Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari Perempuan yang Dididik Menjadi Perempuan yang Mendidik

Iklan Landscape Smamda
Dari Perempuan yang Dididik Menjadi Perempuan yang Mendidik
Ilustrasi
Oleh : Yulina Fadilah dosen Institut Ahmad Dahlan Probolinggo dan kader Nasyiatul Aisyiyah Kabupaten Pasuruan

Muktamar XV Nasyiatul Aisyiyah bulan lalu mengangkat tema “Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan”. Ada satu pertanyaan yang menurut saya penting untuk direnungkan bersama: setelah seorang perempuan mendapatkan pendidikan, untuk apa ilmu itu digunakan?

Kita sering merayakan keberhasilan pendidikan perempuan dari gelarnya. Kita bangga ketika namanya diikuti sederet gelar akademik, ketika ia memperoleh pekerjaan, membangun karier, menjadi pemimpin, atau mampu berdiri mandiri secara ekonomi. Semua itu layak diapresiasi.

Tetapi pendidikan semestinya tidak berhenti sebagai pencapaian personal. Pendidikan bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang dapat berdiri, melainkan juga tentang seberapa luas ia mampu memberi manfaat setelah mencapai posisi tersebut.

Bagi saya, pendidikan perempuan seharusnya melahirkan sebuah perjalanan: dari perempuan yang dididik menjadi perempuan yang mendidik.

Mendidik tidak selalu berarti berdiri di depan kelas dengan buku di tangan. Mendidik adalah kemampuan membuat orang lain bertumbuh. Seorang ibu mendidik anaknya. Seorang guru mendidik muridnya. Seorang pemimpin mendidik kadernya.

Seorang perempuan di tengah masyarakat dapat mendidik melalui gagasan, keteladanan, kepedulian, bahkan melalui keberaniannya mengambil peran. Karena itu, perempuan yang berpendidikan bukan sekadar perempuan yang memiliki lebih banyak pengetahuan—ia adalah perempuan yang mampu mengubah pengetahuan menjadi kebermanfaatan.

Gagasan tentang perempuan yang belajar, bertumbuh, lalu mendidik dan menggerakkan masyarakat bukanlah hal baru dalam perjalanan Nasyiatul Aisyiyah.

Cikal bakal organisasi ini berawal dari Siswa Praja Wanita (SPW), yang tidak hanya menjadi ruang pengajian, tetapi juga tempat perempuan muda belajar berpidato, mengembangkan keterampilan, memberikan pendidikan kepada anak-anak, dan melakukan kegiatan sosial.

Di sana ada pesan yang tetap relevan hingga hari ini: perempuan tidak cukup hanya menjadi penerima pendidikan, tetapi perlu dipersiapkan menjadi penggerak pendidikan dan kehidupan sosial.

Pada masa ketika ruang perempuan masih sangat terbatas, keberanian perempuan muda Muhammadiyah untuk belajar dan mengambil peran adalah sebuah lompatan pemikiran. Pendidikan membuka pintu; dari ruang belajar, mereka bergerak menuju ruang pengabdian.

Hari ini zaman telah berubah. Perempuan memiliki kesempatan pendidikan yang jauh lebih luas—hadir di kampus, sekolah, ruang profesi, organisasi, dunia usaha, hingga ruang kepemimpinan. Namun, semangat dasarnya tetap sama: ilmu yang diperoleh harus menemukan jalan untuk menjadi amal dan kebermanfaatan.

Sebagai dosen, saya beruntung dapat menyaksikan proses itu dari dekat. Setiap hari, ruang kelas mempertemukan saya dengan mahasiswa yang membawa latar belakang, pengalaman, dan cita-cita berbeda. Sebagian sedang mempersiapkan diri menjadi guru, profesional, ibu, atau pemimpin.

Dari ruang kelas, saya belajar bahwa mengajar bukan sekadar menyampaikan materi perkuliahan. Ada sesuatu yang jauh lebih panjang dari satu pertemuan di kelas.

Ketika seorang mahasiswa belajar hari ini, hasilnya mungkin belum terlihat. Tetapi kelak, ketika ia berdiri di depan kelas sebagai guru, ilmu yang pernah diterimanya dapat berpindah kepada anak-anak yang ia didik. Nilai yang ia yakini dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter murid-muridnya.

Mendidik seorang perempuan, dengan demikian, berarti membuka kemungkinan untuk mendidik banyak kehidupan setelahnya. Dari satu perempuan, lahir pengaruh yang bergerak ke dalam keluarga, sekolah, komunitas, dan masyarakat.

Ketika seorang perempuan belajar, ada keluarga yang berpeluang ikut belajar. Ketika seorang perempuan menggunakan ilmunya untuk mendidik, sesungguhnya ia sedang menanam sesuatu yang hasilnya mungkin baru terlihat pada generasi mendatang.

Di tengah semakin terbukanya kesempatan perempuan untuk belajar dan berkarier, ada pertanyaan lain yang tak kalah penting: apakah perempuan berkemajuan cukup diukur dari keberhasilan personalnya?

Pendidikan tinggi, karier, kepemimpinan, dan kemandirian ekonomi tentu baik. Tetapi keberhasilan tidak seharusnya berhenti pada apa yang kita peroleh untuk diri sendiri.

Jangan sampai pendidikan hanya membuat kita lebih tinggi secara posisi, tetapi tidak lebih luas dalam memberi manfaat. Jangan sampai gelar hanya menjadi identitas di belakang nama, tetapi tidak menjadi energi untuk mengubah kehidupan.

Dan jangan sampai kita berhenti pada kalimat “saya sudah berhasil”, tanpa pernah melanjutkannya dengan pertanyaan: “siapa yang bisa saya bantu untuk ikut bertumbuh?”

Pertanyaan terakhir itulah yang membuat gagasan perempuan berkemajuan menjadi lebih bermakna. Menjadi perempuan berkemajuan bukan sekadar mampu mengikuti perubahan zaman, tetapi juga mampu memberi arah terhadap perubahan tersebut.

SMPM 5 Pucang SBY

Kader Nasyiatul Aisyiyah hari ini tumbuh di tengah dunia yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Teknologi digital berkembang begitu cepat. Kecerdasan buatan mulai masuk ke berbagai bidang kehidupan. Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik, tetapi tidak semuanya benar.

Persoalan pendidikan, keluarga, perempuan dan anak, ekonomi, lingkungan, hingga kehidupan sosial pun semakin kompleks. Dalam situasi seperti ini, perempuan tidak cukup hanya menjadi pengguna perubahan—perempuan perlu menjadi bagian dari mereka yang menciptakan, mengarahkan, sekaligus memastikan perubahan membawa kemaslahatan.

Karena itu, ilmu menjadi penting. Tetapi ilmu saja tidak cukup. Ilmu harus bertemu dengan nilai, pengetahuan harus bertemu dengan kepedulian, dan kemajuan harus bertemu dengan tanggung jawab.

Semangat ini menemukan relevansinya dalam arah gerakan Nasyiatul Aisyiyah hari ini. Tema Muktamar XV membawa kita pada kesadaran bahwa kemajuan perempuan tidak dapat dipisahkan dari masa depan masyarakat dan peradaban.

Peradaban tidak selalu dibangun melalui keputusan besar atau ruang-ruang kekuasaan. Ia juga dibentuk melalui hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.

Seorang ibu yang menanamkan nilai kepada anaknya sedang membangun peradaban. Seorang guru yang mengajarkan kejujuran kepada muridnya sedang membangun peradaban. Seorang dosen yang menumbuhkan keberanian berpikir pada mahasiswanya, dan seorang kader yang hadir untuk memberdayakan perempuan lain, juga sedang membangun peradaban.

Ruang perjuangan perempuan sesungguhnya sangat luas. Ada yang memilih ruang kelas, ada yang bergerak melalui keluarga, ada yang mengabdi melalui organisasi dan komunitas, ada yang membangun kemandirian melalui ekonomi, dan ada pula yang menggunakan teknologi serta ruang digital untuk menyebarkan gagasan dan pengetahuan.

Bentuk perjuangannya boleh berbeda, tetapi pertanyaannya tetap sama: apakah keberadaan kita membawa perubahan yang baik bagi orang lain?

Pertanyaan inilah yang perlu terus dirawat oleh kader Nasyiatul Aisyiyah. Menjadi kader tidak berhenti pada keanggotaan atau seberapa sering kita terlibat dalam kegiatan organisasi.

Kaderisasi seharusnya melahirkan perempuan yang terus belajar, memiliki kepedulian, mampu mengambil peran, dan bersedia menggunakan kapasitasnya untuk memberi manfaat.

Dengan kata lain, keberhasilan kader tidak semata-mata diukur dari berapa banyak kegiatan yang terlaksana, tetapi dari berapa banyak kehidupan yang berubah menjadi lebih baik karena kehadirannya.

Pada akhirnya, saya semakin percaya bahwa pendidikan perempuan bukanlah garis akhir, melainkan awal dari sebuah tanggung jawab.

Perempuan yang telah memperoleh kesempatan belajar memiliki kesempatan untuk membuka pintu belajar bagi orang lain. Perempuan yang telah menemukan jalan untuk bertumbuh dapat membantu orang lain menemukan jalan pertumbuhannya sendiri.

Mungkin inilah makna sederhana dari perjalanan dari perempuan yang dididik menjadi perempuan yang mendidik.

Kita tidak hanya ingin melahirkan perempuan yang pintar, tetapi perempuan yang mampu membuat orang lain ikut bertumbuh. Kita tidak hanya ingin melahirkan perempuan yang kuat, tetapi perempuan yang mampu menguatkan. Kita tidak hanya ingin melahirkan perempuan yang maju, tetapi perempuan yang bersedia mengajak perempuan lain untuk maju bersama.

Sebab pada akhirnya, pendidikan yang kita terima bukan hanya tentang siapa diri kita hari ini, tetapi tentang siapa yang kelak tumbuh karena ilmu yang kita miliki.

Dan mungkin di sanalah salah satu makna menjadi perempuan Nasyiatul Aisyiyah menemukan tempatnya: belajar untuk bertumbuh, bertumbuh untuk memberi manfaat, dan memberi manfaat untuk ikut menjaga arah peradaban.

Sebab perempuan yang dididik adalah sebuah harapan. Tetapi perempuan yang memilih untuk mendidik adalah kekuatan yang mengubah masa depan.

Revisi Oleh:
  • Satria - 12/09/2026 14:37
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu