Ini Pesan Pengasuh Pesantren Tahfidh Klaten dalam Khutbah Idul Adha di Bawean

2128
Pasang Iklan Murah
Ustadz Zuhal Abdul Rahman saat khutbah di halaman MTsM 5. (Eklis Dinika/PWMU.CO)

PWMU.CO – Warga dan simpatisan Muhammadiyah berbondong-bondong mendatangi halaman MTs Muhammadiyah 5 Daun, Sangkapura, Bawean, Kabupaten Gresik untuk melaksankan shalat Idul Adha, Ahad (11/8/19).

Bertindak sebagai imam dan khatib adalah Jamaah shalat Idul Adha adalah Zuhal Abdul Rahman, Pengasuh Tingkat MTs dan MA Ponpes Al-Quran YAPI Sunni Tegalgondo Klaten. Dia juga Pengasuh Tingkat PT Baitul Hikmah Sukoharjo, Arridho, Klaten, Jawa Tengah.

Dalam awal khutbahnya dia mengajak jamaah untuk meningkatkan iman dan ketakwaan kepada Allah SWT. Setelah itu dia menguraikan tentang beberapa ujian Nabi Ibrahim AS sebelum Allah menjadikannya sebagai pemimpin.

Dia membacakan firman Allah dalam surat Albaqarah ayat 124 yang artinya: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu ia menunaikannya (dengan baik). Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata, “Dan dari keturunanku (juga)?” Allah berfirman, “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim.”

Ustadz Zuhal menelaskan, dalam kitab Ibnu Katsir disebutkan beberapa ujian terberat Nabi Ibrahim di antaranya meninggalkan rumah karena diusir oleh orangtuanya sendiri demi memilih akidah yang benar.

“Beliau rela disiksa oleh penguasa karena perbedaan akidah. Dan ketika beliau bertahun-tahun mengharapkan kehadiran anak, maka Allah memberikan kabar gembira kemudian lahirlah Ismail. Nama Ismail di ambil dari bahasa Ibrani yang artinya “ Tuhan Mendengar,” jelasnya.

Jamaah shalat Idul Adha. (Eklis Dinika/PWMU.CO)

Tidak cukup sampai di situ, sambungnya, beliau diperintahkan oleh Allah hijrah ke Mekkah negeri yang tandus tidak ada apapun. Bahkan tidak seorang pun manusia yang tinggal di situ.

“Ismail kecil menangis. Siti Hajar sebagai seorang ibu terpanggil hati nuraninya. Beliau berlari ke bukit Shafa dan Marwah sampai tujuh kali putaran tetapi tidak mendapat air sedikit pun hingga akhirnya beliau melihat air memancar di bawah kaki Ismail,” terangnya.

Selama delapan tahun, lanjutnya, Ibrahim meninggalkan anak dan istrinya. “Beliau diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya yang amat dikasihinya, ‘Wahai suamiku ada apa gerangan engkau menemui kami dalam keadaan murung?’ Ibrahim menceritakan mimpinya untuk menyembelih Ismail. Maka apa pendapatmu anakku? Wahai Ayahku lakukan apa yang di perintahkan Tuhanmu, sembelihlah aku,” kisahnya.

Moh Mulyo, salah satu jamaah shalat Idul Adha, sangat puas karena apa yang di sampaikan khatib sangat mengena di hati. “Uraiannya simpel, meyakinkan, dan penuh perasaan sehingga kami dapat mengambil hikmah dari apa yang telah disampaikannya,” komentarnya. (*)

Kontributor Eklis Dinika. Editor Mohammad Nurfatoni.

iklan