Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

113 Tahun Muhammadiyah: Keteguhan yang Menjaga Arah Bangsa

Iklan Landscape Smamda
113 Tahun Muhammadiyah: Keteguhan yang Menjaga Arah Bangsa
Dr. Suli Da'im, MM. Foto: Dok/Pri
Oleh : Dr. Suli Da’im, MM Anggota DPRD Jatim dan Wakil Ketua MPID PWM Jatim
pwmu.co -

Hari ini, Muhammadiyah genap berusia 113 tahun. Sebuah usia yang bagi manusia mungkin sudah sangat sepuh, tetapi bagi sebuah gerakan, justru menandai kematangan, kemapanan, dan keteguhan langkah dalam menebarkan kebaikan.

Tidak banyak organisasi yang mampu bertahan lebih dari satu abad dengan kiprah yang tetap relevan, progresif, dan memberi dampak langsung bagi masyarakat. Muhammadiyah adalah salah satu di antara sedikit itu.

Sejak didirikan pada 18 November 1912 oleh KH. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah tidak hanya bergerak sebagai organisasi keagamaan, tetapi berkembang menjadi kekuatan pembaruan sosial, pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan.

Muhammadiyah hadir bukan untuk memperbanyak wacana, tetapi untuk memperkuat amal nyata; bukan sekadar memproduksi gagasan, tetapi mewujudkannya dalam kerja-kerja pelayanan publik yang konsisten.

Kontribusi Nyata dan Terukur

Kontribusi Muhammadiyah untuk negeri ini bukanlah klaim kosong. Ia hadir dan dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari perkotaan hingga pedalaman.

Di berbagai bidang, Muhammadiyah menjadi pelopor sekaligus penjaga standar pelayanan. Berikut beberapa gambaran kontribusi tersebut:

1. Pendidikan: Melahirkan Generasi Pencerah

Muhammadiyah mengelola 170+ perguruan tinggi, lebih dari 14.000 sekolah dan madrasah, ribuan pesantren modern dan pusat pendidikan nonformal

Lembaga-lembaga ini bukan sekadar tempat belajar, tetapi pusat pembentukan karakter, etika, dan kepemimpinan. Banyak tokoh bangsa lahir dari rahim pendidikan Muhammadiyah.

2. Kesehatan: Jaringan Rumah Sakit Terbesar dari Organisasi Masyarakat

Muhammadiyah memiliki ratusan rumah sakit dan klinik, termasuk beberapa yang terbesar dan terbaik di Indonesia

Keberadaan rumah sakit Muhammadiyah–Aisyiyah menjadi pilar penting layanan kesehatan, terutama bagi masyarakat menengah ke bawah yang membutuhkan pelayanan dengan biaya terjangkau tetapi tetap berkualitas.

3. Sosial dan Kemanusiaan

Melalui Lazismu dan MDMC, Muhammadiyah menjadi salah satu kekuatan kemanusiaan paling tangguh di Indonesia:

  • Konsisten terlibat dalam penanganan bencana nasional
  • Aktif berpartisipasi dalam misi kemanusiaan internasional (Rohingya, Palestina, dan lainnya)
  • Program sosial pemberdayaan yang menjangkau kaum mustadh’afin
  • Dalam hal kecepatan dan profesionalisme, MDMC bahkan sering disebut lebih gesit daripada beberapa lembaga pemerintah.

4. Ekonomi Umat dan Pemberdayaan

Iklan Landscape UM SURABAYA

Gerakan ekonomi Muhammadiyah terus berkembang lewat koperasi, BMT, UMKM binaan, dan berbagai program pemberdayaan.

Meskipun ruang ini masih menjadi pekerjaan rumah besar, kontribusi yang sudah berjalan memberikan fondasi penting bagi penguatan kemandirian ekonomi umat.

Kontribusi besar ini ternyata selaras dengan persepsi masyarakat. Survei Kompas (2023) mencatat:

  • Muhammadiyah termasuk organisasi paling dipercaya publik dalam memberikan kontribusi bagi bangsa.
  • Tingkat kepercayaan terhadap Muhammadiyah berada pada kategori tinggi, terutama karena perannya dalam pendidikan, kesehatan, dan respons cepat terhadap bencana.
  • Publik menilai Muhammadiyah sebagai ormas Islam yang moderate, rasional, dan solutif, tidak hanya sibuk pada retorika identitas, tetapi fokus pada problem nyata masyarakat.

Survei tersebut juga menunjukkan bahwa masyarakat melihat Muhammadiyah sebagai organisasi yang tidak terjebak pada politik praktis, sehingga menjadi jangkar moral bagi bangsa.

Dalam situasi polarisasi, keberadaan Muhammadiyah dianggap sebagai penengah yang menyejukkan.

Tetap Relevan

Menjelang satu abad lebih dekade kedua, Muhammadiyah menunjukkan bahwa gerakan Islam bukan hanya soal ritual dan ceramah, tetapi juga tentang memberi manfaat yang luas bagi manusiasebagaimana pesan QS. Al-Ma’un yang menjadi inspirasi gerakan.

Usia 113 tahun membuat Muhammadiyah bukan hanya matang, tetapi juga semakin siap menjawab tantangan zaman: digitalisasi pendidikan, tantangan kesehatan global, krisis kemiskinan struktural, hingga penetrasi ekstremisme.

Dengan prinsip tajdid (pembaruan), Muhammadiyah berada pada posisi strategis sebagai lokomotif pencerahan.

Akhirnya, di tengah kegaduhan politik, hiruk pikuk ekonomi, dan perubahan sosial yang serba cepat, keberadaan Muhammadiyah tetap menjadi oase.

Muhammadiyah mengajarkan bahwa agama tidak berhenti pada kata-kata, tetapi mesti hadir dalam tindakan yang membebaskan dan mencerahkan.

Menengok perjalanan panjang ini, kita layak menyebut bahwa Muhammadiyah bukan hanya milik warga Persyarikatan, tetapi milik bangsa. Ia tumbuh bersama Indonesia, bekerja untuk Indonesia, dan terus menebarkan cahaya bagi masa depan Indonesia.

Selamat Milad ke-113 Muhammadiyah. Teruslah menjadi pelita yang tidak padam! (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu