Suatu sore, dua sahabat duduk di sebuah warung kecil setelah pulang bekerja. Mereka berbicara tentang banyak hal: pekerjaan, keluarga, rencana masa depan, juga tentang teman-teman yang mulai jarang mereka jumpai.
Di tengah percakapan, azan terdengar dari masjid di ujung jalan. Salah seorang segera berdiri.
“Salat dulu. Nanti kita lanjutkan.”
Temannya tersenyum. Ia sebenarnya masih ingin meneruskan percakapan. Tetapi ia ikut berdiri.
Barangkali begitulah persahabatan yang baik bekerja. Tidak selalu dengan nasihat panjang. Tidak selalu dengan kata-kata yang terdengar menggurui. Kadang hanya dengan sebuah ajakan sederhana yang membuat seseorang berhenti sejenak dari kesibukan, lalu kembali mengingat Allah.
Kita sering mengira sahabat adalah orang yang selalu ada ketika kita membutuhkan teman berbicara, tertawa, atau berbagi cerita. Itu memang bagian dari persahabatan. Tetapi dalam pandangan Islam, persahabatan memiliki dimensi yang lebih jauh: ke mana persahabatan itu membawa kita?
Sebab ada teman yang membuat hidup terasa ramai, tetapi hati semakin jauh dari Allah. Ada pula sahabat yang mungkin tidak banyak bicara, tetapi kehadirannya membuat kita lebih rajin salat, lebih hati-hati menjaga lisan, lebih mudah bersyukur, dan malu melakukan kemaksiatan. Persahabatan semacam itulah yang layak dipertahankan.
Allah berfirman: “Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (QS az-Zukhruf: 67)
Ayat ini memberi gambaran bahwa tidak semua kedekatan akan bertahan hingga akhirat. Persahabatan yang dibangun hanya karena kepentingan dunia dapat berubah menjadi permusuhan. Sebaliknya, hubungan yang tumbuh di atas ketakwaan memiliki kemungkinan menjadi ikatan yang membawa kebaikan hingga kehidupan berikutnya.
Karena itu, Islam mengajarkan agar kita berhati-hati memilih lingkungan pergaulan.
Rasulullah bersabda: “Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka perhatikanlah dengan siapa ia berteman.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadis ini terasa sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Manusia mudah dipengaruhi oleh orang-orang yang paling sering berada di sekitarnya.
Kita bisa mengetahui arah perjalanan seseorang dengan melihat siapa saja yang berjalan bersamanya.
Jika setiap kali bertemu seorang teman, kita selalu diajak mengejar dunia, membicarakan keburukan orang lain, meremehkan ibadah, atau mencari pembenaran atas kesalahan, lama-lama semua itu terasa biasa.
Sebaliknya, jika seorang sahabat mengingatkan ketika kita mulai lalai, mengajak salat ketika waktunya tiba, menenangkan ketika kita sedang marah, dan mengingatkan agar tidak mengambil sesuatu yang bukan hak kita, sesungguhnya ia sedang menjaga kita.
Ia bukan sekadar teman. Ia sedang menjadi bagian dari perjalanan kita menuju Allah.
Sahabat yang Tidak Membiarkan Kita Jauh
Ada persahabatan yang ukurannya bukan seberapa sering bertemu, melainkan seberapa besar seseorang menjaga sahabatnya dari keburukan.
Seorang sahabat mungkin tidak mampu menyelesaikan masalah kita. Ia mungkin tidak punya cukup uang untuk membantu ketika kita kesulitan. Tetapi ketika ia berkata, “Jangan lakukan itu. Itu tidak baik,” sesungguhnya ia sedang memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga: pengingat.
Kadang kita membutuhkan orang lain untuk mengingatkan sesuatu yang sebenarnya sudah kita ketahui.
Kita tahu salat itu wajib, tetapi terkadang perlu seseorang berkata, “Sudah masuk waktu.”
Kita tahu ghibah itu buruk, tetapi terkadang perlu seorang teman mengubah pembicaraan ketika kita mulai membicarakan aib orang lain.
Kita tahu sedekah itu baik, tetapi terkadang perlu seseorang mengingatkan, “Ada tetangga kita yang sedang kesulitan.”
Begitulah sahabat yang baik. Ia tidak mengambil alih hidup kita. Ia hanya membantu kita agar tidak kehilangan arah.
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dinisbatkan dengan nasihat: jika memiliki teman yang mengingatkan kepada Allah, peganglah erat-erat; jika memiliki teman yang membuat lupa kepada Allah, tinggalkanlah dengan baik.
Nasihat itu mengingatkan kita bahwa kualitas persahabatan tidak hanya diukur dari kenyamanan, tetapi juga dari pengaruhnya terhadap iman.
Bukan Hanya Mencari Sahabat Saleh
Namun ada pertanyaan yang lebih penting: apakah kita sendiri sudah menjadi sahabat seperti itu?
Jangan sampai kita sibuk mencari teman yang saleh, tetapi lupa menjadi teman yang saleh.
