Momentum pelaksanaan kurban Idul Adha 1447 H menjadi lebih dari sekadar penyembelihan hewan kurban. Lazismu Jatim memanfaatkannya sebagai sarana memperkuat silaturahim sekaligus membangun sinergi strategis dengan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bali.
Audiensi berlangsung di Gedung Dakwah dan Pendidikan PWM Bali, Denpasar, Jumat (29/5/2026) . Pertemuan tersebut membahas penguatan dakwah Muhammadiyah di Bali, pemberdayaan ekonomi umat, pengembangan program kurban berkelanjutan, hingga penguatan kelembagaan Lazismu di daerah.
Dari PWM Bali hadir Hamsun Imtihan, SHI (Sekretaris PWM Bali), Dr. Masruhan, S.Ag, MS (Wakil Ketua Bidang Organisasi, Ideologi, Kaderisasi dan Pembinaan AMM), Drs. M. Barhiman (Wakil Ketua Bidang UMKM, Pemberdayaan Masyarakat dan Lingkungan Hidup), Yusuf (Wakil Ketua Bidang Ekonomi, Bisnis dan Pariwisata), Suradi, SH (Wakil Ketua Bidang Pengembangan Cabang/Ranting dan Pembinaan Masjid), Tatang Mukti (Wakil Sekretaris PWM Bali), Miftah Nurahman, ST (Wakil Bendahara Bidang Pembinaan Kesehatan Umum, Kesejahteraan Sosial, ZIS dan Resiliensi Bencana), serta Irfan dari Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Bali.
Sementara itu, rombongan Lazismu Jawa Timur dipimpin Ketua Lazismu Jatim Imam Hambali, M.SEI didampingi Dewan Pengawas Syariah (DPS) Lazismu Jatim Dr. Dian Berkah.

Pada Iduladha tahun ini, Lazismu Jawa Timur melaukan pemotongan 142 ekor sapi di Bali dengan total berat mencapai 29,6 ton. Kurban tersebut berasal dari hampir 1.000 pekurban yang mempercayakan pelaksanaan ibadah kurbannya melalui Lazismu.
Dalam sambutannya, Hamsun Imtihan menjelaskan sejarah perkembangan Muhammadiyah di Pulau Dewata. Muhammadiyah mulai hadir di Jembrana pada tahun 1934, berkembang ke Buleleng pada 1939, hadir di Denpasar pada 1948, dan pada tahun 1962 resmi menjadi PWM Bali.
Menurutnya, sinergi dengan Lazismu Jatim menjadi peluang besar untuk memperkuat dakwah dan pemberdayaan masyarakat di Bali yang memiliki karakteristik sebagai daerah minoritas Muslim.
“Lazismu bukan hanya lembaga filantropi, tetapi instrumen pemberdayaan persyarikatan,” ujarnya.
Dalam diskusi tersebut muncul gagasan membangun kolaborasi jangka panjang antara PWM Bali dan Lazismu Jatim melalui pemberdayaan peternak sapi Bali. Potensi sapi Bali dinilai dapat menjadi bagian dari rantai pasok program kurban Muhammadiyah di Jatim sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan peternak lokal.
Imam Hambali menjelaskan, penguatan Lazismu harus dilakukan melalui konsolidasi yang baik dan memiliki arah gerakan yang sama.
“Lazismu harus menjadi motor penggerak persyarikatan, baik untuk menggerakkan majelis, lembaga, ortom maupun masjid,” ujarnya.
Dia juga menawarkan penggunaan Sistem Informasi Manajemen ZISKA kepada PWM Bali sebagai bagian dari penguatan tata kelola zakat, infak, dan sedekah.
Salah satu gagasan yang mendapat perhatian dalam audiensi tersebut adalah pengembangan daging kurban menjadi produk pangan olahan yang memiliki daya simpan panjang.
“Daging kurban tidak harus habis dalam satu atau dua hari setelah Iduladha. Sebagian dapat diolah menjadi RendangMu, BaksoMu maupun KornetMu sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat sepanjang tahun,” ungkapnya.

Imam lalu menjelaskan, satu sapi untuk tujuh orang pekurban bisa memberikan manfaat lebih luas apabila diolah menjadi produk ketahanan pangan.
“Produk tersebut dapat dimanfaatkan untuk program kebencanaan, bantuan sosial, penanganan stunting hingga kegiatan dakwah,” jelasnya.
Dian Berkah menambahkan, pemanfaatan kurban secara produktif merupakan bagian dari perluasan manfaat ibadah kurban.
Dia mendorong Lazismu Bali mulai mengembangkan pengolahan sebagian hewan kurban menjadi produk pangan yang dapat digunakan untuk program sosial dan kemanusiaan.
“Kalau sebagian kurban diolah menjadi RendangMu atau BaksoMu, manfaatnya tidak berhenti pada hari tasyrik saja, tetapi bisa berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun,” ujar dosesn Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) itu.
Masruhan menyambut baik berbagai gagasan yang disampaikan Lazismu Jatim. Menurutnya, Bali memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan, namun masih membutuhkan penguatan sumber daya manusia dan pendampingan berkelanjutan.
“PWM Bali membutuhkan kolaborasi jangka panjang. Banyak ide yang bisa dikembangkan, mulai dari ekonomi, wisata, pendidikan hingga program sosial kemasyarakatan,” katanya.
Pada akhir pertemuan, Tatang Mukti menyampaikan harapan agar silaturahim tersebut tidak berhenti pada audiensi semata.
PWM Bali berencana menindaklanjutinya melalui komunikasi kelembagaan dengan PWM Jawa Timur untuk membangun program pembinaan dan kolaborasi yang berkelanjutan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments