Sebagai upaya memperkaya wawasan kebudayaan sekaligus menanamkan nilai kearifan lokal, SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) menggelar program Cultural Learning to Bali pada Rabu–Sabtu (4–7/2/2026).
Kegiatan pembelajaran di luar kelas ini menjadi bagian dari inovasi sekolah dalam menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual, bermakna, dan menyenangkan. Program yang diikuti ratusan siswa kelas XI tersebut mengajak peserta mengenal secara langsung kekayaan budaya Nusantara, khususnya budaya Bali yang sarat tradisi, seni, dan nilai spiritual.
Selama kegiatan berlangsung, siswa tidak hanya mengikuti kunjungan wisata edukatif, tetapi juga mempelajari sejarah, adat istiadat, seni tari, arsitektur, hingga filosofi kehidupan masyarakat Bali.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Smamita, Wahyu Bimas Kurniasandi, S.I.Kom., menjelaskan bahwa Cultural Learning dirancang sebagai wahana penguatan pembelajaran lintas mata pelajaran sekaligus pengembangan karakter siswa.
“Melalui Cultural Learning, kami ingin siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga mampu mengolah, menganalisis, dan menyajikannya dalam bentuk karya. Media video infografis dipilih untuk melatih literasi digital, kreativitas, dan kemampuan komunikasi siswa,” ujarnya di sela kegiatan.
Dalam pelaksanaannya, siswa dibagi ke dalam beberapa rumpun mata pelajaran. Rumpun Sosial yang meliputi Sosiologi, Sejarah, Geografi, dan Ekonomi mengangkat tema sosial, budaya, sejarah, serta dinamika ekonomi masyarakat Bali yang dikemas secara visual dan informatif.
Sementara itu, Rumpun MIPA yang terdiri atas Matematika, Biologi, Kimia, Fisika, dan Informatika berfokus pada penyajian konsep ilmiah secara sederhana, kreatif, tetap akurat, dan aplikatif.
Adapun Rumpun Umum mencakup Seni, Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), dan Kemuhammadiyahan. Pada rumpun ini, siswa diarahkan menampilkan nilai karakter, spiritualitas, kebangsaan, serta ekspresi seni dalam bentuk visual edukatif.
Rumpun Bahasa yang meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Arab, dan Bahasa Jepang menitikberatkan pada keterampilan berbahasa dan komunikasi. Siswa ditantang menyusun narasi, dialog, serta penjelasan materi dengan penggunaan bahasa yang baik, tepat, dan sesuai kaidah.
Wahyu Bimas berharap kegiatan Cultural Learning menjadi pengalaman belajar yang berkesan sekaligus meningkatkan kolaborasi, kreativitas, literasi digital, dan keterampilan komunikasi siswa.
“Kami ingin pembelajaran terasa lebih hidup dan bermakna sehingga siswa lebih siap menghadapi tantangan masa depan,” pungkasnya.
Senada dengan itu, Ketua Pelaksana Ahmad Syihabuddin, S.Sos., menyampaikan bahwa Cultural Learning to Bali dirancang untuk menumbuhkan sikap toleransi, cinta tanah air, serta penghargaan terhadap keberagaman budaya Indonesia.
“Pembelajaran tidak harus selalu berlangsung di dalam kelas. Melalui pengalaman langsung di lapangan, siswa dapat memahami budaya Nusantara secara nyata, menumbuhkan rasa bangga, serta belajar menghargai perbedaan,” tuturnya.
Selama berada di Bali, para siswa mengikuti beragam agenda edukatif, mulai dari kunjungan ke destinasi budaya, pengenalan seni tradisional, hingga diskusi kebudayaan yang dikemas secara interaktif. Kegiatan ini juga menjadi sarana pembentukan karakter agar siswa lebih terbuka, mandiri, dan berwawasan global tanpa meninggalkan jati diri bangsa.
Melalui program ini, SMA Muhammadiyah 1 Taman berharap dapat terus menghadirkan inovasi pembelajaran yang mengintegrasikan aspek akademik, karakter, dan kebudayaan sehingga mampu mencetak generasi pelajar yang berwawasan luas, berkarakter, dan berakhlak mulia. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments