SMP Muhammadiyah 7 dan SD Muhammadiyah 12 Surabaya menggelar shalat istisqa di sepanjang Jalan Dupak Jaya V, Surabaya, Jumat (23/10/2026). Kegiatan ini menjadi ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan sekaligus sarana pendidikan karakter bagi peserta didik dan mahasiswa Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura).
Shalat istisqa diikuti keluarga besar kedua sekolah dan mahasiswa PLP Umsura. Hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bubutan, Syahroni Nur Wachid Wahyudiyanto, serta dosen pembimbing lapangan PLP Umsura, Hayumuti, M.Pd.
Pelaksanaan shalat di ruang terbuka tersebut tidak hanya menjadi momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga mengajak warga sekolah merefleksikan pentingnya ketakwaan, kebersamaan, dan tanggung jawab manusia dalam menjaga lingkungan.
Keterlibatan mahasiswa PLP dalam kegiatan keagamaan ini sejalan dengan upaya membentuk calon pendidik yang profesional, berintegritas, dan berkarakter. Program PLP bukan sekadar pemenuhan kewajiban akademik, melainkan kesempatan bagi mahasiswa untuk mempelajari secara langsung tanggung jawab guru, etika profesi, serta penerapan kompetensi pedagogis di lingkungan sekolah.
Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa dapat memahami bahwa tugas guru tidak berhenti pada penyampaian materi pembelajaran di ruang kelas. Guru juga berperan sebagai teladan dalam membangun kebiasaan baik, menanamkan nilai-nilai agama, dan membentuk karakter peserta didik melalui tindakan nyata.
Dosen pembimbing lapangan PLP Umsura, Hayumuti, M.Pd., menjelaskan bahwa shalat istisqa memiliki dimensi pendidikan yang lebih luas daripada sekadar ibadah memohon hujan.
“Shalat istisqa bukan sekadar ibadah memohon hujan, tetapi juga sarana pendidikan karakter untuk menanamkan ketakwaan, kerendahan hati, kepedulian sosial, dan kesadaran manusia terhadap lingkungan,” jelasnya.
Menurut Hayumuti, kegiatan keagamaan di sekolah dapat menjadi ruang pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa calon pendidik. Nilai-nilai agama yang dipelajari secara teoretis perlu diwujudkan dalam praktik agar memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa maupun peserta didik.
Hayumuti menyampaikan bahwa mahasiswa PLP mengikuti shalat istisqa sebagai bagian dari pengalaman belajar bersama keluarga besar kedua sekolah. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa memperoleh pemahaman bahwa pendidikan agama tidak cukup disampaikan melalui teori, tetapi juga perlu diwujudkan melalui keteladanan dan praktik nyata.
Pengalaman ini turut memperkaya pemahaman mahasiswa mengenai budaya religius di lingkungan sekolah. Dalam proses pendidikan, guru tidak hanya bertugas mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter melalui pembiasaan, pendampingan, dan keteladanan.
“Guru tidak hanya bertugas mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter melalui pembiasaan dan keteladanan,” ungkap Hayumuti.
Ia menambahkan, peserta didik perlu memahami shalat istisqa sebagai bentuk ikhtiar spiritual sekaligus refleksi atas tanggung jawab manusia dalam menjaga alam. Ketakwaan, menurutnya, semestinya tercermin dalam pelaksanaan ibadah, perilaku sehari-hari, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Dengan demikian, kegiatan keagamaan dapat menghubungkan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan kehidupan nyata. Peserta didik tidak hanya mempelajari tata cara ibadah, tetapi juga memahami nilai moral dan sosial yang menyertainya.
Pelaksanaan shalat istisqa juga membawa pesan agar manusia memperkuat ketergantungan kepada Allah SWT, melakukan introspeksi diri, serta membangun tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan.
“Pesan utamanya adalah menguatkan ketergantungan manusia kepada Allah, membangun kesadaran untuk memperbaiki diri, serta menumbuhkan tanggung jawab kolektif dalam menjaga lingkungan. Pendidikan harus menyentuh dimensi intelektual, spiritual, dan moral secara seimbang,” tutur Hayumuti.
Shalat istisqa merupakan salat sunah untuk memohon hujan kepada Allah SWT, terutama ketika masyarakat menghadapi kekeringan atau kekurangan air. Ibadah ini juga mengingatkan umat Islam untuk memperbanyak doa, memperbaiki diri, dan menjaga kelestarian alam.
Melalui kegiatan bersama tersebut, SMP Muhammadiyah 7 dan SD Muhammadiyah 12 Surabaya menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat diterapkan melalui pembiasaan ibadah dan keterlibatan langsung dalam kehidupan sekolah.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat budaya religius di lingkungan pendidikan Muhammadiyah sekaligus memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa PLP Umsura. Pengalaman tersebut menjadi bekal bagi mereka untuk tumbuh sebagai calon guru yang profesional, berintegritas, dan mampu menghadirkan nilai-nilai Islam dalam praktik pendidikan sehari-hari.






0 Tanggapan
Empty Comments