Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Stan Senjata Tradisional Jadi Magnet Bazar Muktamar XVI Tapak Suci Sedunia

Iklan Landscape Smamda
Stan Senjata Tradisional Jadi Magnet Bazar Muktamar XVI Tapak Suci Sedunia
Lia Vironika mmamerkan senjata yang dijual di stan bazar Muktamar XVI Tapak Suci. Foto: Daris Ramadhan/PWMU.CO
pwmu.co -

Di antara puluhan stan yang memeriahkan bazar Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah Sedunia di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), 6–9 Agustus 2026, stan Pimpinan Pusat Tapak Suci Yogyakarta menjadi salah satu yang paling ramai dikunjungi.

Bukan tanpa alasan, stan ini memamerkan sekaligus menjual berbagai senjata tradisional yang biasa digunakan dalam seni pencak silat.

Deretan senjata yang dipajang menarik perhatian peserta muktamar maupun pengunjung. Mulai dari Golok Mawar, Golok Naga, Golok IPSI, Kipas Karbit, Celurit, Kujang, hingga Segu atau Kasegu, senjata khas Tapak Suci.

Masing-masing senjata memiliki karakter dan filosofi tersendiri. Golok Mawar dikenal memiliki bilah yang ramping sehingga banyak digunakan dalam seni pencak silat yang menonjolkan keluwesan gerakan dan ketepatan teknik.

Sementara Golok Naga memiliki bentuk lebih besar dengan ornamen menyerupai naga yang melambangkan kekuatan, keberanian, dan kewibawaan.

Adapun Golok IPSI dibuat mengikuti standar yang digunakan dalam pertandingan seni pencak silat di bawah Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Karena bentuk dan ukurannya telah disesuaikan dengan regulasi pertandingan, golok jenis ini banyak digunakan para atlet pencak silat.

Pengunjung juga tampak tertarik melihat Kipas Karbit, senjata berbahan logam yang dapat dibuka dan ditutup dengan cepat.

Meski tampak seperti kipas biasa, alat ini digunakan dalam seni pencak silat untuk menampilkan perpaduan keindahan gerak, kecepatan, dan teknik pertahanan diri.

Sementara itu, Celurit yang identik dengan budaya Madura dan Kujang sebagai senjata khas masyarakat Sunda turut melengkapi koleksi di stan tersebut. Kedua senjata tradisional itu kerap digunakan dalam nomor seni pencak silat sekaligus menjadi bagian dari upaya melestarikan warisan budaya Nusantara.

Salah satu yang paling menarik perhatian adalah Segu atau Kasegu, senjata khas Perguruan Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Nama Segu merupakan akronim dari Serba Guna, menggambarkan fungsi senjata yang dapat digunakan dalam berbagai teknik bela diri.

Senjata unik ini diciptakan oleh Pendekar Besar M. Barie Irsjad. Bentuknya kemudian diabadikan sebagai lambang resmi pada atribut anggota Tapak Suci, sehingga tidak hanya memiliki fungsi teknis, tetapi juga nilai historis dan filosofis sebagai identitas perguruan.

SMPM 5 Pucang SBY

Lia Vironika, kader Tapak Suci Yogyakarta yang menjaga stan, mengatakan seluruh senjata yang dipasarkan merupakan hasil karya perajin asal Yogyakarta.

“Semua senjata ini asli dari Yogyakarta dan dibuat secara handmade. Jadi setiap produk dikerjakan secara manual dengan memperhatikan kualitas dan detail,” ujarnya.

Menurut Lia, senjata-senjata tersebut diperuntukkan sebagai perlengkapan latihan, pertunjukan seni pencak silat, maupun koleksi, sehingga banyak diminati pesilat dari berbagai daerah yang hadir dalam muktamar.

Selain menjual senjata tradisional, stan tersebut juga menyediakan berbagai merchandise Tapak Suci, seperti kaus, topi, gantungan kunci, dan aksesori lainnya.

Lia mengungkapkan, hasil penjualan selama Muktamar XVI Tapak Suci tidak semata-mata untuk kegiatan usaha. Seluruh keuntungan akan digunakan untuk mendukung pembangunan padepokan Tapak Suci di Yogyakarta.

“Keuntungan dari penjualan merchandise maupun senjata ini akan kami gunakan untuk pembangunan padepokan Tapak Suci. Semoga dapat mendukung pengembangan fasilitas latihan dan pembinaan kader di masa mendatang,” katanya.

Keberadaan stan senjata tradisional ini tidak hanya menjadi daya tarik bazar, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi peserta muktamar mengenai ragam persenjataan dalam pencak silat.

Melalui koleksi yang dipamerkan, Tapak Suci turut memperkenalkan filosofi setiap senjata sekaligus melestarikan warisan budaya bela diri Indonesia kepada generasi muda. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 06/08/2026 21:59
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu