Prof Achmad Jainuri: Muhammadiyah Memberi Pelayanan tanpa Melihat Suku, Ras, dan Agama

243
Pasang Iklan Murah
Prof Achmad Jainuri. (Aan/PWMU.CO)

PWMU.CO – Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Prof Achmad Jainuri menyatakan inti dari ber-Muhammadiyah adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa memperdulikan siapa mereka.

“Persyarikatan memberikan pelayanan itu tidak pernah memandang latar belakang suku, ras, maupun agama ketika. Dan, itu tidak perlu kita gembar-gemborkan, tapi kita melakukannya,” katanya ketika mengisi Kajian Raboan Pegawai Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur.

Kajian Raboan rutin diadakan setiap pekan di Gedung Muhammadiyah Jatim, Jalan Kertomenanggal IV/1 Surabaya, Rabu (24/7/19).

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) itu lalu menerangkan, tiga pilar yang menjadi landasan bagi Persyarikatan Muhammadiyah maupun warganya untuk melaksanakan visinya (pelayanan) itu. Pertama adalah keterbukaan wawasan.

Jainuri menerangkan, pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan secara pemikiran dan tindakan sangatlah liberal atau terbuka, sangat humanis, dan bisa bergaul dengan siapa saja tanpa kehilangan identitas keislamannya.

“Jadi pikiran liberal KH Ahmad Dahlan itu bukan dalam arti meninggalkan shalat. Tapi terbuka dalam memahami sumber pokok ajaran Islam,” tuturnya.

Sebaliknya, tegasnya, Muhammadiyah bukan berpaham Islam sontoloyo seperti yang didiskripsikan oleh Presiden RI Soekarno.

“Muhammadiyah itu Islam yang progresif dan berkemajuan. Bukan Islam konservatif dan tidak mau menerima perubahan. Bukan pula Islam yang berorientasi pada pemikiran masa lalu,” tuturnya.

Dosen Pascasarjana UINSA Surabaya itu melanjutkan, pilar kedua adalah terkait dengan paham pengamalan ibadah. Yang mana, paham keagamaan KH Ahmad Dahlan tidak berhenti atau selesai pada pelaksanaan ritual ibadah semata. Tapi lebih menekankan pada pengalaman nilai-nilai keagamaan.

“Konsekuensi dari paham itu Persyarikatan lebih menekankan tindakan nyata atau gerakan amal sebagai praksis paham keagamaannya,” terangnya.

Terakhir, sambungnya, pilar ketiga adalah senantiasa ikhlas dalam berdakwah dan berjuang membesarkan Persyarikatan. “Inilah tiga pilar yang menjadi landasan Persyarikatan dalam mewujudkan visinya,” tandasnya. (Aan)