Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Dari Gowa Menembus Doktoral: Semangat Kesatria Makassar di Usia 25 Tahun

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Dari Gowa Menembus Doktoral: Semangat Kesatria Makassar di Usia 25 Tahun
Pendidikan bukan sekadar jalan untuk meraih gelar, melainkan ikhtiar untuk mengangkat martabat diri, membahagiakan keluarga, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Foto: Febry Amirullah.

Pendidikan bukan sekadar jalan untuk meraih gelar, melainkan ikhtiar untuk mengangkat martabat diri, membahagiakan keluarga, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Ada perjalanan yang tidak selalu dimulai dengan kemudahan. Ada cita-cita yang tumbuh di tengah keterbatasan. Ada pula anak muda yang memilih terus berjalan ketika keadaan memberinya banyak alasan untuk berhenti.

Bagi saya, pendidikan adalah salah satu jalan untuk membuktikan bahwa latar belakang bukanlah batas bagi masa depan.

Dari Gowa, Sulawesi Selatan, saya membawa mimpi yang terus tumbuh. Kini, pada usia 25 tahun, saya menapaki pendidikan doktoral di Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM).

Perjalanan ini bukan sekadar tentang usia muda atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Lebih dari itu, perjalanan ini merupakan ikhtiar panjang untuk menjaga mimpi, membangun kapasitas diri, dan menyiapkan pengabdian yang lebih luas melalui pendidikan.

Berangkat dari Gowa, Membawa Mimpi yang Lebih Besar

Saya lahir dan tumbuh dengan kesadaran bahwa pendidikan memiliki kekuatan untuk mengubah arah kehidupan.

Bagi seorang anak daerah, kesempatan menempuh pendidikan tinggi bukan hanya tentang memperoleh ijazah.

Pendidikan juga menjadi jalan untuk memperluas wawasan, membangun kepercayaan diri, dan membuka kesempatan yang sebelumnya terasa jauh dari jangkauan.

Merantau mengajarkan saya banyak hal. Jauh dari kampung halaman membuat saya memahami arti kemandirian, tanggung jawab, dan pengorbanan.

Saya belajar bahwa cita-cita membutuhkan lebih dari sekadar keberanian untuk bermimpi. Cita-cita menuntut kedisiplinan, kesabaran, kemampuan mengelola keadaan, serta kesediaan untuk terus belajar ketika menghadapi kesulitan.

Perjalanan akademik saya dimulai dari pendidikan sarjana Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) di Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Saya kemudian melanjutkan pendidikan Magister Teknologi Pendidikan di kampus yang sama dengan dukungan Beasiswa Unggulan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinan saya bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada pencapaian pribadi.

Ilmu harus terus dikembangkan agar mampu menjawab persoalan masyarakat dan memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan.

Setelah menyelesaikan pendidikan magister, saya mengambil langkah berikutnya dengan melanjutkan studi doktoral di Universiti Muhammadiyah Malaysia.

Pada usia 25 tahun, saya mendapatkan kesempatan untuk memasuki jenjang pendidikan yang menuntut kedewasaan berpikir, ketekunan meneliti, dan tanggung jawab akademik yang lebih besar.

Saya menyadari bahwa perjalanan ini masih panjang. Memulai pendidikan doktoral pada usia muda bukan berarti telah mencapai puncak keberhasilan. Justru, langkah ini menjadi awal dari tanggung jawab yang semakin besar.

Jiwa Kesatria Makassar: Siri’ na Pacce sebagai Pegangan Hidup

Sebagai putra Makassar, saya tumbuh dengan nilai budaya yang mengajarkan keberanian, kehormatan, solidaritas, dan tanggung jawab. Salah satu nilai yang terus relevan dalam kehidupan adalah siri’ na pacce.

Dalam tradisi Bugis-Makassar, siri’ berkaitan dengan kehormatan, harga diri, dan kesadaran untuk menjaga martabat.

Sementara itu, pacce mencerminkan empati, solidaritas, serta kepedulian terhadap penderitaan orang lain.

Bagi saya, kedua nilai tersebut memiliki hubungan erat dengan perjuangan pendidikan.

Siri’ mengajarkan bahwa kehormatan tidak cukup dibangun melalui kata-kata. Kehormatan harus dibuktikan melalui tindakan, integritas, dan tanggung jawab.

Dalam dunia akademik, nilai ini berarti berani mengakui keterbatasan pengetahuan, menjaga kejujuran ilmiah, menghargai karya orang lain, dan bersedia memperbaiki kesalahan.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Adapun pacce mengingatkan saya bahwa keberhasilan tidak seharusnya berhenti pada diri sendiri. Ilmu yang diperoleh perlu membuka jalan bagi orang lain.

Kesempatan yang datang kepada seseorang juga dapat menjadi alasan untuk membantu mereka yang belum memperoleh kesempatan serupa.

Inilah makna jiwa kesatria yang ingin saya pegang: berani menghadapi kesulitan tanpa kehilangan integritas, berjuang tanpa merendahkan orang lain, dan meraih prestasi tanpa melupakan tanggung jawab sosial.

Jiwa kesatria bukan berarti tidak pernah merasa lelah atau takut. Jiwa kesatria berarti tetap bertanggung jawab ketika menghadapi kesulitan, berani mengambil keputusan, dan tidak menyerah hanya karena perjalanan terasa berat.

Saya ingin membawa nilai tersebut ke dalam kehidupan akademik. Bagi saya, seorang akademisi tidak hanya dituntut cerdas dalam berpikir, tetapi juga harus memiliki karakter yang kuat, kepekaan sosial, dan keberanian untuk memperjuangkan kebenaran.

Usia 25 Tahun Bukan Garis Akhir, Melainkan Awal Pengabdian

Ketika seseorang memulai pendidikan doktoral pada usia relatif muda, perhatian publik mungkin tertuju pada angka usia.

Namun, saya percaya bahwa usia seharusnya tidak menjadi satu-satunya ukuran untuk menilai perjalanan pendidikan seseorang.

Setiap orang memiliki waktu, keadaan, dan jalannya masing-masing. Ada yang menyelesaikan pendidikan lebih cepat. Ada pula yang harus melewati perjalanan lebih panjang karena tanggung jawab keluarga, keterbatasan ekonomi, atau berbagai keadaan lainnya.

Keduanya tetap memiliki nilai selama dijalani dengan kesungguhan.

Karena itu, saya tidak ingin menjadikan usia 25 tahun sebagai simbol bahwa saya lebih unggul daripada orang lain.

Saya justru ingin menjadikannya pengingat bahwa kesempatan belajar harus diiringi dengan kesediaan untuk bekerja lebih keras, memperluas wawasan, dan menghasilkan karya yang bermanfaat.

Pendidikan doktoral bukan sekadar perjalanan mengumpulkan gelar. Pada jenjang ini, seorang mahasiswa dituntut menghasilkan pengetahuan baru, menguji gagasan secara kritis, membangun argumentasi berdasarkan bukti, dan memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Tanggung jawab tersebut menjadi semakin penting ketika saya memilih bidang pendidikan. Persoalan pendidikan tidak cukup dijawab dengan semangat perubahan atau penggunaan teknologi semata.

Kita membutuhkan penelitian yang mendalam, model pembelajaran yang relevan, pendidik yang kompeten, serta pendekatan yang mampu membangun kecerdasan sekaligus karakter peserta didik.

Saya ingin menekuni kajian yang menghubungkan pendidikan, teknologi digital, dan pembentukan karakter Islami.

Bagi saya, kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan nilai, etika, dan kemanusiaan.

Pendidikan tidak hanya bertugas mempersiapkan peserta didik menghadapi perubahan zaman, tetapi juga membentuk pribadi yang mampu menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.

Harapan saya, proses pendidikan doktoral ini dapat menjadi bekal untuk berkontribusi dalam pengembangan pendidikan Islam, peningkatan kualitas pembelajaran, dan penguatan tradisi penelitian di lingkungan Muhammadiyah.

Muhammadiyah dan Tanggung Jawab Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Perjalanan pendidikan saya juga tidak dapat dilepaskan dari lingkungan Muhammadiyah.

Sebagai gerakan Islam yang bergerak dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan berbagai bentuk pelayanan masyarakat, Muhammadiyah memberikan ruang penting bagi pengembangan ilmu dan pengabdian.

Bagi saya, semangat ber-Muhammadiyah harus tercermin dalam kesediaan untuk terus belajar, bekerja secara profesional, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 22/10/2026 02:02
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu