Sebuah foto tidak sekadar merekam peristiwa, tetapi juga dapat menyampaikan cerita melalui rangkaian visual yang bermakna. Untuk menghasilkan foto cerita yang kuat, fotografer perlu mengasah kepekaan dalam mengamati, memahami konteks, dan menentukan momen yang tepat.
Materi tersebut mengemuka dalam sesi fotografi jurnalistik bertajuk Photo Storytelling Through Pictures pada pelatihan media FRAME. CREATE. SPEAK “See It. Create It. Say It”. Kegiatan yang diselenggarakan Eco Bhinneka Muhammadiyah ini berlangsung di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (20/10/2026).
Sesi ini menghadirkan Malahayati, fotografer perempuan Indonesia yang aktif dalam gerakan visual berbasis gender dan tergabung dalam Women Photograph Indonesia. Hadir pula Tjandra Moh Amin, jurnalis foto yang pernah menjadi fotografer Tabloid Bola.
Keduanya berbagi pengalaman tentang teknik fotografi dan cara menyusun rangkaian gambar agar mampu menyampaikan cerita secara utuh. Malahayati dan Tjandra juga terlibat dalam proyek buku foto Tanpa Batas yang mendokumentasikan perjalanan grup musik Slank pada 2000–2007.
Malahayati menjelaskan, foto cerita dapat berangkat dari hal-hal sederhana di sekitar kita. Kuncinya terletak pada kemampuan fotografer mengamati objek dan menyusun gambar yang saling melengkapi.
“Foto cerita adalah cara kita menceritakan apa yang kita temui melalui foto. Hal-hal sederhana di sekitar kita pun bisa menjadi cerita, selama kita mau mengamati dan menyusunnya melalui rangkaian foto yang tepat,” jelasnya.
Dalam sesi tersebut, peserta mempelajari dasar-dasar fotografi menggunakan kamera smartphone. Materinya meliputi penentuan titik fokus, pemanfaatan cahaya, dan pengaturan komposisi menggunakan teknik rule of thirds.
Selain teknik pengambilan gambar, peserta juga mempelajari pendekatan Entire, Detail, Framing, Angle, dan Time (EDFAT). Pendekatan ini membantu fotografer merekam peristiwa dari berbagai sisi, mulai dari gambaran umum lingkungan hingga detail objek dan momen yang memperkuat cerita.
Melalui pendekatan tersebut, fotografer tidak hanya mengumpulkan gambar, tetapi juga menyusun urutan visual yang saling berkaitan. Teks pendamping dapat ditambahkan untuk memperjelas konteks dan pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca.
Sementara itu, Tjandra Moh Amin menekankan pentingnya riset dan pemahaman konteks sebelum mengambil gambar. Menurutnya, fotografer perlu memperluas wawasan agar tidak sekadar mengikuti tren atau mengejar peristiwa yang sedang viral.
“Jangan terburu-buru memotret. Kita perlu melakukan riset, memperluas wawasan, dan mendalami cerita yang ingin kita sampaikan. Foto jurnalistik bukan sekadar menghasilkan gambar yang menarik atau mengikuti sesuatu yang sedang viral, tetapi juga memahami konteks dan memastikan bahwa foto yang kita hasilkan dapat menyampaikan cerita secara utuh,” ungkapnya.
Tjandra juga mengingatkan pentingnya etika dalam proses pengambilan dan pemanfaatan foto. Fotografer perlu berkomunikasi dengan subjek serta meminta persetujuan, terutama ketika gambar akan dipublikasikan atau digunakan untuk kepentingan komersial dan penggalangan dana.
Setelah menerima materi, peserta mengikuti praktik fotografi dengan mengambil foto potret, detail objek, dan aktivitas seseorang atau man in action. Praktik ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk menerapkan teknik yang telah dipelajari sekaligus melatih kepekaan dalam menangkap momen.
Pelatihan FRAME. CREATE. SPEAK berlangsung pada 20–21 Oktober 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari program SMILE (Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism) yang dijalankan Eco Bhinneka Muhammadiyah untuk memperkuat kapasitas pengelolaan media dan komunikasi di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah.
Sebanyak 40 peserta mengikuti pelatihan ini, terdiri atas 34 peserta luring dan enam peserta daring melalui Zoom. Mereka berasal dari majelis, lembaga, dan organisasi otonom Muhammadiyah, komunitas Himpunan Difabel Muhammadiyah, serta pengelola program Eco Bhinneka Muhammadiyah di tingkat nasional dan berbagai region.
Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu menghasilkan foto cerita yang informatif dan bertanggung jawab. Keterampilan tersebut dapat mendukung dokumentasi kegiatan, penyebarluasan informasi, dan publikasi di lingkungan masing-masing. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments