Tiga Tradisi Ini Menjadikan Lebaran Makin Asyik

89
Pasang Iklan Murah
Fathurrahim Syuhadi ceramah Subuh di Mushala Al Hikmah Babat. (Faried/pwmu.co)

PWMU.CO – Keluarga besar Muhammadiyah dan Aisyiyah Ranting Babat Tengah Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan mengadakan halal bihalal yang dikemas dalam kegiatan Subuh bersama keluarga (Surga) dilaksanakan di Mushala Al Hikmah, Ahad (23/6).

Shalat berjamaah dengan imam KH Muhaimin, mundir Pondok Pesantren Muhammadiyah Babat. Tausiyah disampaikan oleh Fathurrahim Syuhadi MM, wakil ketua PCM Babat.

iklan

Dalam tausiyahnya, dia mengatakan, di kalangan umat Islam di Indonesia ada tiga tradisi yang tetap bertahan dan berkembang. Pertama, silahturrahim.

”Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung silaturahmi. Menyambung silaturahim, menurut hadits di atas termasuk ke dalam bagian dari ajaran Islam,” katanya.

Untuk itu, sambung dia, Rasulullah memerintahkan agar umat Islam menjaga dan menyambung kekerabatan bagi sesama muslim. Di hadits lain juga disebutkan, tidak masuk surga orang yang memutus hubungan kekerabatan.

”Ini berarti sangat penting hubungan silaturahmi dilakukan. Dengan itulah umat Islam bisa kuat dan saling menyokong satu sama lain. Jika tidak maka akan bercerai berai,” tuturnya.

Tradisi kedua, mengucapkan Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, wa ja’alanallahu wa iyyakum minal aidin wal faizin.

”Taqabbalallahu minna wa minkum adalah kalimat yang diucapkan sahabat Nabi ketika bertemu sahabat lainnya saat Hari Raya, khususnya Idul Fitri. Artinya, semoga Allah menerima (puasa dan amal) dari kami dan kalian,” ujar dia menjelaskan.

Tradisi ketiga, mudik. Lebaran merupakan salah satu momentum bagi umat Islam untuk mudik atau pulang kampung. Ternyata tradisi mudik Lebaran untuk berkumpul bersama keluarga tidak tergantikan meski  sekarang ada beragam media sosial yang bisa dipakai komunikasi.

”Orang-orang rela antre, berdesak-desakan serta macet panjang demi bisa melaksanakan tradisi pulang  kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga saat Lebaran. Sekitar satu pekan sebelum Lebaran, para perantau berbondong-bondong meninggalkan ibukota kembali ke kampung halaman,” ujarnya.

Di akhir acara kajian ditutup dengan pemberian piagam dan alat tulis sekolah kepada anak-anak pejuang Subuh yang aktif berjamaah dan ikut pengajian. (M. Faried Achiyani)