Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menerima kunjungan studi banding dari Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMBJM), Rabu (1/4/2026).
Kunjungan ini dilakukan dalam rangka menggali wawasan serta referensi terkait perencanaan dan pembangunan gedung Fakultas Kedokteran di UMBJM.
Rombongan UMBJM dipimpin Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kerjasama, dan AIK, Dr. Ir. H. Ichwan Setiawan, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng. Turut hadir Dekan Fakultas Teknik Ir. Ar. Evan Elianto Supar, S.T., M.Sc., Wakil Dekan I Ir. Ar. Andi Achmad Priyadharma, S.T., M.Eng., serta Wakil Dekan II Ir. Dyah Pradhitya Hardiyani, S.T., M.T.
Kedatangan rombongan disambut hangat oleh jajaran pimpinan Umsida, termasuk Rektor, Wakil Rektor II, serta tim Badan Perencanaan, Pemeliharaan, dan Pengendalian Pembangunan (BP4).
Dalam sambutannya, Dr. Ichwan Setiawan menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari komunikasi sebelumnya antara kedua institusi.
“Kedatangan kami menindaklanjuti kunjungan sebelumnya bersama BPH beberapa bulan lalu,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pembangunan gedung Fakultas Kedokteran di UMBJM saat ini telah memasuki tahap perencanaan dan segera berlanjut ke proses pelelangan.
“Gambar dan RAB sudah tersedia. Saat ini kami sedang menentukan apakah menggunakan sistem swakelola atau melalui kontraktor,” jelasnya.
Menurutnya, Umsida dipilih sebagai tujuan studi banding karena dinilai berhasil dalam mengelola pembangunan kampus secara efisien, dengan hasil bangunan yang fungsional dan optimal dari sisi anggaran.
Selain itu, kunjungan ini juga dimanfaatkan untuk berdiskusi mengenai standar fasilitas pendidikan, kebutuhan ruang pembelajaran, hingga aspek teknis konstruksi yang mendukung proses pendidikan di bidang kesehatan.
Umsida Utamakan Sistem Swakelola
Wakil Rektor II Umsida, Heri Widodo, menjelaskan bahwa selama ini Umsida lebih memilih sistem swakelola dalam pembangunan kampus.
“Umsida memilih swakelola. BP4 secara struktur bertanggung jawab langsung kepada Rektor dan mengelola pembangunan kampus,” ujarnya.
Ia menambahkan, sistem ini memungkinkan kontrol kualitas yang lebih optimal karena seluruh proses dikelola langsung oleh tim internal.
Meski demikian, pada beberapa aspek tertentu, Umsida tetap melibatkan pihak eksternal, terutama dalam perencanaan desain.
Heri juga menegaskan bahwa pembangunan gedung Fakultas Kedokteran memiliki standar khusus yang berbeda dibandingkan program studi lainnya.
“Fakultas Kedokteran memiliki standar khusus dari KKI dan Kementerian Kesehatan, sehingga harus dipersiapkan secara lebih detail,” ungkapnya.
Perencanaan Gedung FK Butuh Adaptasi Berkelanjutan
Ketua BP4 Umsida, Ir. Nina Rusfalia Yosarini, menjelaskan bahwa timnya menangani proses pembangunan mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan.
Menurutnya, sistem swakelola terbukti lebih efisien dan terkontrol.
“Biaya lebih terjaga, material tetap kualitas terbaik, dan pelaksanaan sesuai perencanaan,” jelasnya.
Namun demikian, pembangunan gedung Fakultas Kedokteran membutuhkan proses evaluasi yang berkelanjutan.
“Setiap ada kunjungan dari KKI atau Kemenkes pasti ada masukan. Revisi sudah kami lakukan lebih dari empat kali,” ujarnya.
Untuk mendukung proses pembelajaran, Umsida juga menerapkan berbagai model ruang, mulai dari kelas reguler hingga ruang kuliah berbentuk teater.
Sebelum pembangunan, BP4 juga melakukan studi banding ke sejumlah perguruan tinggi, seperti Universitas Muhammadiyah Surabaya dan Universitas Negeri Surabaya, guna menyesuaikan dengan regulasi terbaru.
Setelah sesi diskusi di ruang rapat, kegiatan dilanjutkan dengan peninjauan lapangan. Rombongan UMBJM melihat langsung gedung Fakultas Kedokteran Umsida sebagai referensi konkret dalam perencanaan pembangunan di kampus mereka.





0 Tanggapan
Empty Comments