Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Beragam Gaya Duduk dalam Ibadah di Masjid dan Adabnya

Iklan Landscape Smamda
Beragam Gaya Duduk dalam Ibadah di Masjid dan Adabnya
Dalam aktivitas ibadah dalam bentuk apapun akan ada duduk di dalamnya. Baik ketika seseorang melakukan ibadah mahdhah, atau ghaira mahdhah, pasti akan melakukan duduk. Foto: Mucahityildiz.

Duduk termasuk bagian dari aktivitas manusia sehari-hari. Dimana saja mereka berada tetap tidak bisa meninggalkan duduk.

Mulai dari rumah, naik transportasi, di tempat kerja dan di ruang ibadah saat mengingat Allah Azza Wa Jalla, mereka akan melakukan duduk. (QS. Ali Imran:191).

Dalam aktivitas ibadah dalam bentuk apapun akan ada duduk di dalamnya. Baik ketika seseorang melakukan ibadah mahdhah, atau ghaira mahdhah, pasti akan melakukan duduk. Apalagi jika mereka berada di dalam majlis dan masjid, ada cara duduk dan adab-adabnya. (QS. Al Mujadilah:11).

Duduk dalam Shalat

Duduk dalam shalat terdapat beberapa bentuk. Pertama, duduk diantara dua sujud. Kedua, duduk tahiyat awal dan ketiga, duduk tahyat akhir. Duduk diantara dua sujud dalam shalat disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Kemudian bangkitlah (dari sujud) hingga kamu duduk dengan tumakninah”. (HR. Bukhari no. 757 dan Muslim no. 397 dari hadis Abu Hurairah).

Cara duduk diantara dua sujud juga disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Apabila beliau duduk di antara dua sujud, beliau duduk di atas kaki kiri beliau dan menegakkan kaki kanan beliau.” (HR. Bukhari no. 828).

Lalu duduk dalam tahyat pertama, disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Apabila beliau duduk pada dua rakaat (rakaat kedua), beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya.” (HR. Bukhari no. 828).

Cara duduknya juga disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

“… [tatkala duduk tasyahud] beliau menghamparkan kaki kirinya dan meletakkan tangan kirinya di atas pahanya…” (HR. Tirmidzi no. 304, dinyatakan shahih oleh Al-Albani).

Kemudian duduk pada tahyat akhir juga disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di akhir beliau duduk dengan pangkal paha kirinya. [HR Ahmad, 4382].

Begitu pula tentang cara duduknya disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di raka’at akhir, beliau mengeluarkan kaki kirinya, menegakkan kaki yang lain kemudian duduk pada tempatnya. [HR al-Bukhâri, 828].

SMPM 5 Pucang SBY

Bagi jamaah yang sakit, sehingga tidak bisa shalat dengan sempurna, namun ingin melaksanakan shalat berjamaah di masjid, dapat dilaksanakan sambil duduk. Sesuai hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Rasulullah Shalat di rumahnya, beliau dalam keadaan sakit, maka beliau shalat dengan duduk, para shahabat shalat dibelakangnya dengan berdiri, maka beliau memberi isyarat kepada mereka (untuk shalat) dengan duduk” (Shahih Bukhari 1/169).

Duduk saat khutbah Jum’at

Dalam shalat Jum’at, khususnya saat khutbah sedang berlangsung, khatib dan jamaah tidak bisa meninggalkan duduk di masjid.

Kalau Khatib duduk saat diantara dua khutbah, duduknya tidak di lantai masjid, tapi di kursi khusus atau bangku yang menyatu dengan mimbar. Sesuai hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

“Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berkhutbah dengan berdiri, kemudian beliau duduk (sejenak), lalu berdiri dan berkhutbah lagi. Siapa yang menceritakan kepada kalian bahwa beliau berkhutbah sambil duduk, maka ia sungguh telah berdusta.” (HR. Muslim no 861).

Berbeda dengan khatib, jamaah yang wajib mendengarkan khutbah Jum’at juga dalam keadaan duduk. Namun mereka duduknya di lantai atau sajadah masjid. Umumnya mereka duduk bersila. Sesuai contoh dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits ini.

“Aku bertanya kepada Jabir bin Samurah, ‘Apakah engkau sering duduk bersama shallallahu ‘alaihi wasallam?’ Ia menjawab, ‘Ya, beliau sering duduk bersila di tempat shalatnya hingga terbit matahari…” (HR. Abu Dawud No. 4850).

Kecuali mereka yang tidak duduk dilantai karena usia, cacat dan sakit. Mereka bisa duduk di kursi yang disediakan. Sesuai hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

“Dulu aku menderita penyakit wasir, lalu aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang salat. Beliau bersabda: ‘Salatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka dengan duduk, dan jika tidak mampu lagi maka dengan berbaring miring.'” (HR. Bukhari).

Duduk di Masjid yang Dilarang

Namun saat duduk di masjid dan mendengarkan khutbah Jum’at ada pula duduk yang dilarang. Di antaranya:

Pertama, Ihtiba, yakni duduk memegang dengkul dengan dua tangan. Sesuai hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

“Juhani, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang duduk ihtiba’ (memeluk lutut) pada hari Jumat saat imam sedang berkhutbah”. (HR. Abu Daud No. 1110 & Tirmidzi No. 514).

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 01/10/2026 00:40
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu