karunia yang patut disyukuri.

Maka Ramadan, terutama sepuluh hari terakhirnya, menjadi waktu yang tepat untuk bertaubat, memperbaiki diri, dan berharap husnul khatimah.

Nuzulul Quran: Turunnya Pedoman Hidup Umat Manusia

Selain i’tikaf, Ramadan juga mengingatkan umat Islam pada peristiwa besar Nuzulul Quran, yaitu saat pertama kali Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Allah SWT berfirman dalam QS Ad-Dukhan ayat 3–4 bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam yang diberkahi, malam ketika berbagai urusan ditetapkan dengan penuh hikmah.

Sementara dalam QS Al-Qadr ayat 1–5, Allah menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan atau setara dengan sekitar 83 tahun 4 bulan.

Artinya, ibadah yang dilakukan pada malam tersebut memiliki nilai pahala yang luar biasa besar. Rasulullah saw juga menganjurkan umat Islam untuk mencarinya pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan, yaitu tanggal 21, 23, 25, 27, dan 29.

Al-Qur’an sendiri adalah pedoman hidup umat Islam. Isinya membawa kabar gembira sekaligus peringatan bagi manusia—dalam istilah Al-Qur’an disebut “basyiiran wa nadziiran.” Nabi Muhammad SAW kemudian menjadi teladan dalam mengamalkan ajaran tersebut.

Menariknya, Al-Qur’an kini dapat diakses dalam berbagai bahasa di seluruh dunia. Dari masa penulisan manual hingga era digital, kitab suci ini telah diterjemahkan ke banyak bahasa internasional maupun lokal.

Karena itu, sebenarnya tidak ada alasan bagi umat Islam untuk tidak membaca dan mempelajarinya.

Allah bahkan memberi keringanan melalui firman-Nya dalam QS Al-Muzzammil ayat 20: “Bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an.”

Artinya, siapa pun dapat membaca sesuai kemampuannya. Bahkan membaca surat pendek seperti Al-Ikhlas memiliki keutamaan besar, sementara Al-Fatihah menjadi inti Al-Qur’an dan syarat sah salat.

Menjemput Kemuliaan Ramadan

I’tikaf dan Nuzulul Qur’an mengajarkan satu hal penting: Ramadan adalah waktu terbaik untuk kembali kepada Al-Qur’an dan memperbaiki hubungan dengan Allah.

Sepuluh hari terakhir bukan sekadar penutup Ramadan, tetapi justru puncak perjalanan spiritual seorang Muslim. Di sanalah kesempatan besar terbuka—memperbanyak ibadah, memperdalam tadabbur Al-Qur’an, dan berharap bertemu Lailatul Qadar.

Semoga Ramadan ini membawa keberkahan dan menjadikan kita pribadi yang lebih dekat kepada Allah. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu