Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mesin Boleh Menghitung, Manusia Tetap Menjadi Pilot

Iklan Landscape Smamda
Mesin Boleh Menghitung, Manusia Tetap Menjadi Pilot
Oleh : H.M. Syadid, Lc., M.H. Kandidat Doktor Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Surabaya

Sebuah paparan pemasaran di Surabaya pekan ini ditutup dengan kalimat yang tidak biasa untuk forum bisnis: mesin bukan kopilot, melainkan kita yang harus tetap menjadi pilotnya. Di panggung yang sama, istilah yang digunakan bukan lagi artificial intelligence, melainkan intelligence augmentation—kecerdasan yang diperkuat, bukan kecerdasan yang menggantikan manusia.

Bagi warga Muhammadiyah, gagasan itu terasa akrab. Persyarikatan ini sejak awal berdiri di atas keyakinan bahwa manusia harus menggunakan akalnya dan mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang diambilnya.

Ada data yang membuat keyakinan itu bukan sekadar retorika. Riset yang dipaparkan dalam forum tersebut menunjukkan sekitar 66 persen pembeli daring di Asia menggunakan kecerdasan buatan untuk mencari rekomendasi produk, tetapi hanya sekitar 16 persen yang memakainya untuk benar-benar memutuskan pembelian.

Ketika peneliti bertanya kepada siapa mereka paling percaya, jawaban terbanyak tetap menunjuk pada saran teman dan keluarga, sekitar 40 persen, disusul ulasan sesama pengguna sekitar 37 persen. Mesin mengubah cara orang mencari informasi, tetapi belum mengubah kepada siapa mereka memberikan kepercayaan.

Temuan itu sangat penting bagi persyarikatan yang mengelola ribuan sekolah, puluhan perguruan tinggi, ratusan rumah sakit dan klinik, panti asuhan, serta lembaga keuangan mikro. Modal terbesar amal usaha kita bukan teknologi, melainkan kepercayaan yang dibangun selama puluhan tahun oleh guru, perawat, dan pengurus yang dikenal warga. Justru bagian itulah yang paling sulit diotomasi.

Kita dapat menyerahkan kepada mesin pekerjaan seperti menyusun brosur, menjawab pertanyaan berulang, merapikan data, dan meringkas laporan. Namun, kita tidak dapat menyerahkan alasan mengapa seorang wali murid memilih sekolah kita atau mengapa seorang pasien merasa aman menjalani perawatan di rumah sakit kita.

Kepercayaan Tetap Menjadi Modal Utama

Ada pula peringatan yang tidak boleh kita lewatkan. Adopsi teknologi tidak otomatis menghasilkan perubahan. Data yang dipaparkan menunjukkan mayoritas perusahaan di Indonesia belum merasakan perubahan pendapatan setelah menggunakan kecerdasan buatan. Hanya sekitar sepersepuluh yang berhasil menekan biaya sekaligus meningkatkan pendapatan.

Survei Gartner tahun ini bahkan mencatat para pemimpin pemasaran telah mengalokasikan sekitar 15 persen anggarannya untuk kecerdasan buatan, tetapi hanya sekitar 30 persen dari mereka yang benar-benar siap mengembangkannya dalam skala besar.

Membeli alat memang mudah; membangun kemampuan untuk menggunakannya justru jauh lebih sulit.

Kemampuan itu sebenarnya dapat kita uraikan menjadi empat langkah sederhana. Menariknya, keempat langkah tersebut memiliki padanan yang sangat dekat dengan khazanah kita. Pertama, menugaskan dengan jelas: kita harus tahu persis apa yang ingin kita minta dari mesin.

Kedua, menerangkan konteks: kita perlu memberikan informasi yang cukup agar mesin menghasilkan jawaban yang sesuai.

Ketiga, menimbang keluaran: kita harus memeriksa apakah jawaban itu masuk akal dan menemukan asumsi yang mungkin keliru. Keempat, bertanggung jawab atas hasil yang kita gunakan.

SMPM 5 Pucang SBY

Langkah ketiga memiliki nama yang sangat kita kenal: tabayyun. Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 6 memerintahkan kita memeriksa setiap kabar sebelum menindaklanjutinya agar kita tidak mencelakakan orang lain karena ketidaktahuan. Perintah itu lahir ketika kabar berpindah dari mulut ke mulut.

Kini kabar juga datang dari mesin—lebih cepat, lebih rapi, dan lebih meyakinkan susunan kalimatnya. Justru karena itulah kesalahan mesin dapat menjadi lebih berbahaya. Jawaban yang salah tetapi tersusun rapi jauh lebih mudah dipercaya daripada gosip yang beredar di warung kopi.

Langkah keempat berkaitan dengan amanah dan itqan, yakni kesungguhan dalam menuntaskan pekerjaan. Di rumah sakit, sekolah, lembaga zakat, dan koperasi milik persyarikatan, setiap keputusan dapat menyangkut nasib manusia: siapa yang menerima bantuan, siapa yang di terima bekerja, hingga bagaimana seorang pasien mendapatkan penanganan.

Karena itu, setiap keputusan harus memiliki manusia yang dapat kita tanyai dan yang bersedia menanggung akibatnya. Mengatakan, “Begitu hasil dari sistemnya,” lalu menjadikannya alasan untuk menghindari tanggung jawab merupakan bentuk baru dari lepas tangan. Sikap semacam itu bertentangan dengan prinsip amanah yang selama ini kita ajarkan.

Tabayyun di Era Mesin

Konteks ekonomi juga menuntut kita memilih dengan bijak. Sepanjang 2026, indeks keyakinan konsumen Indonesia justru menurun, dari sekitar 125 pada Februari menjadi sekitar 117 pada Juli, meskipun optimisme para pemimpin perusahaan meningkat tajam. Warga yang kita layani melalui amal usaha berada di tengah konsumen yang sedang berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.

Karena itu, pemanfaatan teknologi di lingkungan persyarikatan sebaiknya berorientasi pada penghematan biaya dan percepatan layanan. Kita dapat menggunakannya untuk memendekkan antrean rumah sakit, meringkas administrasi sekolah, dan memastikan pengaduan warga mendapat jawaban pada hari yang sama.

Pemerintah telah menyusun peta jalan kecerdasan artifisial nasional untuk 2026 hingga 2029. Muhammadiyah memiliki tradisi yang tidak dimiliki banyak organisasi: kemampuan merumuskan pedoman melalui musyawarah dan tarjih sebelum persoalan berkembang terlalu jauh.

Karena itu, persyarikatan layak segera menyusun pedoman pemanfaatan kecerdasan buatan di lingkungan amal usaha. Pedoman tersebut setidaknya perlu mengatur batas penggunaan data pribadi jamaah, pasien, dan siswa; kewajiban melakukan tabayyun terhadap setiap keluaran mesin yang menjadi dasar keputusan; serta penegasan bahwa keputusan yang menyangkut hak seseorang tidak boleh sepenuhnya kita serahkan kepada sistem.

Kita tidak sedang menghadapi pilihan antara menolak teknologi atau menyerah kepadanya. Mesin boleh menghitung, menyusun, menganalisis, dan mengusulkan secepat kemampuannya. Namun, manusia harus tetap memegang kendali atas keputusan dan akibat yang lahir darinya.

Kursi pilot bukan tempat yang dapat kita pindahkan kepada mesin. Di situlah makna keberkemajuan yang selama ini kita bicarakan: berani menggunakan alat paling baru tanpa pernah melepaskan tanggung jawab yang paling lama.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 09/09/2026 19:37
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu