Jamuan Makan Malamnya di Klang Lama Malaysia tapi Menunya dari ‘Banglades’

167
Pasang Iklan Murah
Peserta rihlah antre menikmati makan malam bersama (Taufiq/PWMU.CO)

PWMU.CO – Pertemuan antara peserta Rihlah Dakwah IV Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim dengan Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah (PRIM) Klang Lama Kuala Lumpur Malaysia di Hall Mutiara Apartemen Senin (19/8/19) benar-benar memberikan kesan istimewa, termasuk jamuan makan malamnya.

Setelah mendapat sambutan hangat, peserta yang datang langsung diarahkan ke tempat jamuan makan malam di bagian belakang hall. Di sana sudah menunggu anggota Pimpinan Ranting Istimewa Aisyiyah (PRIA) Klang Lama yang siap memberikan layanan terbaik dan penuh keakraban.

iklan

Begitu sampai, peserta langsung dibagikan piring plus rempeyek kacang tanah dan rempeyek kacang hijau. Menu-menu selanjutnya sudah tinggal pilih layaknya di rumah sendiri. Setelah mengambil nasi putih, peserta bebas memilih menu yang disukainya.

Ada gule daging, ayam goreng, lele goreng ukuran jumbo, nugget goreng, sambal penyet, ulam-ulaman, kecipir, timun, selada dan daun selem. Juga ada kue martabak goreng dan popia goreng sambal. Sedangkan untuk minuman tersedia jus orange dan air mineral. Tidak lupa buah semangka merah sebagai makanan penutup.

Terlihat peserta rihlah sangat menikmati menu yang disediakan tuan rumah. Salah satunya adalah Ali Mu’thi, peserta dari Surabaya. “Ini betul-betul menu Banglades alias bangsa Lamongan ndeso,” celetuk Mu’thi, disambut tawa peserta dan tuan rumah.

Menunya luar biasa nikmat dan gurih. “Mengingatkan masa remaja di desa dulu. Menunya sangat khas orang Lamongan pesisir,” ungkap pria asli Solokuro Lamongan ini.

Menurut Mu’thi, menu selama rihlah sangat enak juga khas negara masing-masing dan memang terasa nikmat. “Tetapi menu penutup di PRIM Klang Lama ini sebagai menu yang paling lezat lagi makyusss,” terang politisi PAN ini.

Sementara itu Sekretaris Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Sidoarjo Ade Eviyanti menyatakan serasa di tanah air Indonesia, lelenya guede-guede (besar-besar). “Di Sidoarjo saja saya belum pernah makan lele sebesar itu. Kecipir yang biasanya direbus ini dimakan mentah, tapi ternyata enak,” papar Ade, sapaan akrabnya.

Peserta rihlah mendapatkan jamuan makan malam penuh keakraban di PRIM Klang Lama Malaysia (Sugiran/PWMU.CO)

Lain lagi dengan komentar Bendahara Majelis Pendidikan Kader (MPK) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyuwangi Cahyaningsih Wiwin Utami. Menurut Ning, panggilan akrabnya, ini menu yang luar biasa, banyak macam, serasa di Indonesia.

“Terbayang betapa ribetnya mereka gegap gempita sibuk menyiapkan segala macam menu untuk tamu, padahal mereka semua para pekerja. Pokoknya keren dan enak sekali,” ujar staf pengajar SMP Muhammadiyah 3 Banyuwangi ini.

Bagi Ning, menu selama rihlah sebenarnya enak-enak, masakannya sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. “Tapi paling enak memang saat di PRIM Klang Lama,” tegasnya.

Dihubungi PWMU.CO melalui Whatapps, Ketua PRIA Klang Lama, Norhabibah menyampaikan tidak butuh lama untuk menyiapkan menu makan malam bersama.

“Setelah berbelanja kebutuhan di Pasaraya Cikres, ibu-ibu langsung memasak. Ada Bu Nor Habibah, Rifatul Hasanah, Syuriyati, Nor Syahida, Muzika dan yang lainnya. Dimulai pagi hari hingga jam lima sore. Pokoknya hanya sehari. Sudah beres dan siap santap semuanya,” terang Nor, sapaan akrabnya.

Di sela acara berlangsung, masih beredar menu bubur kacang hijau dan tape ketan hitam yang dibungkus daun pisang. “Itu sumbangan dari ibu-ibu yang membuat di rumahnya sendiri-sendiri,” ujar Nor.

Kontributor Sugiran. Editor Mohammad Nurfatoni.