Di sisi lain, masyarakat pun perlu menjaga agar kegelisahan tidak berubah menjadi kebencian tanpa arah.
Kritik perlu disertai tanggung jawab. Perjuangan memperbaiki keadaan harus tetap menghormati keselamatan manusia dan martabat sesama.
Kita butuh keberanian untuk bersuara. Juga kebijaksanaan untuk mendengar.
Islam tidak mengajarkan kita berputus asa. Tetapi harapan bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan.
Berdoa penting. Berikhtiar juga penting. Memohon petunjuk kepada Allah tidak membebaskan manusia dari kewajiban memperbaiki keadaan.
Bahkan, doa semestinya menguatkan langkah untuk bekerja lebih sungguh-sungguh.
Begitu pula bagi mereka yang memegang kekuasaan. Meminta rakyat bersabar tidak boleh menggantikan kewajiban untuk bekerja.
Mengajak masyarakat bersyukur tidak boleh menjadi cara untuk menghindari kritik. Syukur dan kritik tidak harus saling meniadakan.
Kita bisa bersyukur atas nikmat yang masih ada, sekaligus mengingatkan bahwa masih ada persoalan yang perlu diselesaikan. Kita bisa menjaga optimisme, sekaligus menuntut agar amanah ditunaikan.
Sebab, mencintai bangsa bukan berarti selalu memuji pemerintah. Terkadang, cinta justru membuat seseorang tidak tega melihat keadaan dibiarkan memburuk.
Di Bundaran HI, spanduk itu akhirnya diturunkan. Aparat bersiaga. Para aktivis diminta turun demi keselamatan mereka.
Monumen itu mungkin akan kembali seperti biasa. Lalu lintas kembali bergerak. Orang-orang kembali menjalani urusannya masing-masing.
Namun, pertanyaan di spanduk itu tidak ikut turun bersama kainnya.
Apa yang sedang dikerjakan pemerintah ketika bencana terus membebani warga? Apa yang dilakukan ketika biaya hidup semakin menghimpit?
Seberapa jauh kebijakan negara sungguh-sungguh melindungi mereka yang paling rentan?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak cukup dijawab dengan penertiban. Tidak pula dengan penjelasan yang terdengar meyakinkan. Ia membutuhkan jawaban dalam kehidupan nyata.
Kesabaran rakyat bukan cek kosong yang bisa terus dicairkan. Dan suara yang hari ini masih berupa protes, jika terus diabaikan, bisa berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya: hilangnya kepercayaan.
Pada ujungnya, yang perlu diselamatkan bukan hanya monumen, bukan pula sekadar ketertiban pagi itu.
Yang perlu dijaga adalah amanah, keadilan, dan kepercayaan antara negara dan warganya.
Sebab, kekuasaan akan berlalu. Jabatan akan berakhir. Tetapi pertanggungjawaban atas amanah tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan kursinya.
Dan jangan sampai orang-orang yang selama ini memilih diam akhirnya merasa tidak ada lagi gunanya berharap.
Sebelum itu terjadi, masih ada waktu untuk mendengar. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki. Masih ada amanah yang harus ditunaikan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments