Syukur alhamdulillah, pada hari ini, 1 November 2025, tepat 104 tahun Muhammadiyah berdakwah. Sebab, pada 1 November 1921, KH Ahmad Dahlan selaku pendiri Muhammadiyah mengembangkan dakwah ke Surabaya.
Pada tanggal tersebut pula, KH Mas Mansur sebagai ketua beserta jajaran pengurus lainnya dilantik langsung oleh KH Ahmad Dahlan sebagai pimpinan Muhammadiyah Cabang Surabaya.
Prosesi pelantikan berjalan sederhana untuk menanamkan pondasi dakwah yang mencerahkan, khususnya bagi warga Surabaya. Meski demikian, acara tetap berlangsung penuh khidmat dan benar-benar menginspirasi lahirnya dakwah yang bermakna dan berkelanjutan.
Usia 104 tahun adalah usia yang matang bagi sebuah gerakan dakwah. Telah banyak dinamika yang mewarnai perjalanan dakwah Muhammadiyah di Surabaya.
KH Mas Mansur dan jajaran pimpinan lainnya sangat memahami kondisi masyarakat bangsa yang masih terjajah oleh kolonial Belanda. Karena itu, usai pelantikan, disusunlah beberapa agenda dakwah strategis, khususnya di Surabaya.
Di antaranya, karena minimnya akses pendidikan, didirikanlah lembaga pendidikan Muhammadiyah sebagai upaya mencerdaskan anak bangsa sekaligus menumbuhkan wawasan keilmuan untuk menumbuhkan kesadaran berjuang melepaskan diri dari penjajahan.
Proses pembodohan yang dilakukan kolonial Belanda memang sangat berat untuk diubah. Namun, sentuhan dakwah Muhammadiyah yang penuh keteladanan mendapat simpati luas, sehingga semakin memperluas akses pendidikan.
Demikian pula di bidang kesehatan. Selain minimnya akses layanan kesehatan, masyarakat kala itu juga memiliki pola pikir sempit; berobat ke dokter dianggap tidak perlu.
Maka, edukasi kesehatan melalui gerakan dakwah yang digagas KH Mas Mansur dan dr. Sutomo sangat efektif menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan dan berikhtiar untuk berobat di berbagai layanan kesehatan.
Perubahan cara berpikir dari keyakinan bahwa penyakit disebabkan “guna-guna” menjadi kesadaran untuk berikhtiar menjaga kesehatan adalah capaian besar dari dakwah yang mencerahkan.
Begitu pula ketika KH Mas Mansur berinteraksi dengan tokoh-tokoh pergerakan bangsa seperti HOS Cokroaminoto, Sukarno, dan lainnya. Interaksi itu sangat efektif dan strategis dalam menggugah semangat perlawanan terhadap penjajahan, meski berisiko tinggi.
Proses kaderisasi terus dioptimalkan untuk melahirkan pejuang-pejuang tangguh yang siap berjuang tanpa keraguan dan ketakutan. Inilah lahan berjihad melepaskan diri dari penjajahan.
Seratus empat tahun dakwah Muhammadiyah Surabaya telah dilalui. Kini, kita dihadapkan pada tantangan dakwah yang semakin kompleks dan saling berkaitan — tidak hanya di dunia nyata yang kasat mata, tetapi juga di dunia maya yang memanfaatkan perkembangan teknologi dan media sosial dengan segala kemudahannya.
Agar dakwah Muhammadiyah terus berkembang dan berkelanjutan, ada tiga hal penting:
Pertama, melakukan penguatan paham beragama yang mencerahkan. Dakwah Muhammadiyah dituntut memperluas akses dengan tema-tema aktual yang menyentuh persoalan kekinian dan menawarkan solusi yang tepat. Dakwah harus lebih inklusif dan hadir dalam dinamika sosial yang beragam.
Kedua, dakwah Muhammadiyah harus mampu memperkuat ukhuwah. Saat ini, begitu banyak informasi yang penuh fitnah, hoaks, dan permusuhan yang memperparah kerusakan sosial. Karena itu, diperlukan pendakwah yang merangkul, bukan memukul, agar ukhuwah tetap terjaga.
Pendakwah harus berilmu luas, mampu mengaitkan ilmu dengan persoalan aktual, serta menggunakan bahasa santun, bukan penghinaan — untuk mengembangkan wawasan, bukan mematikan nalar dengan doktrin yang menyesatkan.
Ketiga, dakwah harus memberikan keteladanan, kepeloporan, dan kesungguhan berjuang dengan penuh keikhlasan. Derasnya arus informasi jangan sampai membuat kita stagnan, jumud, dan kehilangan nalar kritis. Gerakan dakwah Muhammadiyah yang mencerahkan harus terus ditingkatkan.
Dinamika Kota Surabaya yang semakin kompleks menuntut dakwah Muhammadiyah menjadi semakin bermakna — menumbuhkan kerukunan dan persaudaraan, bukan permusuhan dan perusakan.
Progres dakwah Muhammadiyah diharapkan terukur, baik dari aspek kuantitas maupun kualitas, agar tidak berhenti pada capaian angka, tetapi terus menjaga dinamika yang kondusif dan konstruktif.
Akhirnya, selamat Milad ke-104 Muhammadiyah Surabaya. Semoga dakwah Muhammadiyah senantiasa memberi nilai tambah kebermaknaannya. Sebab, Muhammadiyah hadir laksana sinar matahari — selalu memberi keteladanan, kepeloporan, dan kebermaknaan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments