Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketika Hati Terluka, Jangan Biarkan Jari Membalas

Iklan Landscape Smamda
Ketika Hati Terluka, Jangan Biarkan Jari Membalas
Foto" istock
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Pernahkah kita menerima pesan yang membuat dada sesak? Sebuah kalimat pendek, tetapi terasa panjang di kepala. Ada tuduhan yang tidak benar. Ada perkataan yang merendahkan. Ada pula perlakuan seseorang yang membuat kita merasa diperlakukan tidak adil.

Jari sebenarnya sudah siap mengetik balasan. Kita bisa membalas dengan kalimat yang lebih tajam. Kita bisa mengungkit kesalahan orang itu. Bahkan, dalam hitungan detik, kita bisa membuat sebuah tulisan yang membuatnya malu di hadapan banyak orang.

Namun, sebelum tombol kirim ditekan, ada baiknya kita berhenti sejenak Tarik napas. Letakkan telepon. Tahan jari. Sebab, tidak semua luka harus dibalas dengan luka.

Rasulullah saw bersabda: “Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR Bukhari no. 1496 dan Muslim no. 19)

Hadis ini mengajarkan sesuatu yang sederhana, tetapi tidak selalu mudah dilakukan: ketika dizalimi, jangan buru-buru membalas dengan keburukan.

Orang yang disakiti tentu memiliki hak untuk merasa sedih, kecewa, bahkan marah. Islam tidak mengajarkan seseorang membiarkan kezaliman begitu saja. Kita boleh membela diri dan mencari keadilan dengan cara yang dibenarkan syariat.

Tetapi ada batas yang harus tetap dijaga. Kemarahan tidak boleh menjadi alasan untuk mencaci. Rasa sakit tidak boleh berubah menjadi fitnah. Kecewa tidak boleh membuat kita kehilangan adab.

Karena kadang-kadang, ketika merasa dizalimi, kita justru tergoda melakukan hal yang sama kepada orang lain.

Maka bersabarlah. Tahan lisan. Jangan membalas keburukan dengan keburukan. Perbanyak doa kepada Allah.

Serahkan urusan keadilan kepada Allah, sambil tetap menempuh jalan yang benar untuk mendapatkan hak.

Ketika Jari Lebih Cepat daripada Pikiran

Zaman sekarang, lisan bukan satu-satunya yang perlu dijaga. Jari juga.

Seseorang mungkin tidak pernah bertemu dengan kita, tetapi bisa menyakiti kita melalui sebuah komentar. Sebaliknya, kita pun dapat menyakiti orang lain hanya dengan beberapa ketukan di layar.

Pesan terkirim dalam hitungan detik. Komentar bisa dibaca ratusan orang. Unggahan dapat disebarkan tanpa kita tahu ke mana perginya.

Karena itu, sebelum mengirim pesan, komentar, status, atau unggahan, berhentilah sebentar.

Tanyakan kepada diri sendiri: Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini santun? Apakah Allah rida dengan perkataan ini?

Pertanyaan sederhana semacam itu mungkin dapat menyelamatkan kita dari penyesalan yang panjang.

Sebab, apa yang telah ditulis di ruang digital tidak selalu mudah ditarik kembali. Kalimat yang menurut kita hanya luapan emosi beberapa menit bisa menjadi sesuatu yang dibaca orang lain berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Karena itu, mari membiasakan diri mengetik dengan bahasa yang baik, santun, lembut, dan sopan.

SMPM 5 Pucang SBY

Tidak semua hal harus dibalas. Tidak semua provokasi harus diladeni. Tidak semua perkataan harus dijawab.

Ada kalanya diam justru menyelamatkan kita dari kesalahan yang lebih besar. Dan ada kalanya doa menjadi balasan yang jauh lebih baik daripada cacian.

Menahan Amarah Bukan Berarti Lemah

Allah berfirman: “Yaitu orang-orang yang menginfakkan harta di waktu lapang dan di waktu sempit, yang menahan amarah dan yang memaafkan manusia, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Ali Imran: 134)

Menahan amarah bukan berarti tidak memiliki keberanian. Memaafkan bukan berarti membenarkan kezaliman. Bersabar bukan berarti menyerah.

Ada kekuatan tertentu pada seseorang yang mampu menahan dirinya ketika sebenarnya ia memiliki kesempatan untuk membalas.

Ia memilih tidak memperpanjang pertengkaran. Ia memilih tidak mempermalukan orang yang menyakitinya. Ia memilih menyampaikan keberatan dengan cara yang baik.

Dan ketika jalan terasa buntu, ia memilih mengadu kepada Allah. Mungkin orang lain tidak mengetahui betapa beratnya menahan diri itu. Tetapi Allah mengetahuinya. Di situlah kesabaran menemukan maknanya.

Bukan sekadar diam ketika disakiti, melainkan tetap menjaga diri agar rasa sakit tidak mengubah kita menjadi orang yang sama buruknya dengan orang yang telah menyakiti kita.

Jangan Sampai Jari Menjadi Saksi

Barangkali suatu hari nanti kita akan lupa pada pertengkaran yang pernah terjadi. Kita lupa siapa yang memulai. Kita lupa kalimat apa yang membuat kita marah. Tetapi tulisan yang sudah tersebar bisa tetap tinggal.

Karena itu, menjaga lisan hari ini berarti menjaga jejak kita untuk hari esok. Jangan sampai satu kalimat yang kita ketik menjadi dosa yang terus mengalir karena dibaca, disebarkan, atau ditiru orang lain.

Mari menjaga tiga hal sekaligus: lisan, jari, dan hati. Lisan dari cacian. Jari dari tulisan yang buruk. Hati dari dendam yang terus dipelihara.

Ketika dizalimi, kita memang tidak selalu bisa mengubah orang lain. Kita juga tidak selalu mampu membuat orang memahami luka yang kita rasakan.

Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana meresponsnya. Kita bisa memilih sabar. Kita bisa memilih diam ketika diam lebih menyelamatkan. Kita bisa memilih mencari keadilan dengan cara yang benar. Dan kita bisa memilih berdoa.

Sebab, ada perkara yang terlalu berat jika hanya kita bawa sendiri. Serahkan kepada Allah.

Semoga Allah menyucikan lisan kita, memperbaiki hati kita, mengaruniakan kesabaran, kelembutan, dan akhlak yang baik. Semoga Allah melindungi kita dari keburukan orang-orang yang zalim dengan cara yang Dia kehendaki. Amin. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 29/09/2026 16:45
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu