Di Balik Video #AkuSpemdalas, Ternyata Efek Pencahayaannya Pakai Lampu Belajar

134
Pasang Iklan Murah
Muhammad Isham Abroor (kanan) di saat wisuda. (Ichwan Arif/PWMU.CO)

PWMU.CO – Keberhasilan Muhammad Isham Abroor dan A’mal Haqiyyudin Nur membuat video ikon SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas) berdurasi 2,5 menit yang diputar saat acara wisuda, Selasa (25/6/19) patut diacungi jempol. Pasalnya, cowok yang gemar fotografi ini harus mengumpulkan 12 siswa kelas XI yang memiliki talenta sekaligus prestasi, baik akademik dan nonakademik.

“Selain harus merata di tiap kelas, siswa yang akan dijadikan ikon ini harus pernah membawa nama sekolah sebagai juara, baik di ajang kabupaten, nasional, sampai internasional,” ujarnya saat diwawancarai PWMU.CO, Selasa (25/6/19) usai kegiatan Wisuda XVI Spemdalas di Convention Hall Graha Sarana PT Petrokimia Gresik

Isham–begitu sapaannya—mengaku terbantu saat pembuatan video dengan pemilihan kostum masing-masing temannya. Mereka, katanya, hanya menyesuaikan dengan bidang talenta dan prestasi yang pernah diukir.

“Kalau siswa yang juara robotik, ya harus mengenakan kaos ekstranya dan bawa robotik. Kalau yang prestasi di olahraga basket, ya harus mengenakan seragan basket lengkap dan bolanya,” paparnya.

Dalam pembuatan video ini, Ishom harus konsultasi dengan pihak sekolah, terutama wali kelas IX. Hal ini terkait dengan penentuan bidang prestasi dan siswa yang jadi figuran dan video di ikon sekolah ini.

Tercatat ada 11 bidang prestasi dan talenta yang dimasukkan dalam alur videonya. Mulai dari musikalisasi puisi, basket putra, basket putri, futsal, anime, fotografi, tahfidh, IPM, robotik, prestasi internasional, dan paskib.

Ishom menjelaskan, ke-11 siswa ini keluar secara sendiri-sendiri dari balik layar warna abu-abu. Mereka tanpa bicara dengan pandangam tajam ke depan. Setelah semuanya keluar, bagian kedua kamera akan ambil gambar secara zoom pada masing-masing siswa dan ditutup dengan gambar secara tim. Untuk membuat efek menarik, background disesuaikan dengan bidang. Ada lapangan basket, futsal, dan juga gedung teater.

Saat ditanya kendala yang tersulit saat proses pembuatan video, cowok yang hobi baca novel detektif ini hanya tersenyum simpul.

“Selain me-rinder hasil, pembuatan pencahayaan saat proses shooting pun sangat sulit. Cahaya di open hall sangat kurang sehingga harus ada pencahayaan tambahan untuk bisa menghasilkan video yang bagus,” ceritanya.

A’mal mengamini hal itu. Menurutnya efek cahaya yang cukup mampu menambah efek pengambilan gambar juga. Untuk itu, ungkapnya, saya dan teman-teman berinisiatif membawa tiga lampu belajar dari rumah untuk menambahi efek cahaya tersebut.

“Alhamdulillah, masalah cahaya bisa diatasi,” ucapnya. (Ichwan Arif)