Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Selamat Jalan Mas Qosdus Sabil: Tentang Sahabat, Perjalanan, dan Kader Otentik Persyarikatan.

Iklan Landscape Smamda
Selamat Jalan Mas Qosdus Sabil: Tentang Sahabat, Perjalanan, dan Kader Otentik Persyarikatan.
pwmu.co -

Sekitar pukul 22.00 WIB, saya membuka pesan di WhatsApp Group PP Fokal IMM. Ada kiriman dari Mas Chepy atau Kang Asep. Pesannya singkat, tetapi begitu dalam mengguncang perasaan:

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Telah berpulang ke rahmatullah Mas Qosdus Sabil, pukul 21.43 WIB di RSPAD Jakarta.”

Saya sejenak tersentak. Diam. Seperti tidak percaya.

Beberapa waktu terakhir saya masih melihat pembaruan status Mas Qosdus di Facebook. Dari apa yang saya lihat, kondisinya tampak jauh lebih sehat. Ada optimisme, ada semangat, dan ada kesan bahwa ia sedang melewati fase sulit dari perjalanan panjang sakit yang dideritanya. Karena itu, kabar kepergiannya terasa begitu mendadak.

Tetapi mungkin begitulah kehidupan. Kita sering membuat banyak rencana, sementara Allah telah menyiapkan ketetapan-Nya sendiri.

Malam itu, ingatan saya kemudian berjalan jauh ke belakang. Jauh sebelum kami mengenal WhatsApp, Facebook, atau media sosial seperti sekarang. Jauh sebelum kehidupan membawa kami pada jalan pengabdian masing-masing.

Saya mengenal Mas Qosdus Sabil sejak sama-sama aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pada dekade 1990-an. Kemudian perjalanan itu berlanjut ketika kami sama-sama berada di Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur pada dekade 2000-an.

Itulah masa ketika menjadi aktivis persyarikatan bukan sekadar mengenakan atribut organisasi. Ada dinamika, ada perdebatan, ada perbedaan pandangan, ada idealisme yang terkadang harus berhadapan dengan kenyataan. Kami belajar bahwa menjadi kader Muhammadiyah berarti harus siap berada di ruang perjuangan yang tidak selalu nyaman.

Kami tumbuh dalam kultur aktivisme yang menuntut keberanian menyampaikan pendapat. Kadang keras dalam forum, tetapi tetap bersahabat setelah forum selesai. Kadang berbeda pilihan, tetapi tidak harus kehilangan persaudaraan.

Mas Qosdus adalah salah satu sahabat yang saya kenal dalam perjalanan panjang itu.

Kami sama-sama pernah menjadi Ketua Umum DPD IMM Jawa Timur, meskipun Mas Qosdus berada sekitar empat tingkat di bawah perjalanan kepemimpinan saya. Perbedaan generasi dalam organisasi ternyata tidak pernah menjadi penghalang bagi komunikasi kami.

Justru dari sanalah saya melihat sesuatu yang khas dari dirinya.

Ia bukan tipe orang yang selalu mengatakan apa yang ingin didengar orang lain.

Dalam banyak kesempatan, ketika menurut pandangannya ada sesuatu yang perlu diperbaiki, ia akan menyampaikannya. Ketika sebuah kebijakan atau langkah kepemimpinan dirasakannya tidak searah dengan nilai dan garis perjuangan persyarikatan, ia tidak segan mengingatkan.

Dan yang saya ingat, ia tidak terlalu peduli siapa yang sedang berada di hadapannya.

Bagi saya, sikap seperti itu adalah bagian dari karakter seorang kader.

Tentu, dalam perjalanan organisasi, ketegasan semacam itu terkadang melahirkan dinamika. Ada perbedaan cara pandang. Ada perdebatan. Ada situasi ketika komunikasi terasa tidak selalu mudah. Tetapi setelah waktu berjalan, saya semakin memahami bahwa di balik ketegasannya itu ada kepedulian.

Ia ingin persyarikatan tetap berada di jalan yang diyakininya benar.

Ia ingin kader-kader Muhammadiyah terus berpikir.

Ia ingin organisasi tidak kehilangan idealisme hanya karena berhadapan dengan kepentingan sesaat.

Dan bagi saya, justru di situlah salah satu makna kader otentik persyarikatan.

Kader otentik bukanlah kader yang selalu seragam dalam pikiran. Bukan pula kader yang hanya pandai mengikuti arus. Kader otentik adalah mereka yang memiliki nilai, memiliki keberanian untuk bersuara, tetapi tetap menempatkan persyarikatan sebagai rumah perjuangan bersama.

Mas Qosdus memiliki warna itu.

Saya masih sangat ingat sebuah peristiwa yang mungkin bagi sebagian orang sederhana, tetapi bagi saya memiliki makna yang sangat dalam.

Awal tahun 2025, ketika PP Fokal IMM mengadakan buka puasa bersama di kampus UMJ, Mas Qosdus hadir dengan menggunakan kursi roda.

Saya tahu kondisi kesehatannya ketika itu belum benar-benar baik.

Secara fisik ia sedang berjuang.

Tetapi semangatnya untuk datang tidak kalah dengan mereka yang secara fisik jauh lebih sehat.

Ia hadir bukan sekadar untuk memenuhi undangan. Ia datang membawa gagasan, membawa pengalaman, membawa energi intelektual dan kegelisahan tentang bagaimana kader-kader persyarikatan harus terus berkiprah.

Di tengah keterbatasan fisiknya, pikirannya tetap berjalan.

Bahkan mungkin lebih jauh.

Kami berbicara tentang banyak hal. Tentang kader. Tentang Muhammadiyah. Tentang IMM. Tentang bagaimana alumni IMM seharusnya tidak berhenti bergerak setelah meninggalkan kampus. Tentang bagaimana pengalaman organisasi harus diterjemahkan menjadi amal nyata bagi masyarakat.

Saya melihat sendiri bahwa sakit tidak serta-merta mematikan semangat pengabdiannya.

Justru di situlah saya belajar sesuatu dari Mas Qosdus.

Tubuh boleh melemah, tetapi pikiran dan semangat perjuangan tidak harus ikut menyerah.

Perjalanan sakit yang dia jalani juga memberi pelajaran tentang kesabaran. Saya membayangkan betapa berat proses yang harus dilaluinya. Tetapi dari apa yang saya lihat, ia berusaha menjalaninya dengan sabar dan penuh semangat.

Dan satu hal lain yang saya kenang: silaturahim.

SMPM 5 Pucang SBY

Mas Qosdus adalah orang yang menjaga hubungan.

Dalam perjalanan panjang sebagai aktivis, hubungan antarmanusia adalah sesuatu yang sangat berharga. Jabatan berganti. Struktur organisasi berubah. Orang-orang yang dahulu sering bersama akhirnya mengambil jalan masing-masing. Tetapi silaturahim menjadi jembatan yang membuat persaudaraan tetap hidup.

Begitulah saya mengenang Mas Qosdus.

Bukan hanya sebagai seorang mantan Ketua Umum DPD IMM Jawa Timur.

Bukan hanya sebagai aktivis Pemuda Muhammadiyah.

Bukan hanya sebagai bagian dari keluarga besar Fokal IMM.

Tetapi sebagai sahabat seperjalanan.

Sahabat yang pernah bersama-sama merasakan denyut aktivisme persyarikatan. Sahabat yang pernah berada dalam ruang-ruang diskusi, perdebatan, dan perjuangan. Sahabat yang terkadang berbeda pandangan, tetapi tetap memiliki satu rumah besar: Muhammadiyah.

Kini perjalanan itu telah sampai pada batas yang tidak bisa kita tawar.

Saya mungkin masih bisa mengingat suara, gagasan, ketegasan, senyum, dan semangatnya. Tetapi saya tidak lagi bisa bertemu secara fisik dengannya.

Di situlah saya kembali diingatkan bahwa setiap manusia pada akhirnya akan sampai pada titik yang sama.

Kita datang dari Allah.

Kita menjalani perjalanan dengan segala cerita, keberhasilan, kesalahan, perdebatan, persahabatan, dan pengabdian.

Kemudian kita kembali kepada-Nya.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Mas Qosdus, sahabatku, perjalananmu di dunia telah selesai.

Terima kasih atas persahabatan yang pernah terjalin. Terima kasih atas gagasan-gagasan yang pernah engkau sampaikan. Terima kasih karena pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang kami sebagai kader IMM dan kader persyarikatan.

Jika dalam perjalanan panjang kita pernah berbeda pandangan, pernah berdebat, pernah ada dinamika, saya yakin semuanya merupakan bagian dari proses kita belajar menjadi manusia dan kader yang lebih baik.

Hari ini saya memilih untuk mengenang kebaikanmu.

Saya mengenang keteguhanmu.

Saya mengenang semangatmu.

Saya mengenang keberanianmu untuk mengingatkan ketika melihat sesuatu yang menurutmu perlu diluruskan.

Dan saya terutama mengenang bagaimana engkau tetap hadir untuk persyarikatan bahkan ketika tubuhmu sedang berjuang melawan sakit.

Itulah warisan yang tidak mudah hilang.

Selamat jalan, Mas Qosdus Sabil.

Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf dan kesalahanmu, menerima seluruh amal ibadah dan amal perjuanganmu, melapangkan kuburmu, memberikan cahaya dan rahmat-Nya, serta menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.

Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan.

Dan bagi kami yang masih diberi kesempatan hidup, kepergianmu adalah pengingat bahwa perjuangan sebagai kader persyarikatan belum selesai.

Kita masih memiliki tugas untuk menjaga nilai-nilai yang dahulu kita perjuangkan bersama: keikhlasan, keberanian, kecerdasan, pengabdian, persaudaraan, dan keberpihakan kepada kemaslahatan umat.

Selamat jalan, sahabat.

Husnul khatimah, Mas Qosdus Sabil.

Semoga perjalanan panjangmu di dunia menjadi bekal menuju kehidupan yang jauh lebih abadi.

Al-Fatihah.

Revisi Oleh:
  • Satria - 16/09/2026 10:56
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu