Antibiotik merupakan salah satu penemuan penting dalam dunia kedokteran. Obat ini telah menyelamatkan jutaan nyawa dengan membantu mengatasi berbagai infeksi bakteri yang dahulu sulit disembuhkan. Namun, manfaat besar tersebut kini menghadapi ancaman serius: resistensi antibiotik.
Resistensi antibiotik terjadi ketika bakteri mengalami perubahan sehingga tidak lagi dapat diatasi secara efektif oleh antibiotik yang sebelumnya mampu menghambat pertumbuhan atau membunuhnya. Akibatnya, infeksi menjadi lebih sulit diobati, pilihan terapi semakin terbatas, biaya pengobatan meningkat, dan risiko komplikasi hingga kematian dapat bertambah.
Masalah ini bukan sekadar urusan dokter, apoteker, atau rumah sakit. Cara masyarakat menggunakan antibiotik turut menentukan masa depan efektivitas obat tersebut.
Bagi umat Islam, upaya mencegah resistensi antibiotik juga dapat dipandang sebagai bagian dari ikhtiar menjaga kesehatan, menjalankan amanah, dan melindungi kehidupan sesama manusia.
Resistensi antibiotika: Ancaman nyata bagi kesehatan
Berdasarkan data tahun 2021, resistensi antimikroba bakterial berkaitan dengan lebih dari 4,7 juta kematian di dunia, dengan sekitar 1,14 juta kematian secara langsung disebabkan oleh resistensi tersebut. WHO juga melaporkan bahwa sekitar satu dari enam infeksi bakteri terkonfirmasi pada 2023 resisten terhadap antibiotik.
Di Indonesia, data surveilans yang dicantumkan dalam booklet menunjukkan bahwa 70,8 persen isolat Escherichia coli dari darah resisten terhadap seftriakson, sedangkan 40,16 persen isolat Staphylococcus aureus resisten terhadap metisilin atau dikenal sebagai MRSA (methicillin-resistant Staphylococcus aureus).
Antibiotik yang dahulu efektif belum tentu selalu berhasil mengatasi infeksi yang sama pada masa mendatang. Ketika bakteri resisten menyebar, pasien mungkin membutuhkan obat alternatif yang lebih terbatas, pemeriksaan tambahan, dan perawatan yang lebih kompleks.
Mengapa penggunaan antibiotik harus bijak?
Resistensi dapat berkembang melalui berbagai mekanisme. Bakteri dapat menghasilkan enzim yang merusak antibiotik, mengubah sasaran kerja obat, mengurangi masuknya antibiotik ke dalam sel, atau mengeluarkan obat melalui mekanisme pompa efluks. Sifat resistensi tertentu juga dapat berpindah antarbakteri melalui materi genetik.
Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat mempercepat proses seleksi bakteri resisten. Ketika antibiotik digunakan tanpa indikasi, dengan dosis yang tidak sesuai, atau dalam durasi yang tidak tepat, bakteri yang resisten dapat memperoleh kesempatan lebih besar untuk bertahan dan berkembang.
Beberapa kebiasaan yang perlu dihindari antara lain:
– Mengonsumsi antibiotik untuk keluhan batuk pilek tanpa indikasi infeksi bakteri.
– Membeli dan menggunakan antibiotik tanpa pemeriksaan serta arahan tenaga kesehatan yang kompeten.
– Menggunakan sisa antibiotik dari pengobatan sebelumnya atau berbagi obat dengan orang lain.
– Mengubah dosis, menghentikan, atau memperpanjang pengobatan atas keputusan sendiri.
– Meminta antibiotik yang dianggap lebih kuat atau lebih mahal tanpa mempertimbangkan kebutuhan klinis.
Tidak semua demam disebabkan oleh bakteri, dan tidak semua penyakit infeksi membutuhkan antibiotik. Dokter perlu menentukan kemungkinan penyebab penyakit melalui penilaian gejala, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang jika diperlukan.
Apabila antibiotik diresepkan, pasien perlu menggunakannya sesuai petunjuk dokter. Jika muncul efek samping atau kondisi tidak membaik, pasien sebaiknya berkonsultasi kembali agar terapi dapat dievaluasi dengan tepat.
Rumah sakit dan laboratorium memiliki peran penting
Pengendalian resistensi antibiotika membutuhkan kolaborasi berbagai profesi. Dokter bertanggung jawab menegakkan diagnosis dan menentukan terapi berdasarkan indikasi. Apoteker klinis membantu menelaah ketepatan penggunaan obat, sedangkan perawat memastikan pemberian obat dan pelaksanaan prosedur perawatan dilakukan dengan benar.
Laboratorium mikrobiologi klinik juga berperan penting melalui pemeriksaan kultur dan uji kepekaan antibiotik. Hasil pemeriksaan membantu dokter memilih terapi yang lebih sesuai dengan bakteri penyebab infeksi.
Salah satu prinsip pengelolaan antibiotik adalah Start Smart, Then Focus: memulai terapi secara tepat, kemudian mengevaluasinya kembali. Jika pemeriksaan kultur diperlukan, spesimen idealnya diambil sebelum antibiotik dimulai, sepanjang tidak menunda terapi yang mendesak.
Evaluasi pada 48–72 jam dapat membantu menentukan apakah antibiotik perlu dilanjutkan, disesuaikan dengan hasil pemeriksaan, dialihkan ke sediaan oral, atau dihentikan apabila bukti infeksi bakteri tidak mendukung penggunaannya.
Selain itu, kebersihan tangan, penerapan kewaspadaan isolasi, dan pencegahan infeksi terkait pelayanan kesehatan merupakan langkah penting untuk menghambat penyebaran bakteri resisten di fasilitas kesehatan.
Pelayanan kesehatan yang baik bukan sekadar memberikan obat sebanyak mungkin, melainkan memastikan pasien mendapatkan pemeriksaan dan terapi yang benar sesuai kebutuhannya.
One Health: Tanggung jawab bersama lintas sektor
Resistensi antimikroba tidak hanya berkaitan dengan manusia. Penggunaan antimikroba pada hewan dan persoalan lingkungan juga perlu diperhatikan. Karena itu, pendekatan One Health menekankan keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Masyarakat dapat berkontribusi dengan menjaga kebersihan, menggunakan obat secara bertanggung jawab, mengikuti anjuran vaksinasi, serta tidak menggunakan antibiotik tanpa indikasi yang tepat.
Tenaga kesehatan perlu menjaga ketepatan diagnosis dan peresepan. Fasilitas pelayanan kesehatan harus memastikan tersedianya panduan terapi, laboratorium yang bermutu, serta evaluasi penggunaan antibiotik. Sementara itu, kerja sama lintas sektor diperlukan untuk memperkuat surveilans, edukasi, dan pencegahan penyebaran kuman resisten.
Upaya ini sejalan dengan semangat gotong royong dan kepedulian sosial yang menjadi bagian penting dari kehidupan bermasyarakat.
Menjaga antibiotik adalah ikhtiar menjaga kehidupan
Resistensi antibiotika mengingatkan kita bahwa kemajuan ilmu kedokteran perlu diimbangi dengan tanggung jawab dalam memanfaatkan hasilnya. Antibiotik merupakan sumber daya kesehatan yang sangat berharga dan tidak boleh digunakan secara sembarangan.
Dari perspektif Al-Islam, menjaga kesehatan merupakan amanah dan mencegah bahaya merupakan bagian dari tanggung jawab moral. Dari perspektif Kemuhammadiyahan, edukasi kesehatan, pelayanan profesional, pengembangan ilmu pengetahuan, dan perlindungan keselamatan masyarakat merupakan bentuk nyata dakwah yang mencerahkan.
Muhammadiyah memiliki tradisi panjang dalam mengembangkan pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kegiatan sosial. Rumah sakit, klinik, perguruan tinggi, serta berbagai amal usaha Muhammadiyah memiliki peluang strategis untuk menjadi bagian dari gerakan pengendalian resistensi antimikroba.
Rumah sakit Muhammadiyah juga dapat memperkuat Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA), mengembangkan surveilans pola kuman dan kepekaan antibiotik, serta meningkatkan kepatuhan terhadap Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI).






0 Tanggapan
Empty Comments