Kita ingin memiliki sahabat yang mengingatkan salat, tetapi apakah kita pernah mengingatkan sahabat kita?
Kita ingin memiliki teman yang menjaga lisan, tetapi apakah kita menjaga lisan ketika berbicara dengannya?
Kita berharap ada seseorang yang mendoakan kita, tetapi apakah kita juga menyebut nama sahabat dalam doa-doa kita?
Persahabatan dalam Islam bukan hubungan satu arah. Ia adalah perjalanan saling menguatkan.
Rasulullah juga mengingatkan agar seseorang memperhatikan dengan siapa ia bergaul. Sebab teman bukan sekadar orang yang kita pilih untuk menghabiskan waktu. Teman dapat menjadi cermin yang perlahan membentuk kebiasaan, cara berpikir, bahkan arah kehidupan kita.
Karena itu, memilih sahabat sebenarnya juga berarti memilih sebagian dari masa depan kita.
Ada Sahabat yang Belum Pernah Kita Temui
Menariknya, teladan persahabatan dengan orang saleh tidak selalu berarti harus hidup sezaman dengan mereka.
Kita tidak pernah bertemu Abu Bakar ash-Shiddiq. Kita tidak pernah duduk bersama Umar bin Khattab. Kita tidak pernah mendengar langsung nasihat Utsman bin Affan atau keberanian Ali bin Abi Thalib.
Namun kehidupan mereka tetap dapat menjadi teman perjalanan bagi kita.
Rasulullah menyebut sejumlah sahabat yang mendapat kabar gembira tentang surga, di antaranya Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, az-Zubair, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid, dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah.
Kisah mereka dapat kita jadikan teladan.
Begitu pula Al-Qur’an. Kita mungkin membacanya sendirian di sebuah kamar ketika malam telah sepi. Tidak ada manusia lain di sekitar kita. Tetapi ayat-ayatnya menemani, menegur, menenangkan, dan mengarahkan.
Al-Qur’an bukan sekadar bacaan untuk menyelesaikan kewajiban. Ia dapat menjadi teman perjalanan seorang mukmin.
Maka ada sahabat yang kita kenal namanya, ada sahabat yang kita temui dalam kehidupan, dan ada pula teladan yang kita kenal melalui kisah-kisah orang saleh.
Semuanya dapat mengantarkan kita kepada kebaikan jika kita bersedia mengikuti jejaknya.
Persahabatan yang Berlanjut Setelah Dunia
Bayangkan suatu hari nanti kita tidak lagi memiliki kesempatan untuk bertemu sahabat-sahabat kita di dunia.
Tidak ada lagi meja tempat kita biasa berbincang. Tidak ada lagi pesan singkat yang masuk pada pagi hari. Tidak ada lagi suara yang mengingatkan, “Jangan lupa salat.”
Yang tersisa adalah amal dan doa.
Pada saat itulah kita mungkin baru memahami bahwa sahabat terbaik bukanlah orang yang paling sering membuat kita tertawa, melainkan orang yang membantu kita tetap berada di jalan yang benar. Ia mungkin pernah menegur kita.
Pernah membuat kita tidak nyaman karena mengingatkan kesalahan. Pernah menolak ajakan kita yang tidak baik. Tetapi justru karena itulah ia menjaga persahabatan tersebut agar tidak berhenti di dunia.
Persahabatan yang dibangun karena Allah tidak berarti tanpa kesalahan. Dua orang yang sama-sama ingin bertakwa pun tetap bisa berselisih, kecewa, atau saling menyakiti. Bedanya, mereka memiliki alasan untuk kembali berdamai: bukan sekadar karena membutuhkan satu sama lain, tetapi karena sama-sama ingin mendapatkan rida Allah.
Maka jangan hanya mencari sahabat yang menemani kita ketika senang. Carilah dan jadilah sahabat yang tetap mengingatkan ketika kita mulai salah arah.
Sahabat yang ketika kita lupa, ia mengingatkan. Ketika kita jatuh, ia membantu berdiri. Ketika kita berhasil, ia mengingatkan agar tidak sombong. Ketika kita mulai jauh dari Allah, ia mengajak kembali.
Dan ketika suatu hari kita dipanggil menghadap-Nya, semoga persahabatan yang pernah dibangun di dunia menjadi bagian dari amal kebaikan yang mempertemukan kita kembali di tempat yang lebih baik.
Sebab pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang dengan siapa kita berjalan, tetapi ke mana perjalanan itu membawa kita.
Semoga kita memiliki sahabat yang saling menyebut nama dalam doa, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan saling menguatkan dalam ketakwaan.
Dan semoga kita pun menjadi sahabat seperti itu bagi orang lain. Karena bisa jadi, tanpa kita sadari, sebuah kalimat sederhana yang kita ucapkan hari ini menjadi sebab seseorang kembali kepada Allah.
Dan bisa jadi pula, seorang sahabat yang selama ini kita anggap biasa saja, kelak menjadi bagian dari orang-orang yang mengantarkan kita menuju pintu surga. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments