Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Dari Gowa Menembus Doktoral: Semangat Kesatria Makassar di Usia 25 Tahun

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Dari Gowa Menembus Doktoral: Semangat Kesatria Makassar di Usia 25 Tahun
Pendidikan bukan sekadar jalan untuk meraih gelar, melainkan ikhtiar untuk mengangkat martabat diri, membahagiakan keluarga, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Foto: Febry Amirullah.
BANNER RSI AISYIYAH MALANG

Gelar akademik seharusnya memperkuat tanggung jawab seseorang terhadap umat, bukan sekadar meningkatkan kedudukan pribadi.

Saya meyakini bahwa pendidikan Islam perlu terus mengembangkan tradisi keilmuan yang kuat. Nilai-nilai keislaman harus hadir dalam cara kita berpikir, mengambil keputusan, memperlakukan sesama, dan menyelesaikan persoalan.

Pada saat yang sama, pendidikan perlu mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Semangat pembaruan yang menjadi bagian dari tradisi Muhammadiyah perlu terus kita hidupkan melalui penelitian, inovasi pembelajaran, dan pengembangan sumber daya manusia.

Kita tidak cukup hanya membicarakan pentingnya pendidikan. Kita perlu menghasilkan gagasan, karya ilmiah, program, dan model pembelajaran yang dapat diuji serta memberikan manfaat nyata.

Saya ingin menjadikan pendidikan doktoral sebagai salah satu langkah untuk mengambil bagian dalam ikhtiar tersebut.

Saya berharap suatu hari dapat mengabdikan diri sebagai dosen, peneliti, dan pengembang pendidikan yang mampu menjembatani kebutuhan masyarakat dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Bagi saya, kebanggaan menjadi bagian dari Muhammadiyah bukan hanya terletak pada identitas organisasi, tetapi juga pada kesediaan untuk meneruskan semangat dakwah melalui ilmu, amal, dan pengabdian.

Perjuangan Pendidikan Harus Melahirkan Manfaat

Saya memahami bahwa melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral membutuhkan pengorbanan. Ada kebutuhan finansial yang harus diperhitungkan, tanggung jawab yang harus dijalankan, serta tuntutan akademik yang memerlukan konsistensi.

Hidup jauh dari keluarga juga mengajarkan arti ketabahan dan kemampuan mengelola diri.

Namun, saya tidak ingin memandang kesulitan semata-mata sebagai alasan untuk berhenti. Saya ingin menjadikannya sebagai bahan refleksi untuk memperkuat perencanaan, memperbaiki cara bekerja, dan mengembangkan kemampuan menghadapi persoalan.

Tentu, semangat saja tidak cukup. Perjuangan pendidikan membutuhkan strategi yang jelas.

Mahasiswa harus mampu mengelola waktu, membaca literatur secara sistematis, menulis secara konsisten, membangun jejaring akademik, menerima kritik, dan menjaga kesehatan fisik maupun mental.

Saya juga belajar bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan. Dalam perjalanan pendidikan, dukungan keluarga, dosen, sahabat, lembaga, dan masyarakat dapat memberikan kekuatan yang berarti.

Karena itu, setiap pencapaian perlu disertai rasa syukur dan penghargaan kepada orang-orang yang turut membantu.

Saya membawa harapan keluarga, pengalaman sebagai perantau, dan semangat dari tanah kelahiran. Namun, saya juga membawa kesadaran bahwa semua itu harus saya jawab melalui kesungguhan belajar dan kerja nyata.

Saya tidak ingin sekadar menjadi seseorang yang berhasil mencapai jenjang pendidikan tinggi pada usia muda.

Saya ingin menjadi pribadi yang mampu mempertanggungjawabkan ilmu yang diperoleh dan menggunakannya untuk membantu menyelesaikan persoalan pendidikan.

Sebab, keberhasilan pendidikan tidak hanya dapat dilihat dari tempat seseorang belajar atau gelar yang tercantum di belakang namanya.

Keberhasilan juga perlu dinilai dari kualitas pemikiran, integritas, karya, dan manfaat yang ia berikan kepada orang lain.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Pesan Untuk Anak Muda Indonesia

Kepada anak-anak muda, khususnya mereka yang berasal dari daerah dan keluarga dengan keterbatasan ekonomi, saya ingin menyampaikan bahwa jangan terlalu cepat membatasi masa depan hanya karena keadaan hari ini belum sesuai dengan harapan.

Mulailah dengan apa yang tersedia. Manfaatkan kesempatan belajar yang ada. Carilah informasi tentang beasiswa, bangun kebiasaan membaca, tingkatkan kemampuan menulis, dan jangan ragu meminta bimbingan kepada orang-orang yang lebih berpengalaman.

Jangan pula menjadikan perjalanan orang lain sebagai alasan untuk merendahkan diri sendiri. Setiap orang memiliki tantangan yang berbeda.

Yang terpenting adalah terus bergerak, mengevaluasi diri, dan menjaga komitmen terhadap tujuan yang ingin dicapai.

Jika menghadapi kegagalan, pelajari penyebabnya. Jika kesempatan belum datang, tingkatkan kesiapan.

Jika perjalanan terasa berat, susun kembali langkah yang lebih realistis. Mimpi besar membutuhkan kerja yang terukur, bukan hanya keinginan yang kuat.

Sebagai putra Gowa, saya ingin terus memegang nilai siri’ na pacce: menjaga kehormatan melalui integritas dan membangun kepedulian melalui pengabdian.

Saya ingin membuktikan bahwa semangat dari daerah dapat tumbuh menjadi kontribusi yang lebih luas bagi bangsa.

Saya juga ingin mengingatkan bahwa tidak semua anak muda harus menempuh pendidikan doktoral untuk meraih masa depan yang baik.

Ada banyak jalan pengabdian, baik melalui pendidikan, kewirausahaan, penelitian, pelayanan masyarakat, maupun profesi lainnya.

Yang perlu kita perjuangkan adalah kesempatan untuk berkembang dan keberanian untuk memberikan manfaat melalui bidang yang kita tekuni.

Bagi saya, menempuh pendidikan doktoral pada usia 25 tahun merupakan kesempatan sekaligus amanah. Saya masih harus banyak belajar, banyak membaca, dan banyak memperbaiki diri.

Perjalanan ini belum selesai. Saya berangkat dari Gowa dengan mimpi, tumbuh melalui pengalaman merantau, belajar dalam lingkungan Muhammadiyah, dan kini melanjutkan ikhtiar akademik di Universiti Muhammadiyah Malaysia.

Ke mana pun perjalanan ini membawa saya, saya ingin tetap mengingat tujuan awalnya: menjadikan pendidikan sebagai jalan untuk meningkatkan kualitas diri dan memperluas manfaat bagi sesama.

Pada akhirnya, gelar boleh menjadi pencapaian, tetapi pengabdian harus menjadi tujuan.

Usia boleh menjadi kebanggaan, tetapi integritas harus menjadi pegangan. Dan setinggi apa pun pendidikan yang kita tempuh, kita tidak boleh berhenti belajar serta melupakan masyarakat yang membutuhkan ilmu kita,

Dari Gowa, saya belajar untuk berani bermimpi. Dari perjalanan, saya belajar untuk bertahan. Dari pendidikan, saya belajar bahwa semakin tinggi ilmu yang diperoleh, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 22/10/2026 02:02
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu