Watak Berkurban Mampu Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat, Ini Penjelasannya

35
Pasang Iklan Murah
KH Abdul Hamid Muhanan LC (Faried/PWMU.CO)

PWMU.CO–Bulan Agustus ini ada dua momentum yang sangat penting. Yaitu Idul Adha dan HUT Kemerdekaan RI ke 74. Dalam refleksi kebangsaan, maka Hari Raya Kurban bisa menjadi penopang semangat kebangsaan membangun kebersamaan sebagai satu bangsa.

Hal itu dikatakan Wakil Ketua PDM Lamongan KH Abdul Hamid Muhanan Lc di hadapan jamaah Majelis Taklim Al Ukuwah PRM Babat Tengahdi rumah Bapak Nursalim Hasan, Rabu (21/8/2019).

iklan

Menurutnya, pada saat ini gairah umat Islam di Indonesia melaksanakan ibadah sangat tinggi dari jumlah. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya hewan kurban yang disembelih yang meningkat dari tahun ke tahun. Pendaftar ibadah haji juga makin banyak sehingga harus antre puluhan tahun.

”Tetapi tidak diimbangi dengan nilai-nilai dari hikmah pelaksanaan ibadah kurban. Persoalan tersebut perlu digali dan mendapatkan perhatian dari kita semua, bisa jadi mereka melaksanakan ibadah bukan dengan nilai keikhlasan tetapi karena ikut-ikutan,” ujarnya.

Berkurban itu, menurut dia, merupakan fitrah manusia yang bersumber dari perintah Allah. Tidak boleh didasari hawa nafsu. Dalam Islam, berkurban harus lillahi ta’ala. Karena menjalankan perintah Allah.

”Ibadah kurban memang menekankan latihan ketakwaan. Mengikhlaskan sebagian harta demi kepentingan umat. Menyembelih egoisme dan ketamakan. Memotong kuasa setan dalam aliran darah manusia yang secara simbolis dilambangkan dengan memotong hewan kurban,” tuturnya.

Jika sudah mampu mencapai ketakwaan dan keikhlasan, menghilangkan egoisme, maka pelaksanaan pembangunan bisa mencapai kesejahteraan rakyat. Seperti berkurban yang menumbuhkan kesalehan individual dan sosial. (*)

Penulis M.Faried Achiyani  Editor Sugeng Purwanto