Pagi itu, Selasa, 20 Oktober 2026, Bundaran Hotel Indonesia menjadi panggung protes.
Sejumlah aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk di Patung Selamat Datang. Posisi mereka tidak biasa. Mereka berada di atas monumen yang selama ini menjadi salah satu wajah Jakarta.
Tulisan di spanduk itu keras. “Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?”
Kalimat itu tidak rumit. Tidak membutuhkan kamus politik untuk memahaminya. Bahkan, orang yang tidak mengikuti perdebatan tentang krisis iklim pun bisa menangkap kegelisahan di dalamnya.
Bencana makin parah. Hidup makin susah. Lalu sebuah pertanyaan dilontarkan kepada pemerintah.
Pertanyaan itu terdengar seperti protes. Namun, di balik protes, ada sesuatu yang lebih mendasar: harapan yang mulai kehilangan kesabaran.
Bangsa ini sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya, bagi sebagian orang yang setiap hari berhadapan dengan tekanan hidup, kalimat itu bukan dramatisasi.
Harga kebutuhan harus dipikirkan. Pekerjaan belum tentu memberi kepastian. Penghasilan tidak selalu sebanding dengan pengeluaran. Di sejumlah daerah, kebakaran hutan dan kabut asap menambah beban yang sudah ada.
Orang Indonesia sudah terbiasa bertahan. Mereka bangun pagi. Berangkat bekerja. Mengantar anak sekolah. Menghitung uang belanja. Menunda keinginan. Mengurangi kebutuhan sendiri agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Mereka tidak memasang spanduk di jalan raya. Tidak berteriak di depan kantor pemerintah. Tidak pula memanjat monumen untuk menarik perhatian orang banyak. Mereka hanya bertahan.
Tetapi jangan salah membaca ketenangan itu. Diam tidak selalu berarti puas. Senyum tidak selalu berarti hidup sedang baik-baik saja. Kepatuhan juga tidak selalu berarti tidak ada yang ingin diprotes.
Bisa jadi mereka sedang menunggu. Bisa jadi mereka masih percaya keadaan akan membaik.
Namun, sampai kapan?
***
Islam mengajarkan kesabaran. Tetapi sabar bukan berarti menyerah kepada keadaan. Bukan pula alasan untuk membiarkan ketidakadilan berlangsung tanpa ikhtiar memperbaikinya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini sering kita dengar ketika berbicara tentang motivasi dan perubahan diri. Namun, pesannya juga mengajak kita merenungkan tanggung jawab bersama.
Perubahan membutuhkan kesadaran. Membutuhkan ikhtiar. Membutuhkan keberanian untuk memperbaiki sesuatu yang keliru.
Rakyat tidak boleh berhenti berusaha. Masyarakat juga tidak boleh kehilangan kepedulian terhadap sesamanya.
Tetapi pemerintah pun tidak bisa berdiri di luar tuntutan perubahan itu. Kekuasaan memberi ruang yang lebih besar untuk mengambil keputusan.
Karena itu, kekuasaan juga membawa tanggung jawab yang lebih besar untuk memperbaiki keadaan.





0 Tanggapan
Empty Comments