Nilai sempurna 100 pada Cambridge Checkpoint bukan datang dalam semalam. Bagi Kamila Mutiara Berlina, capaian itu lahir dari kebiasaan belajar yang teratur, disiplin mengatur waktu, serta dukungan keluarga.
Alumni SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat) itu berhasil meraih nilai 100 dengan predikat Outstanding pada tiga mata pelajaran Cambridge Checkpoint: Mathematics, Science, dan English.
Kini, Kamila melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Surabaya. Pada Sabtu (12/9/2026), ia kembali ke sekolah yang pernah menjadi tempatnya belajar untuk berbagi pengalaman dan memberikan motivasi kepada para guru serta adik-adik kelasnya.
Direktur Cambridge Mudipat, Ustadzah Siti Zubaidah, S.Pd, menyampaikan kebanggaannya atas prestasi yang diraih Kamila. Menurut dia, capaian tersebut tidak terlepas dari kesungguhan dan konsistensi Kamila dalam belajar.
Bagi Kamila, keberhasilan dalam Cambridge bukan hanya soal kemampuan akademik. Ada kebiasaan yang terus dijaga, terutama dalam mempersiapkan diri menghadapi pelajaran berbahasa Inggris.
Di hadapan adik-adik kelasnya, Kamila membagikan sejumlah tips. Ia mengajak mereka mengikuti pelajaran Cambridge, terutama Mathematics, Science, dan English, dengan sungguh-sungguh.
“Open your eyes and your ears, perbanyak vocabulary agar lebih mudah memahami kata-kata yang sulit, dan sering-sering membaca novel berbahasa Inggris karena sangat berpengaruh dalam belajar bahasa Inggris,” tutur Kamila.
Membaca Novel untuk Menambah Vocabulary
Salah satu kebiasaan yang dilakukan Kamila adalah membaca novel berbahasa Inggris. Menurut dia, membaca bukan hanya menjadi aktivitas untuk mengisi waktu luang, tetapi juga membantunya memahami kosakata dan penggunaan bahasa Inggris dalam konteks yang lebih luas.
“Novel yang aku suka saat ini judulnya Warriors,” ucapnya.
Kebiasaan tersebut berjalan beriringan dengan pola belajar yang diterapkan Kamila di rumah. Ia terbiasa mengatur waktu antara belajar, bermain, dan menggunakan gadget.
Kamila hadir dalam kunjungan tersebut bersama sang kakek yang mewakili kedua orang tuanya. Sang kakek menceritakan bahwa kedisiplinan dalam mengatur waktu menjadi salah satu kebiasaan yang diterapkan keluarga di rumah.
Waktu belajar dan bermain gadget diatur sehingga keduanya tidak saling mengganggu. Keluarga juga memberikan batasan dalam penggunaan gadget agar Kamila tetap dapat menjaga fokus terhadap kegiatan belajar.
Dengan pola tersebut, belajar perlahan menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Kamila tidak harus selalu diingatkan untuk belajar karena sudah terbiasa menjalankan jadwal yang telah dibuat.
Bagi Mudipat, capaian Kamila menjadi gambaran bahwa prestasi akademik tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengikuti pelajaran di sekolah. Kebiasaan belajar di rumah, kedisiplinan mengatur waktu, kegemaran membaca, dan dukungan keluarga turut membentuk proses tersebut.
Sebagai bentuk apresiasi, Mudipat memberikan penghargaan kepada Kamila atas pencapaiannya dalam Cambridge Checkpoint. Penghargaan itu sekaligus menjadi motivasi agar Kamila terus mengembangkan kemampuan dan meraih prestasi pada jenjang pendidikan berikutnya.
Pertemuan dengan para guru Mudipat ditutup dengan pesan sederhana dari Kamila. Ia menyampaikan terima kasih kepada para guru yang pernah mendampinginya selama belajar di sekolah tersebut.
“Terima kasih sudah mengajar saya sampai di titik ini, Ustadz dan Ustadzah,” ungkap Kamila.
Prestasi Kamila menunjukkan bahwa nilai sempurna bukan sekadar angka di lembar hasil belajar. Di baliknya ada proses panjang yang dibangun melalui kesungguhan, kebiasaan membaca, disiplin, dan konsistensi. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments