Suasana haru menyelimuti prosesi pelepasan santri kelas XII Madrasah Aliyah (MA) Al-Ishlah Sendangagung Paciran, Lamongan, Jawa Timur, Sabtu (9/5/2026).
Tangis emosional pecah ketika para santri yang baru dinyatakan lulus dipertemukan kembali dengan orang tua mereka dalam momen pelukan dan ciuman penuh kerinduan.
Kegiatan yang digelar di halaman Sekolah Tinggi Ilmu Alquran dan Sains Al-Ishlah itu menjadi agenda tahunan penuh makna dan sakral. Tahun ini, suasana terasa lebih emosional ketika satu per satu santri dijemput orang tua mereka di sisi kiri panggung pelepasan.
Sebanyak 313 santri MA Al-Ishlah larut dalam suasana haru biru. Pelukan hangat antara anak dan orang tua seolah menjadi simbol bahwa para santri telah menyelesaikan perjalanan pendidikan di pondok dan kembali ke pangkuan keluarga.
“Tak sadar seperti sebentar, dua anak ku kembar telah menempuh pendidikan 6 tahun di Pondok Pesantren Al-Ishlah, segala aral rintangan telah dilampaui dengan penuh kesabaran dan keteguhan hati, kini telah tuntas dan dilepas dari Al-Ishlah,” ungkap Fatchur Rohim, Wakil Ketua PCM Paciran yang sekaligus wali santri dua putri kembarnya, Rahma Auliya dan Fithri Auliya.
Suasana emosional juga dirasakan wali santri lainnya, Drs. M. Anwar, M.Pd, ayah dari Evelyn Nova Berliana. Ia mengaku bersyukur dan terharu karena prosesi pelepasan tahun ini terasa berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Sebagai wali santri, ia merasa bangga dan tersentuh dengan pelaksanaan acara yang berlangsung megah dan disaksikan lebih dari 800 pasang mata dalam momentum puncak pelepasan kelas XII tahun pelajaran 2025/2026.
“Rasanya tak tahan membendung air mata ini, lebih-lebih saat kami disandingkan dengan putri ragil kami dalam satu moment yang terindah tak akan pernah terlupakan. Hati terpaut jadi satu dalam satu moment yang indah,” kesan Ustadz Anwar, Wakil Ketua PDM Lamongan 2022-2027 ini.
“Semoga anak kami mampu menunaikan perjuangan, melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dan kami orang tua diberi kemudahan membiayai sampai pendidikannya tuntas, terimakasih Al-Ishlah,” pungkasnya.
Momen penuh haru tersebut juga dirasakan oleh Ustadzah Dra. Muthmainah, istri pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung.
“Moment pertemuan anak dan orang tua disertai pelukan dan ciuman kerinduan memang mengundang rasa haru, tak terasa air mata meleleh di pipi hanyut dalam luapan emosi yang membuat sesak di dada,” ucapnya.
Prosesi pelepasan ini bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan juga menjadi simbol perjuangan panjang para santri dan orang tua dalam menempuh pendidikan pesantren selama bertahun-tahun.





0 Tanggapan
Empty Comments